Mengusung tema Delivering AI with Confidence: From Fragmented Data to Trusted Decisions, Virtus Showcase 2026 membahas tantangan perusahaan dalam mengelola data yang semakin kompleks serta memastikan kesiapan infrastruktur teknologi untuk mendukung penerapan AI secara konsisten.
Virtus mengangkat kesiapan data sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan implementasi AI di lingkungan perusahaan. Virtus mengutip prediksi Gartner bahwa hingga akhir tahun 2026, organisasi akan menghentikan 60% proyek AI yang tidak didukung oleh data siap AI atau AI-ready data.
Direktur Virtus Technology Indonesia, Christian Atmadjaja, menegaskan bahwa kualitas hasil AI tidak hanya bergantung pada model yang digunakan. Perusahaan juga perlu memperhatikan kualitas data, tata kelola, dan kesiapan lingkungan teknologi yang mendukung pemrosesan data tersebut.
“Kalau fondasinya tidak siap, kemampuan AI yang semakin tinggi belum tentu menghasilkan keputusan yang semakin baik,” ujar Christian.

Kualitas dan Tata Kelola Data Menjadi Fondasi AI
Pengelolaan data disebut perusahaan tidak sebatas menyimpan informasi., mengingat data management juga mencakup proses pengembangan, pengelolaan, perlindungan, serta pemeliharaan nilai data sepanjang siklus hidupnya.Lebih lanjut, Virtus menyebut data yang tersedia di perusahaan belum tentu memenuhi kebutuhan AI. Sejumlah tantangan yang dapat muncul meliputi data tidak lengkap, tidak konsisten, tidak lagi relevan, atau tidak cukup merepresentasikan kondisi sebenarnya.
Perusahaan juga dapat menghadapi perbedaan definisi data, ketidakjelasan sumber informasi, serta belum adanya pihak yang bertanggung jawab atas kualitas data. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pemanfaatan data untuk menghasilkan analisis dan keputusan akurat.
Untuk mengatasinya, perusahaan perlu memperhatikan kualitas data, metadata, standardisasi definisi, dan kepemilikan data. Keempat aspek tersebut membantu memastikan data dapat dipahami, dipercaya, dan digunakan sesuai kebutuhan bisnis.
Virtus juga menekankan pentingnya menilai kualitas data berdasarkan tujuan penggunaannya atau prinsip fit for purpose. Perusahaan perlu menentukan keputusan maupun proses bisnis yang hendak didukung oleh AI, jenis data yang dibutuhkan, standar kualitas yang harus dipenuhi, serta risiko yang perlu diantisipasi.
Indikator kesiapan data mencakup akurasi, kelengkapan, konsistensi, validitas, tingkat duplikasi, dan ketepatan waktu. Penilaian juga perlu mempertimbangkan keterwakilan data terhadap kondisi sebenarnya, tingkat bias yang dapat diterima, keterlacakan asal-usul data, serta akurasi dan keandalan label.
Dari perspektif bisnis, Virtus menilai bahwa penggunaan AI saja tidak cukup untuk menjadi pembeda di tengah persaingan. Kemampuan perusahaan mengelola dan memanfaatkan data yang dimiliki menjadi faktor penting untuk menghasilkan wawasan relevan dan mendukung pengambilan keputusan.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa nilai AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga kemampuan perusahaan mengolah aset data menjadi informasi yang bermanfaat bagi bisnis.
Infrastruktur dan Konektivitas Mendukung Pemanfaatan AI
Selain tata kelola data, Virtus Showcase 2026 menyoroti pentingnya infrastruktur digital dan konektivitas dalam mendukung pemanfaatan AI. Kesiapan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh data yang tersedia, tetapi juga lingkungan teknologi yang menjalankan pemrosesan data dan beban kerja AI.Director of ICT Strategy & Business Huawei Indonesia Mohamad Rosidi memaparkan visi All Intelligence, yaitu pendekatan yang menempatkan AI sebagai penggerak transformasi menuju dunia yang semakin cerdas melalui integrasi kecerdasan di seluruh rantai nilai digital.
Pendekatan tersebut mencakup infrastruktur konektivitas, komputasi, penyimpanan data, aplikasi, proses bisnis, hingga layanan. Integrasi berbagai komponen ini ditujukan untuk membantu perusahaan meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan operasional, dan mempercepat inovasi.
Dalam sesi media roundtable Virtus Showcase 2026, Rosidi menjelaskan bahwa fondasi data tepercaya, infrastruktur digital terintegrasi, dan kolaborasi ekosistem diperlukan agar perusahaan dapat mengubah data menjadi wawasan bisnis, meningkatkan efisiensi, serta menciptakan nilai di berbagai bagian rantai bisnis.
Menurut Rosidi, masa depan pemanfaatan AI bergantung pada kemampuan menghubungkan data, jaringan, komputasi, dan aplikasi dalam satu ekosistem yang terintegrasi, aman, dan tepercaya. Huawei menyatakan ingin mendukung percepatan transformasi digital Indonesia melalui pendekatan tersebut, termasuk membantu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi bisnis maupun masyarakat.
Kolaborasi Ekosistem untuk Membangun Kepercayaan terhadap AI
Melalui Virtus Showcase 2026, Virtus menegaskan bahwa pembahasan mengenai AI perlu melampaui kemampuan teknologi dalam menghasilkan keluaran. Saat AI mulai digunakan untuk mendukung proses bisnis yang semakin penting, perusahaan perlu memastikan bahwa hasilnya bertumpu pada data berkualitas dan lingkungan teknologi yang dapat diandalkan.Kesiapan data, tata kelola, infrastruktur, dan konektivitas menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membangun penerapan AI yang konsisten. Perusahaan perlu memastikan data sesuai dengan tujuan penggunaannya sekaligus memiliki dukungan teknologi yang memadai untuk memprosesnya secara aman dan efektif.
Virtus Showcase Jakarta 2026 didukung sejumlah perusahaan teknologi global, termasuk Dell Technologies, Huawei, Arista, Forcepoint, Hikvision, dan Red Hat. Melalui konferensi tahunan tersebut, Virtus mempertemukan perspektif pengelolaan data, kebutuhan bisnis, dan infrastruktur teknologi untuk membahas tantangan perusahaan dalam membangun fondasi AI yang tepercaya.