Program yang berlangsung selama tiga bulan, mulai bulan Oktober hingga Desember 2026, ini dijalankan bersama ICT Watch dan Keluarga Kita, dengan berkolaborasi bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Program tersebut sekaligus memperkenalkan fitur kontrol orang tua opsional terbaru di WhatsApp. Fitur ini memungkinkan orang tua mengelola pengaturan dan batasan tertentu pada akun WhatsApp remaja tanpa harus mengakses atau membaca percakapan pribadi mereka.
Program ini diawali di Jakarta dengan melibatkan 100 orang tua, sedangkan pelatihan selanjutnya akan membekali lebih banyak penggerak komunitas lokal di Padang dan Cirebon untuk menjangkau 2.100 orang tua di ketiga kota tersebut.
Selain pelatihan secara langsung, penyelenggara akan mendistribusikan perangkat pembelajaran mengenai keamanan digital melalui kanal komunitas mitra. Inisiatif ini ditargetkan menjangkau sekitar 179.000 orang tua hingga bulan Desember 2026.

WhatsApp Perkenalkan Fitur Kontrol Orang Tua untuk Remaja
Fitur kontrol orang tua terbaru di WhatsApp dirancang untuk membantu keluarga mengatur penggunaan aplikasi oleh remaja tanpa mengorbankan privasi percakapan pribadi. Fitur tersebut bersifat opsional dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga.Melalui fitur ini, orang tua dapat mengatur privasi, termasuk menentukan pengguna yang boleh menambahkan akun remaja ke dalam grup. Orang tua juga dapat menerima notifikasi aktivitas grup dan Saluran WhatsApp yang diikuti remaja.
Pengaturan lainnya mencakup pemilihan Saluran yang dapat diikuti remaja, penentuan remaja diperbolehkan membuat Saluran sendiri, serta pengaturan visibilitas Status. Fitur tersebut juga mencakup pembatasan interaksi dengan Meta AI.
WhatsApp menegaskan bahwa pesan pribadi tetap dilindungi dengan enkripsi end-to-end secara default. Dengan mekanisme ini, hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca isi pesan, sehingga WhatsApp sendiri tidak dapat mengakses isi percakapan pribadi tersebut.
VP Business Operations and External Affairs WhatsApp Victoria Grand mengatakan bahwa orang tua ingin tetap dekat dengan anak remaja tanpa menghilangkan hak privasi mereka. Grand menyebut fitur kontrol ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dan tersedia bagi keluarga di Indonesia dan di negara lainnya.
Grand juga menambahkan bahwa pengenalan fitur perlu disertai edukasi agar orang tua mengetahui keberadaan fitur tersebut dan memahami cara menggunakannya. Karena itu, WhatsApp menjalankan program pelatihan bersama mitra yang telah dipercaya oleh orang tua di Indonesia.
Modul Edukasi Bahas Interaksi hingga Kesehatan Mental
Dalam program ini, Meta, WhatsApp, ICT Watch, Keluarga Kita, dan Komdigi mengembangkan perangkat pembelajaran atau parental learning kit. Materi tersebut terdiri atas modul, buku saku, video edukasi, dan dua permainan edukatif.Perangkat pembelajaran membahas empat aspek yang menjadi perhatian orang tua dalam mendampingi anak di dunia digital, yakni interaksi, konten, kecanduan, dan kesehatan mental. Materi dirancang untuk membantu orang tua memahami tantangan penggunaan teknologi sekaligus memberikan panduan praktis dalam mendampingi remaja.
Program ini juga mencakup pelatihan bagi pelatih atau Training of Trainers (ToT), serta sesi pendampingan lanjutan yang dipandu oleh Parent Champions, yaitu orang tua penggerak. Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menilai bahwa fitur keamanan akan lebih efektif saat orang dewasa memahami cara menggunakannya dan mampu membangun komunikasi yang baik dengan anak.
Menurut Indriyatno, materi pelatihan disusun dengan menitikberatkan pada praktik, bukan hanya teori. Peserta tidak sekadar mendapatkan penjelasan mengenai pengaturan keamanan, tetapi juga berlatih mengaktifkan dan mengatur fitur tersebut secara langsung.
Indriyatno menegaskan bahwa keberhasilan upaya ini membutuhkan kerja sama regulator, platform digital, keluarga, dan pengasuh untuk membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya literasi digital.
Komdigi Dorong Kolaborasi untuk Melindungi Anak
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, menyampaikan bahwa pemerintah menjalankan upaya perlindungan anak di ruang digital melalui PP TUNAS. Namun, menurutnya, perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan kepatuhan terhadap aturan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem digital.Nezar menilai bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat anak perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, menjaga data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
Nezar juga menekankan pentingnya peran orang tua sebagai teman berdiskusi bagi anak, bukan hanya sebagai pengawas. Dengan komunikasi terbuka, anak diharapkan merasa nyaman untuk bercerita saat masalah di ruang digital.
Pemerintah mengapresiasi kolaborasi WhatsApp, ICT Watch, dan Keluarga Kita melalui Kelas Pengasuhan Digital. Nezar menyatakan bahwa pendampingan serta literasi digital perlu terus diperkuat agar anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga warga digital yang tangguh dan beretika.
Sementara itu, Co-Founder Keluarga Kita, Yulia Indriati, mengatakan bahwa banyak orang tua menghadapi kesulitan mengikuti perkembangan dunia digital karena tidak mengetahui langkah awal yang perlu dilakukan.
Menurut Yulia, orang tua membutuhkan pemahaman mengenai risiko digital sekaligus panduan praktis untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak. Ia juga menyoroti sifat fitur kontrol orang tua WhatsApp yang opsional dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap keluarga.
Melalui Kelas Pengasuhan Digital, WhatsApp bersama mitra berupaya memperluas akses orang tua terhadap edukasi keamanan digital dan keterampilan pendampingan remaja. Program ini diharapkan membantu keluarga memanfaatkan fitur keamanan secara tepat, sekaligus menjaga keseimbangan antara perlindungan anak, komunikasi terbuka, dan privasi di ruang digital.