Mengintip Uji Ketahanan Ponsel di Lab Huawei

Yogi Bayu Aji 09 Juli 2018 11:33 WIB
huawei
Mengintip Uji Ketahanan Ponsel di Lab Huawei
Foto: Medcom.id
Beijing: Huawei membangun 15 pusat riset kelas internasional di berbagai belahan dunia. Di tempat itu, para pakar membuat inovasi untuk ponsel keluaran produsen ponsel asal Tiongkok itu.

Medcom.id berkesempatan mengunjungi Beijing Research Institute, salah satu pusat riset milik Huawei, dalam APAC China Media Trip 2018 di Beijing, Tiongkok, Selasa, 3 Juli 2018. Mereka memperlihatkan bagaimana proses pengujian sebelum ponsel dirilis ke publik.

Pemandu menjelaskan Beijing Research Institute didirikan pada kuartal IV 2016. Laboratorium ini didesain bergaya modern. Dari luar, bangunan tak terkesan seperti laboratorium, melainkan perkantoran para umumnya. Ada 23 lab yang tersebar dalam 9 kategori di lokasi seluas satu hektare itu. 


Lebih dari 7.000 perangkat profesional berteknologi tinggi melengkapi Beijing Research Institute. Fasilitas ini memiliki kemampuan untuk menguji 5.000 ponsel pada waktu yang sama, dengan kapasitas tes per bulannya mencapai 40 juta ponsel.

Huawei menjaga ketat segala informasi soal produk yang dikembangkan di dalam laboratorium. Media dan pegiat media sosial yang datang tak diperbolehkan mengambil gambar secara bebas. Mereka hanya diizinkan mengambil gambar di luar gedung, dan segala alat perekam di simpan begitu tiba di dalam bangunan.

Di dalam Beijing Research Institute, pengunjung pertama-tama dibawa ke Automation Test Center. Lab ini menguji kemampuan ponsel menjalankan software. Ratusan ponsel dimasukan ke dalam lemari besi dan disambungkan ke dalam sistem di lab.



Secara otomastis, ponsel-ponsel itu ditugaskan menjalankan suatu aplikasi. Kinerja ponsel terpantau di monitor. Kemampuan ponsel dalam menjalankan aplikasi, apakah lancar atau terganggu, akan terlihat di layar. Bila ada kegagalan ponsel dalam menjalankan aplikasi, petugas pun dengan mudah mengecek.

Selanjutnya, rombongan dipandu menuju Communication Protocol Test Lab. Lab ini berfungsi mengetes kemampuan ponsel dalam segala jenis lingkungan jaringan. Fasilitas ini mampu mendukung 1.000 kombinasi jaringan lebih dari 20 operator besar hingga  frekuensi radio.

Bagian paling menarik pada pengujian di Beijing Research Institute adalah tes ketahanan ponsel di Reliability Laboratory. Huawei menguji kualitas fisik dari ponsel secara ekstrem. Kemampuan ponsel dalam menghadapi skenario kerusakan fisik benar-benar dites secara serius.

Huawei menyiapkan beragam alat 'penyiksaan' bagi ponsel. Ponsel, contohnya, dites dengan dijatuhkan lokasi dan ketinggian yang berbeda-beda Terdapat pula tes menguji ketahanan ponsel ketika dibengkokan. Skenario ini menyimulasikan ketika ponsel ditaruh di kantong belakang celana ketika pengguna duduk.



Kemampuan port USB juga diuji coba dengan memasukan dan menarik kabel ribuan kali. Tes durabilitas ini setara dengan penggunaan konsumen selama setidaknya setahun. Selain itu, ketahanan ponsel ketika terkena air, debu, hingga saat ditempatkan pada beragam temperatur, juga diuji.

"Hingga ada tes ponsel menghadapi tornado. Ponsel juga dites dengan air laut, apa kena korosi atau tidak. Insinyur Huawei berusaha menguji ponsel di berbagai skenario yang ada," tekan seorang petugas. 

Antena ponsel juga diuji secara serius di dalam Antenna Laboratory. Ponsel ditaruh di dalam ruangan kecil dilapisi spons yang dapat menyerap sinyal elektromagnetik sehingga segala jaringan sulit ditangkap gawai.

Ponsel juga diuji dengan beragam skenario gaya pengguna saat menerima panggilan, apakah ponsel dirapatkan ke telinga atau tidak.

Tes terakhir adalah pengujian suara di Audio Laboratory. Gawai dibawa di ruangan kedap suara. Kualitas audio diuji. Tes ini ingin membuktikan kemampuan ponsel menerima dan membuat panggilan dengan jernih dalam skenario seperti di pasar dan lokasi ramai lainnya.

"Sehingga walau di lingkungan berisik, suara yang diterima bisa terdengar dan suara kita tak perlu diperbesar untuk terdengar ke orang yang dihubungi," jelas petugas. 

Huawei pun membuka peluang pembangunan lab semacam Beijing Research Institute di Indonesia. Namun, Fang Fei, Wakil Presiden Bisnis Handset Huawei, menjelaskan tergantung perkembangan perusahaannya di Tanah Air. 

"Tentu memungkinkan, tapi bos yang menentukan. Kami harap bisnis di Indonesia bisa tumbuh dan Huawei nomor 1 di Indonesia," ungkap Fei.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.