Laporan terbaru State of Observability 2025 dari ManageEngine mengungkap bahwa integrasi keamanan kini menjadi salah satu pendorong utama adopsi observabilitas di berbagai perusahaan dunia.
Laporan yang mensurvei lebih dari 1.240 profesional TI ini menyoroti bahwa batas antara operasi TI (ITOps) dan keamanan (SecOps) semakin kabur. Seiring dengan semakin kompleksnya lingkungan TI yang terdistribusi, organisasi menyadari bahwa alat pemantauan kinerja tradisional tidak lagi cukup. Hasilnya, postur keamanan yang lebih kuat kini menjadi salah satu dari tiga pendorong inti adopsi observabilitas, bersanding dengan visibilitas infrastruktur dan efisiensi operasional.
Secara historis, alat observabilitas digunakan untuk memastikan aplikasi berjalan lancar dan server tidak mati (downtime). Namun, data terbaru menunjukkan perubahan drastis dalam penggunaannya. Sebanyak 67,2% organisasi kini menggunakan alat observabilitas secara spesifik untuk fungsi keamanan. Angka ini menempatkan keamanan sebagai kasus penggunaan (use case) tertinggi kedua setelah pemantauan infrastruktur, bahkan melampaui pemantauan aplikasi itu sendiri.
Mengapa pergeseran ini terjadi? Berbeda dengan keamanan perimeter tradisional yang hanya menjaga pintu masuk, observabilitas keamanan melibatkan pengumpulan dan analisis log, jejak (traces), dan metrik di seluruh permukaan serangan. Pendekatan ini memungkinkan tim TI untuk mengungkap ancaman yang tersembunyi, mendeteksi pergerakan lateral (lateral movement) peretas di dalam jaringan, serta merespons insiden dengan jauh lebih cepat.
Bagi tim manajemen operasi TI (ITOM), ini berarti penggabungan intelijen kinerja dengan intelijen keamanan. Degradasi sistem tidak lagi hanya dilihat sebagai masalah teknis, tetapi juga sebagai indikator potensi serangan siber yang harus ditangani secara proaktif.
Tren ini diprediksi akan semakin menguat sepanjang tahun 2025. Ketika ditanya mengenai prioritas utama untuk 12 bulan ke depan, 47,9% responden menempatkan integrasi keamanan dengan observabilitas di urutan teratas, hanya kalah tipis dari pencapaian visibilitas full-stack.
Menariknya, fokus pada keamanan ini sangat menonjol pada organisasi yang masih berada di tahap awal adopsi observabilitas. Bagi mereka, membangun fondasi keamanan yang kuat adalah langkah pertama yang krusial sebelum melangkah ke kapabilitas yang lebih canggih seperti otomatisasi berbasis AI.
Pentingnya observabilitas sebagai aset keamanan terlihat jelas di sektor-sektor kritis. Industri layanan kesehatan (Healthcare), misalnya, menjadikan keamanan sebagai prioritas operasional maupun strategis utama mereka, bahkan melebihi ekspansi fitur lainnya.
Demikian pula dengan sektor Perbankan dan Jasa Keuangan (BFSI). Meskipun menghadapi tantangan sistem warisan (legacy), tujuan utama mereka mengadopsi observabilitas adalah untuk mempertahankan postur keamanan yang kuat di tengah lingkungan regulasi yang ketat.
Data ini menegaskan bahwa di tahun 2025, observabilitas bukan lagi sekadar alat bantu teknis, melainkan aset keamanan strategis yang vital bagi ketahanan bisnis modern.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News