Program ini mulai memperluas materi dari sekadar membangun bisnis sekolah dengan memasukkan pemanfaatan artificial intelligence (AI), literasi finansial, dan potensi ekonomi lokal.
ZEP dijalankan oleh Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia. Pola belajarnya dibuat berbasis pengalaman langsung melalui konsep Student Company, sehingga siswa tidak hanya mempelajari teori bisnis, tetapi ikut menjalankan prosesnya dari awal.
Pendekatan tersebut menjadi relevan ketika AI mulai masuk ke berbagai tahapan kerja. Siswa dalam program ini diperkenalkan pada penggunaan AI untuk mengembangkan ide bisnis, melakukan riset pasar sederhana, menyusun materi promosi, hingga mencari peluang usaha baru.
Pada saat yang sama, penggunaan teknologi tetap diarahkan secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Belajar Bisnis dari Ide hingga Pengelolaan Keuangan
Student Company memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami rantai bisnis secara lebih utuh. Mereka diajak mengidentifikasi kebutuhan pasar, mengembangkan produk dan merek, lalu mempelajari pengelolaan operasional serta keuangan usaha.Program tahun ini juga membawa tema kearifan lokal. Siswa didorong menggali budaya, sumber daya, dan potensi ekonomi di lingkungan sekitar sebagai inspirasi produk. Pendekatan tersebut membuat bisnis yang dibuat di sekolah tidak hanya menjadi latihan menjual barang, tetapi juga mengenalkan cara membaca peluang dari kondisi di sekitar mereka.
Edhi Tjahja Negara, Country Manager Zurich Indonesia, mengatakan perubahan teknologi dan perilaku konsumen membuat kemampuan membaca peluang menjadi semakin penting.
“Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membekali generasi muda dengan pengalaman nyata untuk membaca peluang, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan finansial yang tepat, sehingga mereka tumbuh lebih percaya diri, adaptif, dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya.
AI Dipakai sebagai Alat, Bukan Pengganti Kreativitas
Materi AI dalam ZEP tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Siswa juga dibekali pemahaman agar pemanfaatannya tidak menghilangkan unsur kreativitas dan integritas manusia.Adriana Poglia, Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, mengatakan akses terhadap pengetahuan dan pengalaman teknologi perlu diperluas agar generasi muda memiliki kesempatan yang lebih setara.
“Transformasi teknologi dan perkembangan lanskap ekonomi membuka banyak peluang baru bagi generasi muda. Melalui ZEP, kami berupaya memberikan mereka akses yang setara terhadap pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat membantu mereka memanfaatkan peluang tersebut serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan masyarakat,” tuturnya.
Proses pembelajaran juga melibatkan guru, mentor dari Prestasi Junior Indonesia, serta karyawan dan agen Zurich Indonesia. Mereka memberikan perspektif mengenai dunia usaha, literasi finansial, dan dunia kerja.
Bisnis pelajar terbaik kemudian berpeluang mengikuti kompetisi di tingkat regional dan nasional, bahkan melanjutkan pengalaman ke kompetisi kewirausahaan pelajar internasional.
Target ZEP Tembus 16.975 Siswa hingga 2028
Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, menilai pengalaman menjalankan usaha secara langsung dapat membantu siswa mengubah kreativitas menjadi peluang.“Pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai. Proses ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan yang dibutuhkan untuk mampu beradaptasi dan menciptakan peluang di tengah berbagai perubahan,” katanya.
Fase kedua ZEP ditargetkan menjangkau 16.975 siswa hingga 2028. Skema tersebut menunjukkan perubahan cara pendidikan kewirausahaan diberikan.
Siswa tidak hanya disiapkan untuk memahami cara membuat bisnis, tetapi juga berlatih menggunakan teknologi, membaca kebutuhan pasar, mengelola uang, dan mengambil keputusan.
Kombinasi pengalaman bisnis langsung dan pemahaman AI menjadi bekal agar mereka tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk menciptakan peluang.