Ilustrasi: bisnis digital
Ilustrasi: bisnis digital

Mengembangkan Layanan Digital Perlu Pendekatan Terintegrasi

Teknologi telkom e-commerce
Mohammad Mamduh • 19 Juli 2019 18:07
Jakarta: Saat ini banyak startup yang berkembang pesat menawarkan layanan digital. Di sisi lain, banyak perusahaan yang sudah mapan juga melakukan pengembangan dan melakukan investasi layanan digital.
 
Di antara perusahaan-perusahaan tersebut, ada para penyedia layanan komunikasi, perusahaan teknologi informasi (IT), dan perusahaan media di berbagai belahan dunia yang terus mencari cara agar mampu menangkap peluang bisnis digital yang berkembang dengan cepat.
 
Sementara itu, dari sisi dunia riset dan akademis, fenomena menarik ini perlu ditelaah lebih jauh agar disiplin kajian pengembangan inisiatif bisnis digital bisa memiliki perspektif terintegrasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini yang melatarbelakangi Jemy Vestius Confido, CEO BLANJA.com yang sebelumnya lebih dari 20 tahun meniti karir di Telkom Indonesia, membuat disertasi untuk mengambil Doctoral Degree, dengan mengusulkan model pengembangan bisnis digital yang diberi nama OTT (Over The Top.
 
Model yang ditawarkan merupakan pendekatan sistematis yang terdiri dari tahapan-tahapan keputusan dan alat-alat bantu yang akan secara efektif membantu perusahaan dalam mendefinisikan portofolio bisnis, memutuskan strategi pengembangan, merancang model bisnis, dan menerapkan parameter bisnis.
 
Menurut Jemy, bisnis digital memiliki karakteristik-karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh bisnis konvensional. Di antara karakteristik unik tersebut adalah interdependency, externality, dan network effect.
 
Dengan adanya interdependency ini, penyedia layanan harus siap bila ada layanan yang tidak menghasilkan pendapatan, tetapi keberadaannya dibutuhkan oleh layanan lain.
 
“Sangat jarang sebuah bisnis digital bisa sukses dengan berdiri sendiri karena biasanya membutuhkan dukungan dari layanan digital yang lain,” jelas Jemy.
 
Jemy juga menjelaskan bahwa pengguna layanan digital biasanya akan lebih cepat tumbuh apabila sudah banyak temannya yang menggunakan layanan tersebut.
 
Selain itu, struktur biaya layanan digital agak berbeda. Komponen fixed asset porsinya lebih kecil namun bisa jadi operational expense yang besar.“Inilah tantangan-tantangan yang sering dilupakan dalam mengembangkan bisnis digital,” Jemy menutup penjelasannya.
 
Prof. Dr. Dermawan Wibisono, promotor Jemy, menerangkan bahwa disertasi tersebut bisa langsung diterapkan dan dapat memberikan dampak bagi para penyedia layanan komunikasi yang saat ini sedang redup karena bersaing dengan investasi asing.
 
“Keunggulannya adalah dengan menerapkan OTT initiative model ini pengambilan keputusan akan lebih cepat dan akurat, investment pun akan lebih cepat menghasilkan revenue.” ujarnya.
 
Riset ini menyimpulkan bahwa siklus inisiatif OTT terintegrasi sangat efektif bagi perusahaan sebagaimana terlihat dari perbaikan kinerja. Sementara itu pada implementasi sebelumnya, perusahaan biasanya memperhatikan tahap tertentu saja.
 
Riset ini menerapkan siklus yang lengkap dari aksi terencana, pengamatan, dan refleksi untuk memastikan keberhasilan dalam penerapannya. Pendekatan ini diharapkan bisa menjadi praktek baru bagi perusahaan dalam pengelolaan bisnis OTT.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif