Salah satu bentuk Train Event Recorder (TER) atau On-Train Monitoring Recorder. Bentuk bisa berbeda tergantung perusahaan pembuat solusinya. (Foto: ProgressRail)
Salah satu bentuk Train Event Recorder (TER) atau On-Train Monitoring Recorder. Bentuk bisa berbeda tergantung perusahaan pembuat solusinya. (Foto: ProgressRail)

Bukan Black Box, Ini Teknologi yang Bantu Analisa Kecelakaan Kereta

Cahyandaru Kuncorojati • 28 April 2026 08:40
Ringkasnya gini..
  • Kereta tidak pakai black box tapi Train Event Recorder (OTMR).
  • Teknologi ini merekam data penting seperti kecepatan, rem, dan sinyal.
  • Data dipakai investigasi kecelakaan dan monitoring keselamatan real-time.
Jakarta: Dilaporkan dari berbagai sumber, investigasi terjadinya kecelakaan kereta antara KA Argo bromo Anggrek dan KRL Commuterline di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 segera dilakukan.  Salah satu caranya akan dilakukan lewat data yang tersimpan di teknologi black box.
 
Cara ini sama seperti yang dilakukan pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di tahun 2024 lalu ketika investigasi penyebab tabrakan KA Turangga dan KA Lokal Bandung Raya.
 
Meskipun memiliki fungsi yang sama, namun pada moda transportasi kereta api ternyata teknologi yang menyimpan data perjalanan bukan disebut black box melainkan Train Event Recorder atau On-Train Monitoring Recorder (OTMR)

Jika menelusuri pencarian di Google, keduanya juga sama-sama memiliki tampilan berupa kotak logam berwarna oranye yang menjadi instrumen perekaman data.
 

Mengenal Teknologi Train Event Recorder

Menurut penjelasan di situs Rail Safety and Standards Board yang merupakan lembaga independen di Inggris, Train Event Recorder (TER) atau OTMR bekerja sebagai sistem pencatat data yang terhubung langsung dengan berbagai komponen operasional kereta. 
 
Perangkat ini mengambil input dari sistem kontrol seperti throttle (daya traksi), rem, sensor kecepatan, serta sinyal kabin, lalu merekamnya secara otomatis selama perjalanan. 
 
Melalui integrasi ini, setiap perubahan kondisi operasional kereta dapat terdokumentasi secara rinci. Dalam operasinya, TER merekam data secara kontinu atau berkelanjutan dengan frekuensi tinggi, biasanya beberapa kali per detik. 
 
Parameter yang dicatat mencakup kecepatan, waktu, posisi kontrol masinis, penggunaan rem, hingga respons terhadap sinyal. Data tersebut memungkinkan operator maupun investigator untuk merekonstruksi kronologi kejadian secara presisi ketika terjadi gangguan atau kecelakaan.
 
Seluruh data disimpan dalam memori non-volatile yang dirancang tahan terhadap gangguan listrik dan getaran. 
 
Sistem penyimpanan umumnya menggunakan metode rolling buffer, di mana data terbaru akan menimpa data lama, tetapi tetap menyimpan rekaman periode penting sebelum insiden kecelakaan. Hal ini memastikan data kritis tetap tersedia untuk analisis keselamatan.
 
Selain fungsi investigasi, sistem modern juga mendukung pengiriman data secara real-time ke pusat kontrol. Dengan begitu, operator dapat memantau kondisi kereta, mendeteksi potensi masalah lebih awal, dan meningkatkan keselamatan operasional secara keseluruhan.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA