Citra satelit selama satu jam di atas Gurun Atacama utara di Chili, Oktober 2025.
Citra satelit selama satu jam di atas Gurun Atacama utara di Chili, Oktober 2025.

Ilmuwan Peringatkan Pusat Data Orbit Ancam Teleskop Bumi

Lufthi Anggraeni • 06 Juli 2026 08:40
Jakarta: Rencana pembangunan pusat data atau data center di orbit Bumi kembali memicu kekhawatiran di kalangan ilmuwan. Sejumlah peneliti memperingatkan potensi gangguan akibat pusat data orbital tersebut.
 
Mengutip Space, peneliti menyebut meningkatnya jumlah satelit yang mengelilingi Bumi, termasuk proposal pusat data orbital yang dikaitkan dengan SpaceX milik Elon Musk, berpotensi mengganggu bahkan melumpuhkan kemampuan teleskop terbesar di dunia dalam melakukan pengamatan astronomi.
 
Kekhawatiran tersebut muncul setelah astronom dari European Southern Observatory (ESO) menerbitkan hasil studi mengenai dampak pertumbuhan populasi satelit terhadap kualitas langit malam. Menurut penelitian itu, apabila jumlah satelit aktif meningkat hingga melampaui sekitar 100.000 unit, observatorium berbasis darat akan menghadapi tantangan sangat besar akibat polusi cahaya dan jejak satelit yang melintasi bidang pengamatan.

Peneliti menjelaskan bahwa satelit memengaruhi pengamatan astronomi melalui dua mekanisme utama. Pertama, permukaan satelit memantulkan sinar Matahari sehingga meningkatkan tingkat kecerahan langit malam. Kondisi ini membuat objek langit yang redup menjadi lebih sulit diamati.
 
Kedua, satelit meninggalkan garis terang atau satellite streaks pada citra yang diambil teleskop. Semakin banyak satelit yang melintas, semakin besar pula peluang gambar astronomi mengalami gangguan sehingga data ilmiah menjadi kurang akurat atau bahkan tidak dapat digunakan.
 
Menurut simulasi yang dilakukan tim ESO, peningkatan polusi cahaya juga berdampak langsung pada waktu observasi. Ketika langit menjadi lebih terang, teleskop membutuhkan waktu pencahayaan atau exposure lebih lama untuk memperoleh kualitas data yang sama.
 
Akibatnya, biaya operasional meningkat dan jumlah penelitian yang dapat dilakukan menjadi berkurang. Perhatian ilmuwan turut tertuju pada proposal SpaceX yang mengajukan pembangunan jaringan pusat data di orbit Bumi.
 
Konsep tersebut bertujuan memanfaatkan satelit sebagai infrastruktur komputasi untuk mendukung kebutuhan cloud dan kecerdasan buatan (AI). Kendati desain satelit pusat data disebut telah dioptimalkan agar pantulan cahayanya lebih kecil dibandingkan dengan satelit konvensional, peneliti menilai dampaknya tetap perlu diperhitungkan apabila jumlah satelit yang diluncurkan mencapai skala sangat besar.
 
Proposal yang diajukan bahkan mencakup peluang peluncuran hingga jutaan satelit dalam jangka panjang. Menurut peneliti ESO, keberadaan satelit yang dirancang lebih redup memang dapat mengurangi gangguan individual.
 
Namun, ketika jumlahnya terus bertambah, akumulasi polusi cahaya tetap akan memengaruhi kualitas pengamatan astronomi dari seluruh dunia. Berbeda dengan polusi cahaya dari kota yang masih dapat dihindari dengan membangun observatorium di lokasi terpencil, gangguan dari satelit tidak mengenal batas wilayah.
 
Bahkan teleskop yang berada di Gurun Atacama di Chile, Antarktika, atau kawasan terpencil lainnya tetap akan terdampak karena satelit mengorbit seluruh permukaan Bumi. Astronom menilai kondisi tersebut dapat mengurangi efektivitas fasilitas observasi modern, termasuk teleskop berukuran sangat besar yang dibangun dengan investasi miliaran dolar.
 
Ground-based telescope masih memiliki keunggulan penting dibandingkan dengan teleskop luar angkasa, terutama dari sisi ukuran cermin, biaya operasional, dan kemampuan melakukan pengamatan dalam jangka panjang.
 
Karena itu, hilangnya kualitas langit malam akan memberikan dampak besar terhadap perkembangan astronomi. Selain proyek pusat data orbit, peneliti juga menyoroti berbagai proposal konstelasi satelit lain yang berpotensi memperparah kondisi langit malam.
 
Salah satunya adalah rencana peluncuran puluhan ribu satelit pemantul cahaya Matahari yang diklaim dapat memberikan pencahayaan ke wilayah tertentu di Bumi. Menurut simulasi ESO, satelit semacam itu justru berpotensi menciptakan polusi cahaya jauh lebih besar dibandingkan dengan konstelasi satelit komunikasi biasa.
 
Atas dasar itu, komunitas astronomi internasional meminta regulator untuk melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menyetujui proyek berskala besar di orbit Bumi. Mereka menilai ruang angkasa merupakan sumber daya bersama yang dampaknya dirasakan seluruh dunia.
 
Dengan demikian, sehingga keputusan mengenai peluncuran konstelasi satelit seharusnya tidak hanya mempertimbangkan aspek komersial, tetapi juga kepentingan ilmiah dan lingkungan. Sebagai informasi, saat ini diperkirakan terdapat sekitar 14.000 satelit yang mengorbit Bumi. 
 
Jumlah tersebut masih jauh di bawah ambang batas yang diperkirakan dapat melumpuhkan astronomi berbasis darat. Namun, dengan semakin banyaknya proposal konstelasi satelit, ilmuwan menilai langkah mitigasi dan regulasi perlu segera disiapkan agar penelitian astronomi tetap dapat dilakukan secara optimal pada masa mendatang.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA