Jakarta: Red Hat mengumumkan pembentukan asago atau AI Safety And Governance Orchestration. Proyek komunitas open source baru ini dirancang khusus untuk menjembatani kesenjangan besar yang sering terjadi antara tuntutan kebijakan tata kelola AI dan implementasi sistem AI yang aman di fase produksi.
Kolaborasi lintas organisasi ini menyatukan berbagai raksasa teknologi, institusi riset, dan akademisi global seperti NVIDIA, IBM Research, Microsoft, Brave Software, Alquimia AI, MIT Lincoln Laboratory, The Alan Turing Institute, serta beberapa universitas terkemuka dunia.
Selama ini, proses menerjemahkan panduan kebijakan yang abstrak menjadi konfigurasi perangkat lunak yang fungsional kerap memperlambat inovasi. Hal tersebut sering kali memicu friksi serta potensi miskomunikasi antara tim kepatuhan (compliance officer) yang membutuhkan penilaian risiko ketat dan tim teknis (platform engineer) yang memerlukan konfigurasi terstruktur.
Hadirnya asago bertujuan untuk mengatasi hambatan tersebut dengan menyediakan standar tunggal dan terbuka yang menciptakan alur kerja otomatis, terintegrasi, serta dapat ditelusuri. Melalui standardisasi ini, waktu penerapan sistem AI tepercaya dapat dipangkas secara signifikan dari yang tadinya memakan waktu hitungan bulan menjadi hanya beberapa hari.
Secara operasional, asago menyelaraskan fleksibilitas pengembang dengan tata kelola operator melalui empat tahapan utama yang berjalan berkesinambungan. Proses dimulai dengan pemetaan risiko, ketika sistem membaca kebijakan organisasi secara otomatis lalu memetakan persyaratan spesifik tersebut ke standar risiko global seperti NIST AI RMF, OWASP LLM Top 10, dan EU AI Act melalui IBM AI Risk Atlas.
Setelah profil risiko terbentuk, asago melakukan penilaian risiko dengan merancang dan menjalankan skenario pengujian keamanan otomatis yang disesuaikan dengan kasus penggunaan spesifik organisasi. Langkah berikutnya adalah mitigasi risiko, yang bertugas merekomendasikan langkah perlindungankeamanan berdasarkan hasil uji sekaligus membuat dasar pertimbangan rekam jejak audit yang jelas.
Terakhir, pada tahap penerapan di fase produksi, asago mengorkestrasi kontrol tersebut menjadi konfigurasi deklaratif yang siap diimplementasikan di berbagai platform seperti hybrid cloud dan Kubernetes tanpa perlu melakukan pengodean infrastruktur secara manual.
Steven Huels, Vice President AI Engineering Red Hat, menjelaskan bahwa saat organisasi mulai bertransisi dari proyek eksperimental menuju agen AI otonom jangka panjang, kepastian batas operasional menjadi kebutuhan infrastruktur yang sangat krusial. Kehadiran asago mengotomatiskan keterhubungan antara definisi kebijakan korporasi dan agen AI yang berjalan di lingkungan produksi, sehingga memberikan keyakinan operasional menyeluruh bagi perusahaan untuk mengembangkan skala AI tepercaya di seluruh lingkungan hybrid cloud.
Dukungan senada juga disampaikan oleh para mitra, termasuk Sarah Bird, Chief Product Officer Responsible AI Microsoft, yang menekankan bahwa standar terbuka yang diadopsi secara luas akan sangat membantu menciptakan tata kelola yang lebih konsisten di seluruh ekosistem. Proyek asago sendiri dirilis melalui Apache License 2.0 untuk mendorong kolaborasi terbuka di seluruh ekosistem keamanan AI yang lebih luas.
Saat ini proyek masih berada dalam fase formasi awal. Red Hat secara terbuka mengundang para pengembang, peneliti akademis, serta perusahaan pengadopsi awal untuk mulai berpartisipasi aktif dalam tata kelola proyek melalui repositori GitHub atau situs resmi mereka.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan