Di ajang tersebut, tim Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky menjelaskan bahwa kemunculan AI agent telah menciptakan lapisan baru dalam rantai pasok perangkat lunak atau software supply chain, sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan siber untuk mengeksploitasi celah kepercayaan.
"AI telah berkembang dengan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kini kita telah memasuki era AI agent yang mampu merencanakan tugas, menggunakan berbagai alat, memanggil API, dan bertindak secara mandiri. Namun, ketika kecepatan lebih diutamakan daripada proses verifikasi, maka kecepatan tersebut juga dapat memperbesar risiko," ujar Peneliti keamanan GReAT Kaspersky Sojun Ryu.
Menurut Ryu, pada tahap awal AI hanya berfungsi sebagai alat untuk menghasilkan, merangkum, atau menyusun konten. Selanjutnya, teknologi ini berkembang menjadi copilot yang terintegrasi ke dalam alur kerja.
Kini, AI telah memasuki fase baru melalui AI agent yang mampu menjalankan berbagai proses secara otomatis. Kendati manusia masih berperan dalam proses verifikasi, Ryu menilai tahapan tersebut semakin sering diabaikan demi meningkatkan produktivitas.
AI Palsu dan Paket Open Source Jadi Celah Serangan
Dalam riset terbarunya, GReAT menemukan sekitar 92.000 serangan berbahaya sepanjang tahun 2026 yang menyamar sebagai layanan AI. Hampir separuh atau 49% di antaranya menyamar sebagai aplikasi ChatGPT, sedangkan Claude dan Gemini masing-masing menyumbang sekitar 18%.Kaspersky menjelaskan bahwa aplikasi AI tersebut memang menjadi bagian penting dalam lingkungan pengembangan software. Namun, pelaku kejahatan siber memanfaatkan tingkat kepercayaan pengguna dengan mendistribusikan aplikasi palsu yang dirancang khusus untuk mencuri data maupun menginfeksi perangkat korban.
Selain itu, tim peneliti juga mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai software AI agent. Malware tersebut mencakup trojan, spyware, exploit, downloader, dropper, hingga backdoor yang memiliki fungsi berbahaya.
Menjalankan salah satu aplikasi palsu tersebut dapat memberikan akses kepada penyerang untuk mencuri informasi internal sekaligus membangun koneksi command-and-control (C2). Ryu juga menyoroti ancaman yang berasal dari paket open source.
Menurutnya, ekosistem open source merupakan fondasi penting dalam pengembangan AI sehingga tetap dibutuhkan oleh para pengembang. Namun, kondisi tersebut juga menjadikannya sasaran utama serangan software supply chain.
Ryu menyebut sejak pertengahan tahun lalu telah terjadi sedikitnya sepuluh kampanye serangan berskala besar yang menyasar ekosistem open source, khususnya npm dan PyPI. Beberapa di antaranya melibatkan paket populer seperti Axios maupun malware yang dapat menyebar secara mandiri seperti Shai-Hulud.
Verifikasi Tetap Penting di Tengah Tuntutan Produktivitas
Salah satu contoh yang disoroti Kaspersky adalah serangan supply chain terhadap Axios pada Maret 2026. Axios merupakan salah satu pustaka JavaScript paling populer di dunia dengan lebih dari 100 juta unduhan setiap minggu dan digunakan oleh lebih dari 170.000 paket software.Dalam insiden tersebut, pelaku berhasil mengambil alih komputer pengelola utama proyek, memperoleh akses ke akun npm resmi, lalu menerbitkan versi pustaka yang telah disisipi kode berbahaya. Kendati paket yang terinfeksi hanya tersedia selama sekitar tiga jam, ratusan perangkat sempat mengunduhnya sebelum akhirnya dihapus.
Kaspersky menilai kasus tersebut menunjukkan bahwa satu kompromi pada proyek open source yang dipercaya dapat menyebarkan ancaman secara cepat ke seluruh rantai pasok software. Oleh karena itu, organisasi perlu melakukan verifikasi terhadap setiap komponen software serta memantau perubahan yang mencurigakan.
Berdasarkan survei Kaspersky tahun sebelumnya, sebanyak 31% perusahaan pernah terdampak serangan supply chain. Temuan tersebut menunjukkan bahwa software open source telah menjadi bagian penting dalam lingkungan pengembangan perusahaan sekaligus menjadi target bernilai tinggi bagi pelaku serangan.
Untuk mengurangi risiko tanpa menghambat produktivitas, Ryu menyarankan perusahaan membangun zona pengembangan terpercaya atau trusted development zones yang memisahkan aset internal dengan konten eksternal.
Ryu juga menekankan pentingnya memperkuat lingkungan pengembangan, mengendalikan jalur masuk software, serta menjaga visibilitas terhadap setiap aktivitas di dalam sistem. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kaspersky menyediakan feed yang memantau berbagai komponen open source untuk mengidentifikasi paket yang rentan maupun berbahaya.
Tim GReAT juga melakukan audit terhadap alur kerja GitHub Actions menggunakan kemampuan Kaspersky Container Security dan menemukan lebih dari 250.000 potensi salah konfigurasi pada proses continuous integration dan continuous delivery (CI/CD).
Menutup pemaparannya, Ryu menegaskan bahwa keamanan seharusnya dimulai sejak tahap pengembangan software, bukan hanya setelah aplikasi selesai dibuat. Menurutnya, organisasi justru dapat bergerak lebih cepat ketika kepercayaan selalu disertai proses verifikasi, sehingga perlindungan dan visibilitas tidak dikorbankan demi kecepatan maupun keuntungan bisnis.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda