Ilustrasi: Kaspersky
Ilustrasi: Kaspersky

57% Orang Indonesia Simpan Dokumen Pribadi di HP, Ini Caranya Biar Aman

Mohamad Mamduh • 28 Juli 2026 12:13
Ringkasnya gini..
  • Ketergantungan orang Indonesia terhadap ponsel tidak hanya terbatas pada dokumen pribadi.
  • Angka tersebut mencerminkan pergeseran besar dalam cara masyarakat mengakses internet dan mengelola produktivitas sehari-hari.
  • Para ahli dari Kaspersky membagikan tiga langkah keselamatan utama yang wajib diterapkan oleh pengguna.
Jakarta: Ponsel pintar kini telah bertransformasi menjadi pusat penyimpanan kehidupan digital masyarakat Indonesia. Sebuah survei terbaru yang dirilis oleh perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, mengungkapkan fakta menarik sekaligus mengkhawatirkan.
 
Sebanyak 57% masyarakat Indonesia terbiasa menyimpan dokumen pribadi yang sangat sensitif, seperti KTP, paspor, dokumen asuransi, hingga tiket perjalanan, langsung di dalam ponsel pintar mereka.
 
Angka tersebut mencerminkan pergeseran besar dalam cara masyarakat mengakses internet dan mengelola produktivitas sehari-hari. Berdasarkan studi yang dilakukan pada Mar 2026 terhadap 7.200 responden di 18 negara, termasuk Indonesia, ponsel pintar kini menjadi perangkat utama untuk berselancar di dunia maya. Di Indonesia sendiri, sebanyak 77% responden mengandalkan ponsel pintar sebagai gerbang utama online, melampaui rata-rata wilayah Asia Pasifik yang berada di angka 72%.

Ketergantungan orang Indonesia terhadap ponsel tidak hanya terbatas pada dokumen pribadi. Dibandingkan dengan rata-rata pengguna di Asia Pasifik, masyarakat Indonesia juga lebih cenderung menyimpan data penting lainnya di perangkat seluler mereka. Data tersebut meliputi email pekerjaan (57%), kata sandi dan detail login akun (47%), catatan serta pengingat harian (45%), hingga informasi belanja seperti riwayat pembelian dan alamat pengiriman (44%).
 
Meskipun volume dan sensitivitas data yang disimpan melonjak tajam, para pakar keamanan siber memperingatkan adanya kesenjangan besar dalam hal perlindungan. Kesadaran pengguna untuk mengamankan ponsel pintar dinilai belum sejalan dengan kebiasaan mereka menimbun data penting.
 
"Sekarang ponsel pintar kita berfungsi sebagai asisten lengkap yang menyentuh setiap aspek kehidupan kita. Pertanyaan utamanya bukan lagi 'apa yang kita simpan,' tetapi 'bagaimana kita melindunginya,'" ujar Anton Kivva, pakar keamanan siber di Kaspersky. Menurutnya, perlindungan siber harus menjadi bagian integral dari perangkat, sama seperti pentingnya data yang dibawa.
 
Senada dengan hal tersebut, Adrian Hia, Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik menekankan bahwa dampak dari peretasan atau kehilangan ponsel kini jauh lebih fatal. "Keamanan siber seluler saat ini bukan lagi hanya tentang melindungi ponsel; ini juga tentang melindungi kehidupan digital yang kita bawa di saku kita setiap hari," tegas Adrian.
 
Untuk mengantisipasi ancaman digital dan risiko kehilangan fisik, para ahli dari Kaspersky membagikan tiga langkah keselamatan utama yang wajib diterapkan oleh pengguna:
 
1. Jangan Jadikan Ponsel Penyimpanan Tunggal: Hindari menyimpan data sensitif seperti kata sandi atau identitas hanya di satu tempat. Gunakan aplikasi pengelola kata sandi khusus yang memiliki fitur brankas rahasia terenkripsi dan sinkronisasi lintas perangkat.
 
2. Pasang Perlindungan Siber Komprehensif: Ponsel pintar membutuhkan perlindungan yang sama kuatnya dengan komputer PC. Gunakan solusi keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu memindai ancaman aplikasi dan memblokir tautan phishing secara real-time.
 
3. Siapkan Rencana Cadangan (Plan B): Aktifkan fitur pelacak lokasi bawaan untuk menghapus data dari jarak jauh jika ponsel hilang. Selain itu, lakukan pencadangan otomatis secara berkala untuk foto, dokumen, dan kontak, serta atur sistem penguncian layar otomatis secara instan demi menjaga keamanan fisik perangkat.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA