Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa pengembangan satelit modern merupakan proses panjang yang dimulai dari penentuan misi hingga peluncuran. Setiap satelit dirancang sesuai tujuan spesifik, seperti komunikasi, pengamatan Bumi, cuaca, navigasi, maupun riset sains. Tahap awal ini menjadi fondasi bagi desain dan teknologi yang dipilih.
Setelah misi ditetapkan, tim periset menyusun desain konseptual dengan mempertimbangkan ukuran, berat, kebutuhan daya, sistem komunikasi, serta muatan utama (payload). Payload adalah komponen inti yang menjalankan fungsi misi, misalnya kamera untuk satelit penginderaan jauh. Proses berikutnya adalah manufaktur dan integrasi, di mana seluruh komponen satelit dirakit di ruang bersih agar bebas kontaminan.
Tahap krusial lain adalah pengujian. Satelit harus lolos serangkaian uji ekstrem, mulai dari uji getaran untuk mensimulasikan guncangan roket, uji termal vakum untuk memastikan ketahanan di suhu ekstrem ruang hampa, hingga uji kompatibilitas elektromagnetik. Semua ini dilakukan agar satelit dapat beroperasi sesuai spesifikasi ketika berada di orbit.
Setelah dinyatakan siap, satelit dikirim ke fasilitas peluncuran. Di sana dilakukan pemeriksaan ulang sebelum satelit diintegrasikan dengan roket. Peluncuran menjadi fase paling menentukan, karena satelit harus ditempatkan di orbit sesuai misi dan mulai beroperasi dengan pemantauan dari stasiun bumi.
Indonesia sendiri telah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan satelit. LAPAN-A1, A2, dan A3 menjadi tonggak penting untuk pengamatan Bumi, komunikasi radio amatir, dan pemantauan maritim. Kini BRIN tengah menyiapkan satelit terbaru, NEO-1 (Nusantara Earth Observation-1), yang akan difokuskan pada observasi Bumi, pemantauan maritim, serta riset medan magnet.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Rika Andiarti, menegaskan pentingnya keberlanjutan riset satelit bagi kemandirian bangsa. “Penguasaan teknologi satelit bukan hanya soal prestasi, tetapi juga kebutuhan strategis untuk mendukung pemantauan wilayah dan keamanan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti BRIN Agus Hidayat menambahkan bahwa NEO-1 akan menjadi langkah maju dalam pengembangan satelit observasi. "Dengan NEO-1, kita berharap Indonesia mampu menghasilkan data observasi yang lebih akurat dan mendukung berbagai sektor, mulai dari maritim hingga mitigasi bencana,” katanya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan