Hal ini seiring dengan munculnya modus-modus kejahatan yang semakin canggih, mulai dari penyalahgunaan identitas, pemalsuan biometrik, hingga manipulasi berbasis AI atau deepfake.
Menanggapi tantangan tersebut, Privy, penyedia layanan identitas digital dan tanda tangan elektronik terdepan di Indonesia, secara resmi mengumumkan pencapaian penting. Perusahaan ini berhasil meraih sertifikasi internasional iBeta Certification ISO/IEC 30107-3 Level 2 (Presentation Attack Detection) untuk fitur Liveness Detection-nya.
Sertifikasi ini adalah pengakuan global atas kapabilitas teknologi Privy dalam mendeteksi dan mencegah potensi penipuan digital tingkat menengah hingga lanjut, sekaligus menandai peningkatan signifikan dari sertifikasi Level 1 sebelumnya.
Nitin Mathur, Chief Operation Officer (COO) Privy, menjelaskan bahwa sertifikasi ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam memenuhi standar global dan mencegah upaya penipuan yang semakin beragam. "Keamanan pengguna menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, Privy percaya bahwa verifikasi identitas merupakan touchpoint utama dalam melindungi pengguna,” ujarnya.
Teknologi Liveness Detection dikembangkan untuk memastikan bahwa proses verifikasi hanya dapat dilakukan oleh individu nyata (real presence), bukan hasil manipulasi foto, video, atau deepfake.
Dengan capaian Level 2, sistem Privy telah teruji lolos pengujian yang lebih kompleks, mencakup variasi metode pemalsuan identitas (spoofing) dengan durasi dan skenario serangan yang menyerupai kondisi lapangan.
Hingga saat ini, Privy telah membantu mencegah lebih dari 122 juta upaya fraud digital. Selain itu, Privy juga melengkapi layanannya dengan Certificate Warranty hingga Rp1 miliar sebagai perlindungan finansial bagi pengguna apabila terjadi kerugian akibat dokumen digital yang ditandatangani menggunakan Sertifikat Privy yang terbukti tidak asli. Privy telah dipercaya oleh 71 juta pengguna individu terverifikasi dan lebih dari 167.000 pengguna korporasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News