Hasan, yang mengabdi sebagai pengajar Bahasa Arab dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sejak 2016, menemukan bahwa beban administratif seperti menyusun silabus, menyiapkan rencana pembelajaran, dan mengoreksi tugas secara manual, kerap menyita waktunya. Waktu berharga ini seharusnya dapat digunakan untuk mendampingi santri secara lebih mendalam.
Kondisi ini berubah drastis setelah ia mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui Microsoft Copilot, pekerjaan administratif dapat diselesaikan jauh lebih efisien. Copilot dimanfaatkan untuk menyusun materi, merancang evaluasi, hingga membangun struktur pembelajaran Bahasa Arab yang lebih sistematis.
Efisiensi waktu ini berdampak signifikan pada fokus pengajaran Hasan. “Dulu banyak waktu habis untuk administrasi. Sekarang lebih bisa fokus pada pembinaan akhlak para santri,” ujarnya, menegaskan bahwa waktu luang kini dialihkan untuk berinteraksi lebih dekat dan memperkuat pembinaan moral dan karakter (pambinaan akhlak).
Di kelas, ia memanfaatkan fitur Reading Progress di Microsoft Teams Learning Accelerators untuk membantu menilai pelafalan, ketepatan kaidah tajwid, hingga struktur bacaan santri secara lebih terukur. Tidak menggantikan cara mengajar, teknologi ini justru memperkuat ketepatan penilaiannya. Sistem memberikan penanda visual pada bagian yang perlu diperbaiki, sehingga proses evaluasi membaca Alquran dan bahasa Arab menjadi lebih terukur dan sistematis.
Perubahan pendekatan ini juga dirasakan langsung oleh para santri. Melalui fitur AI Conversation Practice di Copilot, mereka dapat mensimulasikan percakapan Bahasa Arab secara mandiri. Praktik yang sebelumnya terbatas pada jam kelas kini dapat dilakukan kapan saja. Selain itu, pemanfaatan Reading Progress dan Speaking Progress memungkinkan pemantauan kemampuan baca Alquran dan kitab rujukan lainnya secara komprehensif, mencakup pelafalan, kaidah tajwid, tanda baca, hingga struktur bahasa.
Fleksibilitas ini memastikan pembelajaran tidak terputus oleh keterbatasan ruang dan waktu. Santri dapat berlatih secara mandiri di luar jam kelas, termasuk saat intensitas pengkajian Alquran meningkat di bulan Ramadan, atau saat pembelajaran harus dilakukan dari jarak jauh melalui pertemuan daring (online).
Transformasi yang diinisiasi Hasan ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas, yaitu program AI Teaching Power. Program kolaborasi Microsoft Elevate dan NU Care Global by LAZISNU ini membekali guru di sektor formal dan non-formal di bawah Kementerian Agama dengan keterampilan AI praktis yang humanis.
Pelatihan ini mengintegrasikan nilai Spiritual Intelligence, yang menekankan tujuan, empati, dan kerendahan hati dalam penggunaan teknologi, sehingga pendekatan tersebut membuat integrasi AI terasa selaras dengan pendidikan pesantren.
Arief Suseno, AI Skills Director Microsoft Indonesia, menekankan bahwa pemanfaatan AI bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang membuka akses pembelajaran yang lebih luas dan setara. Dengan memperkuat kapasitas pendidik, Microsoft dan mitra berharap transformasi digital dalam pendidikan dapat diakses secara merata, termasuk di lingkungan berbasis keagamaan seperti pesantren.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News