Albert Chai, General Manager RoSEA Red Hat.
Albert Chai, General Manager RoSEA Red Hat.

Metode Kerja Hybrid Dorong Produktivitas

Lufthi Anggraeni • 13 Desember 2022 16:59
Jakarta: Selama pandemi Covid-19 yang dimulai pada tahun 2020 lalu, berbagai organisasi dan perusahaan mengalihkan aktivitas bekerja ke ranah online akibat regulasi yang mengharuskan pengurangan mobilitas dan aktivitas fisik guna mencegah penyebaran virus kian meluas.
 
Kini, dua tahun sejak pandemi, kondisi penyebaran virus yang semakin menurun berkat pemberian vaksin kepada masyarakat, pemerintah berangsur melonggarkan regulasi tersebut dan turut berdampak pada metode kerja yang diterapkan perusahaan kepada pegawai mereka.
 
Organisasi dan perusahaan telah mulai menerapkan metode kerja hybrid, yang tidak mengharuskan pegawai untuk hadir di kantor dan memungkinkan mereka bekerja dari rumah atau lokasi lain selama periode pelonggaran regulasi tersebut.

Setelah pandemi mereda, metode kerja hybrid atau hybrid working ini pun digadang-gadang sebagai metode kerja masa depan atau the future of work. Hal ini juga diterapkan oleh Red Hat, yang bahkan mengklaim metode kerja ini telah diterapkannya sebelum pandemi terjadi.
 
“Karena ‘open’ telah menjadi DNA kami selama 30 tahun terakhir. Kesuksesan Red Hat ini berkat kolaborasi kami dengan komunitas, mitra, dan pelanggan yang bertemu secara virtual. Ada jutaan pengembang di Red Hat yang selama 30 tahun terakhir sudah bekerja sama tanpa harus pergi ke kantor dan bertemu satu sama lain,” ujar Albert Chai, General Manager RoSEA Red Hat.
 
Chai menyebut dirinya merupakan contoh nyata dari metode kerja yang disebut future work, sebab telah menjalankan operasional dan bisnis perusahaan untuk ASEAN, kecuali Singapura, secara remote atau dari jarak jauh.
 
Ditanya soal hal baru dalam metode kerja di Red Hat, Chai menyebutkan proses keterbukaan sebagai salah satu hal baru tersebut. Teknologi lebih baik, lanjut Chai, memungkinkan Red Hat untuk melakukan digitalisasi terhadap banyak proses transaksi bisnis internal, serta kian mendukung kolaborasi dengan mitra dan pelanggan Red Hat.
 
Sementara itu, lanjut Chai, contoh hal baru yang dilakukan Red Hat pasca pandemi yaitu praktik open innovation. Praktik ini disebutnya memungkinkan Red Hat, mitra, dan pelanggan berbagi cara kolaborasi lebih lebih efektif dan efisien dari aspek manusia, proses, dan teknologi.
 
Chai turut menyebut metode kerja baru ini membuahkan sejumlah hal positif, termasuk produktivitas. Sebab, metode kerja hybrid ini memberikan pegawai fleksibilitas yang tidak mengharuskan mereka berada di kantor sehingga tidak harus menghabiskan waktu dan tenaga di perjalanan.
 
Hal positif lainnya yaitu inklusivitas, sebab memungkinkan lebih banyak pegawai perempuan berpartisipasi di tempat kerja dengan lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya akibat sejumlah alasan, seperti menjaga anak atau memiliki komitmen dengan keluarga.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA