Bahaya Serangan Siber Atas DNS
Ilustrasi.
Jakarta: Serangan siber semakin marak di era digital sekarang ini.

Menurut survei yang dilakukan oleh perusahaan riset Coleman Parkes atas permintaan Efficient IP pada 1.000 responden, sebanyak 77 persen organisasi pernah menjadi korban dari serangan siber DNS (Domain Name System). 

Pada tahun 2017, kerugian akibat serangan siber mencapai USD1 triliun, lebih dari tiga kali lipat dari biaya untuk mengatasi bencana alam, yang hanya mencapai USD300 miliar, menurut World Economic Forum.


Salah satu jenis serangan yanng kriminal siber lakukan adalah serangan DNS. Biaya rata-rata untuk mengatasi serangan DNS pada tahun ini naik 57 persen, dari USD456 ribu pada 2017 menjadi USD715 ribu pada tahun ini. 

"Satu hal yang mengkhawatirkan, frekuensi dan konsekuensi keuangan dari serangan DNS terus naik dan perusahaan biasanya terlambat untuk mengimplementasikan solusi keamanan untuk mencegah, mendeteksi, dan mengatasi serangan siber," kata CEO EfficientIP, David Williamson. 

Serangan DNS bisa menyebabkan berbagai kerugian bagi perusahaan, mulai dari merusak reputasi perusahaan, pencurian data konsumen, hingga pencurian properti intelektual (IP). 



"Serangan DNS adalah salah satu serangan yang sulit untuk dideteksi dan akibat dari serangan ini bisa sangat berbahaya, seperti kebocoran data, kebocoran IP, dan rusaknya kepercayaan konsumen," kata APAC VP Sales, Nick Itta pada Medcom.id.

"Selain itu, di Eropa, jika ada data pelanggan yang tercuri, denda yang dikenakan berdasarkan GDPR sangat besar."

GDPR adalah Regulasi Perlindungan Data Umum yang mulai diimplementasikan di Eropa pada 25 Mei 2018.

Pada dasarnya, GDPR memaksa perusahaan yang menyimpan dan memproses data pribadi masyarakat Uni Eropa untuk mengamankan data tersebut, misalnya dengan melakukan anonimisasi dan penggunaan pengaturan privasi terketat. Jika perusahaan gagal mengamankan data masyarakat Eropa, mereka bisa dikenakan denda.

"Serangan DNS sangat sulit dilacak, terutama dalam perusahaan yang mengatur data dalam jumlah banyak, seperti Telkom Indonesia," kata Itta. Dia menjelaskan, salah satu alasan mengapa serangn DNS sulit dilacak adalah karena serangan bisa disamarkan menyerupai trafik biasa. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.