CEO dan Pendiri Kaspersky, Eugene Kaspersky. (Cahyandaru Kuncorojati/Medcom.id)
CEO dan Pendiri Kaspersky, Eugene Kaspersky. (Cahyandaru Kuncorojati/Medcom.id)

Eugene Kaspersky: Dari Keamanan Siber ke Kekebalan Siber

Teknologi cyber security kaspersky
Cahyandaru Kuncorojati • 16 Agustus 2019 10:05
Cyberjaya: CEO sekaligus pendiri Kaspersky, Eugene Kaspersky melihat bahwa lansekap ancaman keamanan siber tidak akan melemah sedikitpun. Berkembangnya teknologi termasuk era Revolusi Industri 4.0 yang menuntuk otomatisasi dan implementasi Internet of Things (IoT) memberikan ancaman baru.
 
"Saat semua perangkat terhubung maka keamanan siber menjadi perhatian serius. Serangan siber yang dilancarkan bisa menjalar kemana-mana. Jadi perusahaan dituntut untuk berinvestasi pada keamanan siber apabila mereka ingin mengadopsi IoT," jelas Eugene.
 
Dia juga mengungkapkan polemik yang akan dihadapi perusahaan atau industri. Mereka dituntut untuk mengadopsi IoT dan otomatisasi di beragam elemen produksi demi keuntungan atau kelangsung bisnis dengan menerima ancaman serangan siber yang selalu siap menyerang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Apabila industri menolak mengadopsinya maka bisnis Anda akan bangkrut karena tidak bisa bersaing dengan kompetitor dan beradaptasi dengan permintaan pasar. Jadi pilihannya adalah mati atau bangkrut," ucap Eugene.
 
Eugene melontarkan ide mengenai waktunya untuk beralih dari keamanan siber (cyber security) ke kekebalan siber atau cyber immunity.
 
Eugene Kaspersky: Dari Keamanan Siber ke Kekebalan Siber
 
Dalam wawancara eksklusifdengan Eugene usai peresmian Kaspersky Transparency Center terbaru di Cyberjaya, Malaysia, dijelaskan mengenai evolusi keamanan siber ke cyber immunity. Konsep teknologi tersebut diklaim Eugene lebih pintar dan canggih.
 
"Jadi lapisan keamanan siber tidak berada di bagian terdepan atau terkahir dalam mendeteksi serangan, melainkan ada di setiap sistem. Lapisan keamanan ini akan bisa mengetahui komunikasi antar sistem," jelas Eugene. Dia mengambil contoh peretasan sebuah turbin yang kemudian dikendalikan setelah peretas menguasasi kontrol keyboard.
 
"Saat sebuah sistem tidak bertindak sebagai mana mestinya maka lapisan keamanan akan langsung mengetahui dan memutus akses antar sistem. Misalnya dari mesin atau software sistem turbin ke keyboard. Sistem keamana siber ini akan menganalisa source code atau program perintah yang berjalan, apakah benar dan tidak ada keanehan," beber Eugene.
 
Dia menjelaskan bahwa sistem keamanan sibernya hanya bersifat sebagai pelapis. Peretas dengan mudah bisa melancarkan serangan dengan mendapatkan source code miliki perusahaan penyediak teknologi dan memodifikasinya.
 
Eugene Kaspersky: Dari Keamanan Siber ke Kekebalan Siber
 
Pada kekebalan siber, lapisan keamanan tidak menjadi lapisan tambahan, melainkan tertanam langsung di sistem. Di sini Eugene memperkenalkan platform bernama Kaspersky OS yang bisa digunakan dalam basis pengembangan software untuk kebutuhan setiap industri.
 
"Makanya, keamanan siber di industri jadi area baru selain consumer dan enterprise. Keamanan siber bukan lagi jadi area ahli kemanan siber tapi juga ahli teknologi industri beragam area. Kami masih banyak membutuhkan murid baru di bidang ini," ungkap Eugene.
 
Dampak lain yang diciptakan dari kekebalan siber adalah peretas juga menjadi enggan melakukan serangan. Alasannya, langkah melakukan serangan yang sulit membuat cost of attack atau usaha yang dikerahkan peretas tidak sepadan dengan cost of damage atau daya rusak atas aksi mereka.
 
"Proses peretasan semakin sulit dan berisiko. Di pasar gelap peretas akan memilih untuk melakukan serangan yang lain karena hadiah yang diperoleh tidak sepadan dengan usahanya," ucap Eugene.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif