Google mengakui sebagian aplikasi Android mungkin tak optimal di Googlebook berbasis Intel karena perbedaan arsitektur prosesor.
Google mengakui sebagian aplikasi Android mungkin tak optimal di Googlebook berbasis Intel karena perbedaan arsitektur prosesor.

Googlebook Tak Selalu Mulus Jalankan Aplikasi Android

Lufthi Anggraeni • 06 Oktober 2026 08:29
Ringkasnya gini..
  • Google mengakui sebagian kecil aplikasi Android mungkin tidak optimal di Googlebook berbasis Intel.
  • Tiga dari lima Googlebook awal memakai chip Intel x86, sementara dua lainnya menggunakan Snapdragon berbasis Arm.
  • Google bekerja sama dengan pengembang, Intel, dan Qualcomm untuk meningkatkan kompatibilitas aplikasi.
Jakarta: Googlebook resmi tersedia di pasaran dengan membawa konsep laptop baru yang menggabungkan fondasi Android dan teknologi desktop dari ChromeOS. Namun, peluncurannya turut mengungkap persoalan kompatibilitas aplikasi Android yang sebelumnya belum dijelaskan secara terbuka oleh Google.

Mengutip Digital Trends, Google sebelumnya mempromosikan Googlebook sebagai perangkat yang menawarkan akses ke jutaan aplikasi Android melalui Google Play. Bahkan, dalam materi promosinya, Google menyebut pengguna dapat mengakses aplikasi favorit sekaligus mendapatkan integrasi erat dengan smartphone Android.

Saat perangkat mulai tersedia, Google mengakui bahwa sebagian kecil aplikasi Android mungkin tidak bekerja secara optimal pada model Googlebook tertentu. Persoalan terutama berkaitan dengan perangkat yang menggunakan prosesor Intel berbasis arsitektur x86.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tiga dari lima model Googlebook yang tersedia saat peluncuran menggunakan chip Intel. Sementara itu, dua model lainnya menggunakan Snapdragon dari Qualcomm yang berbasis arsitektur Arm.
 
Using-the-HP-Googlebook-Hands-On-First-Impressions
 

Kompatibilitas Aplikasi Android Jadi Tantangan

Menurut Google, sebagian besar aplikasi Android dapat berjalan dengan baik di Googlebook berbasis Intel maupun Qualcomm sejak pertama kali digunakan. Namun, Google mengakui terdapat sejumlah kecil aplikasi rumit dan game yang membutuhkan penyesuaian tambahan dari pengembang agar dapat memberikan performa optimal pada perangkat berbasis Intel.

Masalah tersebut berkaitan dengan perbedaan arsitektur prosesor. Sebagian besar aplikasi Android pada awalnya dikembangkan dengan mempertimbangkan arsitektur Arm yang banyak digunakan smartphone dan tablet Android. Sementara itu, sejumlah Googlebook menggunakan prosesor Intel dengan arsitektur x86.

Google mengatakan sedang bekerja sama dengan pengembang aplikasi, Intel, dan Qualcomm untuk mengoptimalkan performa serta memperluas kompatibilitas aplikasi di seluruh perangkat Googlebook. Namun, perusahaan belum memberikan daftar aplikasi tertentu yang berpotensi mengalami masalah.

Situasi ini menjadi penting karena kompatibilitas aplikasi merupakan salah satu daya tarik utama Googlebook. Google tidak sekadar memosisikan perangkat tersebut sebagai laptop biasa, tetapi sebagai perangkat yang menghubungkan pengalaman Android dengan lingkungan desktop.

Dalam pengumuman resminya, Google menyatakan Googlebook menghadirkan jutaan aplikasi Android, dengan banyak di antaranya telah dioptimalkan untuk layar berukuran besar serta penggunaan mouse dan keyboard. 

Perusahaan juga menawarkan berbagai aplikasi desktop, termasuk Adobe Photoshop, Adobe Lightroom, dan CapCut. Masalah kompatibilitas pada sebagian aplikasi tidak berarti seluruh ekosistem Android bermasalah di Googlebook. 

Google menegaskan mayoritas aplikasi dapat berjalan secara normal. Namun, ketidakpastian mengenai aplikasi tertentu dapat menjadi pertimbangan bagi konsumen yang membeli perangkat dengan ekspektasi bahwa seluruh aplikasi Android akan memberikan pengalaman serupa.

Janji Akses Play Store Mulai Dipertanyakan

Persoalan tersebut semakin menarik perhatian karena pernyataan Google mengenai dukungan aplikasi Android sebelumnya terdengar lebih menyeluruh. Google pernah menekankan bahwa Googlebook memberikan akses ke seluruh pustaka aplikasi di Google Play. 

Di sisi lain, perusahaan juga menjelaskan bahwa Play Store menyediakan bagian khusus untuk aplikasi yang telah dioptimalkan untuk Googlebook, sementara aplikasi yang belum dioptimalkan tetap dapat diunduh.

Perbedaan antara kedua penjelasan tersebut menjadi lebih signifikan setelah Google mengakui adanya aplikasi yang mungkin membutuhkan optimasi tambahan pada model berbasis Intel. Dengan kata lain, akses terhadap aplikasi tidak selalu berarti pengalaman penggunaan yang identik pada setiap perangkat Googlebook.

Hal tersebut juga menunjukkan tantangan yang muncul ketika Google mencoba menyatukan ekosistem aplikasi Android dengan hardware laptop yang menggunakan konfigurasi prosesor berbeda.

Googlebook dirancang sebagai kategori laptop baru. Google menggabungkan teknologi Android dengan fondasi desktop dari ChromeOS dan menjadikannya perangkat pendamping bagi smartphone Android.

Selain menjalankan aplikasi secara langsung, Googlebook memiliki fitur Cast My Apps yang memungkinkan pengguna menggunakan aplikasi dari smartphone Android melalui jendela di laptop. Fitur tersebut dapat digunakan untuk aktivitas seperti mengakses aplikasi pesan atau layanan pemesanan tanpa harus berpindah perangkat.

Dengan pendekatan tersebut, Google sebenarnya memiliki dua cara menghadirkan pengalaman aplikasi Android di Googlebook. Aplikasi dapat dijalankan secara native di laptop atau ditampilkan melalui smartphone menggunakan fitur integrasi antarkedua perangkat.
 

Perbedaan Intel dan Snapdragon

Dari lima Googlebook pertama yang dipasarkan, Acer, ASUS, dan Lenovo menggunakan prosesor Intel. Dell dan HP memilih platform Snapdragon berbasis Arm. Perbedaan tersebut berpotensi membuat pengalaman aplikasi Android di antara model Googlebook tidak sepenuhnya sama.

Aplikasi Android yang dikembangkan untuk Arm dapat membutuhkan lapisan kompatibilitas atau optimasi tambahan ketika dijalankan pada perangkat x86. Aplikasi sederhana mungkin tidak mengalami masalah berarti, tetapi aplikasi rumit atau game dapat lebih sensitif terhadap perbedaan arsitektur dan performa.

Google belum mengungkapkan berapa banyak aplikasi yang terdampak ataupun aplikasi yang membutuhkan optimasi. Karena itu, pengguna belum dapat menentukan secara pasti aplikasi tertentu akan mengalami penurunan performa pada Googlebook berbasis Intel.

Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi Google dalam menjaga konsistensi pengalaman pengguna. Salah satu keunggulan ekosistem perangkat Apple, misalnya, adalah kontrol lebih ketat terhadap kombinasi hardware dan software. 

Googlebook justru menggunakan pendekatan yang melibatkan beberapa produsen laptop dan dua platform prosesor berbeda.

Googlebook Tetap Mengandalkan Integrasi Android

Terlepas dari persoalan kompatibilitas, Googlebook tetap menawarkan sejumlah fitur yang dirancang untuk memperkuat hubungan antara laptop dan smartphone Android. Saat pengguna masuk ke Googlebook, sejumlah data dari smartphone seperti pengaturan perangkat, kata sandi tersimpan, jaringan Wi-Fi, dan pesan dapat dibawa ke laptop. 

Google juga menyediakan fitur Continue On untuk melanjutkan aktivitas dari smartphone ke laptop, serta Files untuk mengakses file dan foto dari smartphone. Googlebook juga mengandalkan Gemini sebagai bagian penting dari pengalaman perangkat. 

Google menempatkan berbagai kemampuan berbasis AI seperti Magic Pointer dan Create My Widget sebagai fitur utama untuk membantu pengguna menjalankan aktivitas di desktop. Dari sisi hardware, Googlebook hadir sebagai laptop premium dengan harga awal USD899 (Rp16,1 juta). 

Perangkat tersedia dari sejumlah produsen, termasuk Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo. Google menyebut model-model tersebut menggunakan material premium, layar hingga 2,8K OLED, serta prosesor Intel dan Qualcomm dengan NPU untuk pemrosesan AI di perangkat.

Dengan demikian, persoalan aplikasi Android belum tentu mengubah keseluruhan proposisi Googlebook. Namun, pengakuan Google mengenai keterbatasan pada sebagian aplikasi menunjukkan bahwa transisi dari ekosistem Android smartphone ke laptop tidak sesederhana menyediakan akses ke Google Play.

Bagi konsumen, perbedaan prosesor kini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan sebelum memilih model Googlebook. Sementara bagi Google dan pengembang, tantangan berikutnya adalah memastikan sebanyak mungkin aplikasi Android memberikan pengalaman konsisten di perangkat berbasis Intel maupun Qualcomm.

Google menyatakan akan terus bekerja sama dengan pengembang, Intel, dan Qualcomm untuk meningkatkan kompatibilitas. Seiring semakin banyaknya aplikasi yang dioptimalkan, pengalaman tersebut berpotensi menjadi lebih konsisten. 

Namun untuk saat ini, klaim bahwa Googlebook dapat menghadirkan seluruh ekosistem aplikasi Android belum sepenuhnya berarti setiap aplikasi akan berjalan dengan performa optimal di semua model.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA