Samsung dikabarkan memangkas produksi smartphone hingga 30% pada kuartal IV 2026 akibat lonjakan harga memori dan tekanan margin keuntungan.
Samsung dikabarkan memangkas produksi smartphone hingga 30% pada kuartal IV 2026 akibat lonjakan harga memori dan tekanan margin keuntungan.

Samsung Dikabarkan Pangkas Produksi Smartphone 30%

Lufthi Anggraeni • 09 Oktober 2026 11:05
Ringkasnya gini..
  • Samsung dikabarkan meminta pemasok memangkas volume produksi smartphone sebesar 20% hingga 30% pada kuartal IV 2026.
  • Harga memori LPDDR5X 12 GB dilaporkan naik 175% secara tahunan, sehingga meningkatkan biaya produksi smartphone.
  • Produksi Samsung pada 2026 berpotensi turun ke kisaran awal 200 juta unit, tetapi perusahaan belum mengonfirmasi laporan tersebut.
Jakarta: Samsung dikabarkan berencana memangkas produksi smartphone hingga 30% pada kuartal IV 2026. Langkah ini disebut berkaitan dengan meningkatnya biaya komponen, khususnya memori, yang menekan margin keuntungan bisnis smartphone. 

Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu menyesuaikan jumlah perangkat yang diproduksi agar biaya operasional tetap terkendali. Laporan ini pertama kali mencuat melalui media Korea Selatan, MoneyToday, yang menyebut divisi Mobile eXperience (MX) Samsung telah meminta para pemasok mengurangi volume pasokan produk sebesar 20% hingga 30%. 

Meski demikian, Samsung belum mengonfirmasi secara resmi rencana pemangkasan produksi tersebut. Karena itu, angka dan proyeksi produksi yang beredar perlu dipahami sebagai informasi berdasarkan laporan media, bukan pengumuman resmi perusahaan.
 
RAM-memory-chips
 

Lonjakan Harga Memori Tekan Margin Keuntungan

Salah satu faktor utama di balik kabar pengurangan produksi adalah kenaikan harga komponen memori. Permintaan memori dari industri kecerdasan buatan (AI), khususnya untuk pusat data, meningkat tajam. Situasi ini turut memengaruhi ketersediaan dan harga komponen yang digunakan pada perangkat konsumen, termasuk smartphone.

Mengutip laporan MoneyToday, harga kontrak DRAM berdaya rendah LPDDR5X untuk smartphone dengan kapasitas 12 GB pada kuartal II 2026 mencapai sekitar USD145 (Rp2,59 juta) hingga USD146 (Rp2,61 juta). Angka tersebut meningkat 175% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga memori smartphone juga diperkirakan kembali naik pada kuartal III 2026. Laporan tersebut menyebut kenaikannya berpotensi mencapai sekitar 20% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, dengan harga hingga USD180 (Rp3,2 juta) untuk konfigurasi yang sama.

Kenaikan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi secara signifikan. Memori merupakan salah satu komponen penting dalam smartphone, sehingga perubahan harganya dapat memengaruhi biaya pembuatan berbagai kelas perangkat, dari model terjangkau hingga produk premium.

Produsen menghadapi pilihan sulit ketika biaya komponen meningkat. Mereka dapat menyerap kenaikan biaya dan menerima margin keuntungan lebih kecil, menaikkan harga jual untuk menjaga profitabilitas, atau menyesuaikan volume produksi. Namun, kenaikan harga jual juga berisiko mengurangi minat konsumen, terutama di segmen pasar yang sensitif terhadap harga.

Dalam konteks ini, pemangkasan produksi menjadi salah satu langkah yang mungkin ditempuh untuk mengurangi tekanan terhadap keuntungan. Strategi tersebut juga dapat membantu perusahaan menyesuaikan pasokan dengan perkiraan permintaan pasar.

Target Produksi Samsung Berpotensi Berubah

Sebelumnya Samsung diperkirakan dapat memproduksi hingga 270 juta smartphone sepanjang tahun 2026. Perkiraan itu didukung oleh kinerja produk baru, termasuk perangkat dari lini Galaxy Z Fold8. Namun, apabila pengurangan produksi pada kuartal IV berlangsung sesuai laporan, total produksi smartphone Samsung sepanjang tahun ini berpotensi turun ke kisaran awal 200 juta unit. 

Dengan demikian, realisasi produksi tahunan Samsung dapat berada jauh di bawah perkiraan awal. Besaran pemangkasan pada kuartal IV perlu dibedakan dari perubahan produksi sepanjang tahun. Angka 20% hingga 30% merujuk pada pengurangan volume produksi yang dilaporkan untuk periode bulan Oktober hingga Desember 2026, bukan berarti produksi Samsung sepanjang tahun otomatis turun sebesar persentase yang sama.

Data dari perusahaan riset pasar IDC menunjukkan volume pengiriman smartphone Samsung mencapai 62,4 juta unit pada kuartal I 2026 dan 62,7 juta unit pada kuartal II 2026. IDC juga memperkirakan produksi sebesar 59 juta unit pada kuartal III dan 52 juta unit pada kuartal IV.

Berdasarkan estimasi tersebut, produksi pada kuartal IV diproyeksikan turun sekitar 12% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Jika Samsung benar-benar memangkas produksi hingga 30% dari rencana lebih luas, penyesuaiannya akan lebih besar daripada perkiraan awal tersebut.

Meski demikian, penurunan produksi pada kuartal IV tidak sepenuhnya luar biasa. Periode tersebut biasanya menjadi masa ketika aktivitas produksi smartphone melambat. Konsumen juga dapat menunda pembelian menjelang peluncuran perangkat generasi baru yang biasanya berlangsung pada awal tahun.
   

Industri Smartphone Menghadapi Tekanan Biaya

Tekanan biaya memori tidak hanya berdampak pada Samsung. Kenaikan harga komponen turut menjadi tantangan bagi industri smartphone secara lebih luas, terutama produsen yang mengandalkan perangkat kelas pemula dan menengah.

Laporan Counterpoint Research mengenai pasar smartphone global pada tahun 2026 juga menyoroti tekanan dari kenaikan biaya komponen dan pelemahan permintaan. Segmen dengan harga lebih terjangkau menghadapi tantangan lebih besar karena produsen memiliki ruang lebih terbatas untuk menyerap kenaikan biaya tanpa menaikkan harga jual.

Kondisi ini dapat mendorong produsen mengevaluasi portofolio produknya. Perusahaan mungkin akan memprioritaskan model dengan margin lebih baik, mengurangi konfigurasi yang kurang menguntungkan, atau menyesuaikan jumlah perangkat yang diproduksi sesuai permintaan pasar.

Bagi Samsung, keputusan tersebut perlu mempertimbangkan keseimbangan antara volume penjualan, biaya produksi, dan keuntungan. Memproduksi smartphone dalam jumlah besar tidak selalu memberikan hasil finansial terbaik apabila biaya komponennya meningkat lebih cepat daripada pendapatan yang diperoleh.

Namun, pemangkasan produksi juga memiliki konsekuensi. Jika dilakukan terlalu agresif, perusahaan berpotensi kehilangan peluang penjualan ketika permintaan meningkat. Sebaliknya, mempertahankan produksi dalam jumlah besar di tengah biaya tinggi dapat menambah tekanan terhadap profitabilitas.

Karena itu, perkembangan harga memori, permintaan konsumen, dan keputusan resmi Samsung akan menjadi faktor penting untuk menilai arah bisnis smartphone perusahaan hingga akhir tahun 2026. Sampai ada konfirmasi langsung dari Samsung, rencana pemangkasan produksi hingga 30% masih perlu diperlakukan sebagai laporan yang belum dikonfirmasi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA