Bagaimana Cara Kurangi Pengguna Software Bajakan?
Tarun Sawney, Senior Director Asia Pacific BSA.
Jakarta: Ada hubungan erat antara penggunaan software bajakan dengan kemungkinan seseorang terinfeksi malware. Menurut BSA, perusahaan yang menggunakan software bajakan atau membeli PC baru dengan software bajakan memiliki kemungkinan 30 persen untuk terinfeksi malware. 

BSA adalah organisasi nirlaba yang mendorong pertumbuhan industri software. Didirikan pada 1988, BSA beroperasi di lebih dari 60 negara. Beberapa anggota BSA antara lain Adobe, Amazon Web Services, Apple, Cisco, Intel, Microsoft, dan Symantec. 

Selain itu, semakin banyak orang yang menggunakan software bajakan di sebuah negara, semakin banyak pula orang yang terinfeksi oleh malware. Sementara, biaya untuk mengatasi malware terus naik.


Kerugian yang disebabkan oleh komputer yang terinfeksi malware -- mulai dari biaya IT, penuruan produktivitas, hingga biaya untuk menangani kebocoran data -- mencapai USD10 ribu per PC. 

Berdasarkan data BSA, tingkat penggunaan software bajakan di kawasan Asia pada 2017 menurun jika dibandingkan dengan pada 2003.

Penurunan paling drastis terjadi di Tiongkok, yang berhasil menurunkan jumlah pengguna software bajakan lebih dari 20 persen. Sebaliknya, jumlah penurunan pengguna software bajakan di Indonesia justru tidak signifikan. 



Tarun Sawney, Senior Director Asia Pacific BSA menjelaskan ada beberapa alasan mengapa Tiongkok begitu sukses dalam menekan jumlah pengguna software bajakan. 

"Faktanya, beberapa tahun lalu, kebanyakan perusahaan Tiongkok tidak membayar lisensi software yang mereka gunakan," kata Tarun dalam acara Microsoft Digital Trust Asia. "Ketika itu, juga tidak ada pengadilan yang bisa menangani kasus terkait pelanggaran hak cipta dari properti intelektual (IP).

"Suatu waktu, pemerintah ingin mengatasi masalah ini. Mereka membuat pengadilan baru, yang khusus untuk menangani kasus terkait IP. Pengadilan itu ada di tiga kota besar: Beijing, Shanghai, dan Guangzhou.

"Jika seseorang mencuri paten Anda akan bisa melaporkannya. Dan selama tiga tahun, pengadilan membuat keputusan yang bagus. Maksudnya, jika Anda mencuri IP saya dan saya membawa kasus ini ke pengadilan, pengadilan akan memberikan denda yang sangat tinggi sebagai kompensasi."

Hal ini menimbulkan efek jera dan menanamkan rasa takut dalam perusahaan untuk menggunakan software bajakan.

Tarun menjelaskan, alasan mengapa pemerintah Tiongkok mendadak tertarik untuk membuat pengadilan khusus kasus IP adalah karena mereka melihat keuntungan ekonomi yang bisa didapat jika mereka memiliki hukum terkait paten dan IP yang kuat. 

"Jika mereka punya hukum IP yang kuat, orang akan berani untuk berinvestasi untuk merealisasikan ide mereka," kata Tarun.

Dia mengatakan, hal ini mengubah ekonomi Tiongkok. Jika dulu fokus mereka tidak lebih dari meniru teknologi/karya orang lain, kini ekonomi mereka berkembang berkat berbagai inovasi yang muncul. 



Terkait Indonesia, Tarun mengatakan bahwa Indonesia memiliki peraturan terkait paten yang bagus. Sayangnya, Indonesia tidak bisa menjalankan hukum ini dengan baik.

"Buat pengadilan dan unit polisi khusus untuk kasus IP, buat sistem yang efektif dan efisien sehingga setiap kasus bisa ditangani dengan cepat," kata Tarun saat ditanya apa yang bisa dilakukan untuk menekan jumlah pengguna software bajakan di Indonesia. 

Sementara itu, Jared Ragland, Senior Director Policy, APAC BSA mengatakan, salah satu cara untuk memerangi penggunaan software bajakan adalah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan software asli.

"Kenapa ada banyak orang yang menggunakan software bajakan? Karena mereka pikir, gratis lebih baik daripada berbayar," kata Jared. 

Dia merasa, jumlah pengguna software bajakan bisa dikurangi jika orang-orang dibuat sadar bahwa menggunakan software bajakan secara gratis justru akan memakan biaya lebih besar di masa depan, baik karena terkena serangan malware atau terkena denda oleh pengadilan. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.