AS Tuntut 2 Hacker Iran, Kenapa?
Ilustrasi ransomware.
Jakarta: Departemen Keadilan Amerika Serikat menuntut dua hacker Iran yang dituduh sebagai dalang di balik serangan ransomware yang menyerang beberapa kota di Amerika Serikat, termasuk Atlanta, San Diego, dan Newark. Kedua hacker ini melumpuhkan berbagai layanan umum.

Kedua hacker tersebut adalah Faramarz Shahi Savandi (34) dan Mehdi Shah Mansouri (27). Keduanya diduga menyebabkan kerugian lebih dari USD30 juta karena menyerang lebih dari 200 korban menggunakan ransomware SamSam, ungkap jaksa penuntut umum, lapor CNET.

Serangan ransomware menginfeksi komputer, membuat isi komputer tidak bisa diakses sampai korban membayar uang tebusan. Pada 2017, ransomware WannaCry menginfeksi komputer di seluruh dunia, termasuk komputer di rumah sakit Indonesia.


Brian Benczkowski, kepala divisi kriminal Departemen Keadilan berkata bahwa kedua hacker Iran ini tidak memiliki hubungan dengan pemerintah. Dia menyebutkan, ini adalah dakwaan pertama pada hacker yang menggunakan ransomware untuk mendapatkan keuntungan finansial.

Melalui serangan ini, para hacker mendapatkan USD6 juta, menurut Deputy Attorney General Rod Rosenstein.


Poster buron dari dua hacker Iran. 

"Banyak korban dari serangan ini yang merupakan lembaga yang bertugas untuk menyelamatkan banyak nyawa orang dan melakukan tugas penting untuk masyarakat AS," kata Rosenstein. Menurut dokumen pengadilan, Savandi dan Mansouri secara sengaja menyerang infrastruktur penting, seperti rumah sakit dan sistem kota, untuk mendapatkan uang tebusan sebanyak mungkin.

Pengacara AS Craig Carpenito mengatakan bahwa dua hacker ini mencari kelemahan secara menyeluruh. "Uang bukanlah satu-satunya tujuan mereka. Mereka ingin merusak organisasi dan infrastruktur penting kita," kata Carpenito. "Mereka ingin memengaruhi cara kita hidup."

Dua hacker ini menyerang badan pemerintah yang akan kesulitan untuk beroperasi jika mereka tidak bisa mengakses komputer mereka. Selain Atlanta, korban dari serangan ini meliputi Newark, New Jersey, Departemen Transportasi Colorado, University of Calgary di Kanada, dan rumah sakit di Los Angeles, Kansas, North Carolina, Maryland, Nebraska, dan Chicago.



(ELL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.