Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bahaya Serangan Siber Atas DNS

Teknologi cyber security
Ellavie Ichlasa Amalia • 02 November 2018 17:00
Jakarta:Serangan siber semakin marak di era digital sekarang ini.
 
Menurut survei yang dilakukan oleh perusahaan riset Coleman Parkes atas permintaan Efficient IP pada 1.000 responden, sebanyak 77 persen organisasi pernah menjadi korban dari serangan siber DNS (Domain Name System).
 
Pada tahun 2017, kerugian akibat serangan siber mencapai USD1 triliun, lebih dari tiga kali lipat dari biaya untuk mengatasi bencana alam, yang hanya mencapai USD300 miliar, menurut World Economic Forum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu jenis serangan yanng kriminal siber lakukan adalah serangan DNS. Biaya rata-rata untuk mengatasi serangan DNS pada tahun ini naik 57 persen, dari USD456 ribu pada 2017 menjadi USD715 ribu pada tahun ini.
 
"Satu hal yang mengkhawatirkan, frekuensi dan konsekuensi keuangan dari serangan DNS terus naik dan perusahaan biasanya terlambat untuk mengimplementasikan solusi keamanan untuk mencegah, mendeteksi, dan mengatasi serangan siber," kata CEO EfficientIP, David Williamson.
 
Serangan DNS bisa menyebabkan berbagai kerugian bagi perusahaan, mulai dari merusak reputasi perusahaan, pencurian data konsumen, hingga pencurian properti intelektual (IP).
 
Bahaya Serangan Siber Atas DNS
 
"Serangan DNS adalah salah satu serangan yang sulit untuk dideteksi dan akibat dari serangan ini bisa sangat berbahaya, seperti kebocoran data, kebocoran IP, dan rusaknya kepercayaan konsumen," kata APAC VP Sales, Nick Itta pada Medcom.id.
 
"Selain itu, di Eropa, jika ada data pelanggan yang tercuri, denda yang dikenakan berdasarkan GDPR sangat besar."
 
GDPR adalah Regulasi Perlindungan Data Umum yang mulai diimplementasikan di Eropa pada 25 Mei 2018.
 
Pada dasarnya, GDPR memaksa perusahaan yang menyimpan dan memproses data pribadi masyarakat Uni Eropa untuk mengamankan data tersebut, misalnya dengan melakukan anonimisasi dan penggunaan pengaturan privasi terketat. Jika perusahaan gagal mengamankan data masyarakat Eropa, mereka bisa dikenakan denda.
 
"Serangan DNS sangat sulit dilacak, terutama dalam perusahaan yang mengatur data dalam jumlah banyak, seperti Telkom Indonesia," kata Itta. Dia menjelaskan, salah satu alasan mengapa serangn DNS sulit dilacak adalah karena serangan bisa disamarkan menyerupai trafik biasa.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif