Ilustrasi.
Ilustrasi.

Peneliti di Australia Kembangkan Koneksi Internet Tercepat, 44,2 Tbps

Teknologi teknologi internet
Cahyandaru Kuncorojati • 25 Mei 2020 14:13
Jakarta: Tim penelitian di Australia yang terdiri Monash University, Swinburne University dan RMIT University berhasil menghasil rekor baru kecepatan koneksi internet yang bisa disalurkan lewat kabel fiber.
 
Ketiga universitas tersebut mampu mendongkrak kecepatan internet ini menjadi yang terkencang di dunia meskipun belum akan diterapkan di negara manapun. Dilaporkan bahwa kecepatannya berhasil menyentung hingga 44,2 Tbps (Terabit per detik).
 
Berapa kencang koneksi ini? Dikutip dari BBC, 44,2 Tbps bisa menyediakan kecepatan download untuk film resolusi UHD Bluray ukuran 100GB sebanyak 50 buah film per detik. Hasil riset ini disampaikan lewat jurnal ilmu pengetahuan bernama Nature Communications.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pencapaian lain dari hasil riset ini adalah kemampuan ini bisa disebarkan melalui serat kaber optik sepanjang lebih dari 75km hanya bermodalkan satu chip yang terintegrasi. Jadi di masa depan koneksi serat fiber optik mengalami peningkatan.
 
Baca: Teknologi WiFi 6 Sudah Bisa Dipakai Semua Perangkat
 
"Apa yang ditunjukkan oleh penelitian kami adalah kemampuan serat yang sudah kami miliki di tanah, berkat proyek NBN, untuk menjadi tulang punggung jaringan komunikasi sekarang dan di masa depan," tutur dosen sekaligus perwakilan tim penelitian di Monash University, Bill Corcoran.
 
Dijelaskan bahwa mereka menggunakan sebuah perangkat yang bernama micro-comb atau sisir mikor yang dipasang pada 80 laser kabel optik fiberdi sejumlah perangkat telekomunikasi yang tersedia.
 
Tim berharap teknologi ini ke depannya tidak hanya menyediakan internet cepat untuk kebutuhan sehar-hari namun juga kebutuhan transportasi masa depan termasuk mobil swakemudi yang membutuhkan komunikasi internet dua arah yang cepat dan stabil.
 
Menurut tim riset, teknologi ini masih awal untuk diimplementasikan lebih luas, menurutnya biaya pengembangannya masih besar. Mereka berharap seiring waktu biaya pengembangannya semakin murah sehingga bisa digunakan di berbagai belahan dunia.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif