Achmad menuturkan bila perusahaan yang tidak melakukan transformasi digital secepatnya sudah pasti akan tumbang. "Perusahaan yang tidak segera mengadopsi transformasi digital pasti akan tumbang," ujar Achmad. "Contohnya ada banyak sekali di luar sana. Jenis usaha retail adalah yang paling rentan tumbang."
Meski demikian, perusahaan hendaknya jangan sembarangan melakukan transformasi digital. Karena, teknologi yang ada saat ini sangat beragam dan jika diaplikasikan dengan sembarangan maka justru akan membuat proses bisnis menjadi semakin rumit. Menurut Achmad, kunci dari transformasi digital adalah ketika teknologi menyentuh proses bisnis sebuah perusahaan.
"Teknologi tidak ada manfaatnya bila tidak menyentuh proses bisnisnya," lanjut Achmad.
Sejauh ini, Fujitsu mengklaim telah membantu melakukan transformasi digital dari berbagai perusahaan serta instansi. Transformasi digital tersebut mengusung konsep human centric yang artinya menempatkan manusia di tengah-tengah teknologi.
Transformasi digital yang diusung oleh Fujitsu juga melibatkan berbagai layanan digitalnya, termasuk layanan cloud yang baru diperkenalkan pada bulan Oktober 2015 lalu di Indonesia. Layanan cloud Fujitsu ini menargetkan dua pengguna utama, yaitu enterprise dan pemerintah. Layanan cloud tersebut juga diklaim memiliki keunggulan dibandingkan dengan layanan lainnya.
Pertama adalah dari segi infrastruktur. Layanan cloud Fujitsu dikatakan menggunakan data center tier 3 yang telah tersertifikasi dan terletak 40 kilometer dari kota Jakarta. Selain itu, layanan ini juga didukung dengan beragam aplikasi standar industri sehingga dapat melayani kebutuhan berbagai proses bisnis di sebuah industri dengan tingkat downtime hingga 99,9 persen.
Fujitsu juga memiliki sebuah layanan berbasis cloud baru bernama Disaster Recovery as a Service. Layanan tersebut memungkinkan penggunanya untuk menyimpan berbagai data penting untuk digunakan sebagai backup bila terjadi kejadian yang tidak diinginkan.
Meski memiliki layanan dan teknologi yang tergolong lengkap, namun pihak Fujitsu mengatakan bila hal tersebut bukan berarti penyelenggaraan transformasi digital dapat dipastikan berjalan dengan baik. Menurut pihak Fujitsu, salah satu hambatan utama peyelenggaraan transformasi digital di Indonesia, terutama di pemerintahan, ada di bagian maintenance.
Seringkali sistem yang telah ada dan dijalankan berhenti di tengah jalan dikarenakan maintenance yang buruk. Misalnya, tidak ada perawatan pada peralatan pendukung yang menyebabkan sistem digital dan otomatisasi yang dibangun tidak berjalan.
"Intinya kembali ke manusianya. Itulah mengapa investasi yang paling berharga sebenarnya adalah human resource," ujar Achmad.
Untuk menanggulangi hal tersebut, pihak Fujitsu akhirnya membangun sistem digital dan otomatisasi yang minim maintenance. Salah satu yang telah berhasil diterapkan adalah sistem pengukuran muka air sungai menggunakan teknologi augmented reality di Manado.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News