Efek Buruk Otomasi Hanya untuk Pihak yang Tidak Siap
Red Hat menyebut bahwa otomasi hanya berdampak negatif pada individu yang tidak siap mengadopsinya.
Jakarta: Otomasi diakui sejumlah pihak, termasuk Red Hat, telah menjadi keharusan, terlebih di tengah perkembangan teknologi yang terjadi saat ini. Otomasi juga disebut memiliki banyak keuntungan bagi pihak yang mengadopsinya, meski tidak berarti tanpa dampak buruk.

"Teknologi apapun pasti punya efek negatif dan positif, tergantung pada pengaplikasiannya. Red Hat ingin mendorong secara keseluruhan keuntungan kompetitif yang bisa meningkat dengan otomasi, seperti kecepatan peluncuran layanan, kemudahan akses layanan, dan sebagainya," ujar Country Manager Red Hat Rully Moulany.

Keinginan tersebut diakui Rully dapat terpenuhi dan dicapai pelaku bisnis dengan bantuan otomasi.


Senada dengan Rully, Director of Infrastructure Business Group Red Hat, Kingsley Wood, turut menyebut bahwa otomasi hanya akan menghadirkan efek positif dalam perkembangan bisnis.

Efek positif yang dihadirkan oleh otomasi disebut Wood, terlihat dari sejumlah kisah sukses yang dialami oleh pengguna layanan Ansible karya Red Hat, yang diklaim mengalami peningkatan Return of Investment (ROI) sebesar 436 persen, di antara peningkatan performa bisnis lainnya.

Disinggung soal dampak buruk dari otomasi, baik Rully dan Wood, menyepakati bahwa hal tersebut hanya akan dirasakan oleh pihak yang tidak siap menyambut dan mengadopsi otomasi tersebut.

Otomasi menghilangkan kebutuhan akan bantuan manusia pada sejumlah bidang pekerjaan, namun dinilai Red Hat akan mendorong manusia untuk mempelajari teknologi dan pengetahuan terkait lainnya.

Dorongan tersebut akan berdampak pada peningkatan kemampuan yang turut meningkatkan daya saing individu tersebut. Dengan demikian, hal ini tidak hanya bermanfaat bagi individu, namun juga bagi perusahaan dan negara secara lebih luas.

Namun, otomasi yang dieksekusi oleh mesin dan komputer disebut Wood tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan akan sentuhan manusia. Manusia tetap dibutuhkan untuk menciptakan dan memasukan perintah yang harus dieksekusi, berdasarkan pertimbangan yang sesuai.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.