Penurunan kondisi ekonomi Tiongkok dilaporkan turut berdampak pada pendapatan Samsung.
Penurunan kondisi ekonomi Tiongkok dilaporkan turut berdampak pada pendapatan Samsung.

Perlambatan di Tiongkok Turut Pengaruhi Samsung

Teknologi samsung
Lufthi Anggraeni • 07 Januari 2019 13:03
Jakarta: Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Samsung diperkirakan akan melaporkan penurunan keuntungan per kuartal perusahaannya, di laporan kuartal keempat pada tanggal 8 Januari mendatang.
 
Data dari Institutional Brokers Estimate System (IBES) menampilkan Samsung akan mengumumkan penurunan sebesar 12 persen pada keuntungan operasional jika dibandingkan tahun sebelumnya, setara dengan USD11,85 miliar (Rp161,2 triliun).
 
Pendapatan tersebut lebih rendah lima persen akibat pendistribusian chip memori yang berkurang. Serupa Apple, penurunan pendapatan operasional Samsung juga diperkirakan akibat kondisi ekonomi yang kurang baik di Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Keuntungan operasional smartphone Samsung diyakini sejumlah pihak menurun sebesar 20 persen selama kuartal pertama tersebut, jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya.
 
Samsung hanya memiliki pangsa pasar di Tiongkok sebesar satu persen, lebih rendah jika dibandingkan Apple, sembilan persen. Namun berbeda dengan Apple, dampak kondisi ini lebih terlihat pada penjualan prosesor dan chip memori ke produsen smartphone Tiongkok yang mengalami penurunan.
 
Kedua komponen tersebut berkontribusi sebesar 75 persen dari penghasilan Samsung dan 38 persen dari pendapatannya.
 
Penurunan bisnis chipset Samsung ini diperkirakan akan menurunkan angka keuntungan operasional perusahaan di divisi tersebut, sebesar 3,7 persen, selama kuartal fiskal keempat, setara dengan USD9,4 miliar (Rp131,8 triliun).
 
Pendistribusian chip memori Samsung diperkirakan mengalami penurunan sebesar 10 persen selama periode tiga bulan tersebut. Sebagai informasi, kondisi ekonomi Tiongkok merupakan dampak dari perselisihan perdagangan dengan Amerika Serikat.
 
Sejumlah produk yang diekspor dari Tiongkok dikenakan pajak cukup tinggi, sehingga berdampak pada peningkatan harga jual di Amerika Serikat dan meredam permintaan untuk produk tersebut.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi