CEO BDO di Indonesia, Thano Tanubrata
CEO BDO di Indonesia, Thano Tanubrata

Pemanfaatan AI Makin Masif, Pentingnya Tata Kelola dan Pengawasan Komite Audit

Mohamad Mamduh • 16 Oktober 2026 13:31
Ringkasnya gini..
  • Kolaborasi dan penyegaran wawasan secara berkelanjutan memungkinkan komite audit menjaga peran pengawasan agar tetap relevan.
  • Reza menegaskan bahwa tata kelola perlu disiapkan sebelum AI diterapkan secara luas dalam operasional perusahaan.
  • Upaya pengawasan ini juga perlu didukung oleh evaluasi berkala.
Jakarta: Pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di ranah korporasi membuka peluang efisiensi sekaligus membawa tantangan pengawasan yang kompleks.

Guna mengantisipasi risiko kebocoran data, disinformasi, hingga dampak reputasi bisnis, BDO di Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) menggelar forum IKAI Morning Coffee bertema AI Governance: Practical Oversight Strategies for Audit Committee di Flavor Junction, Prudential Tower, Jakarta.

Acara yang berlangsung pada 15 Oktober 2026 ini dihadiri oleh para jajaran pimpinan dan pengawas entitas bisnis, meliputi Dewan Komisaris, Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, hingga Direksi dari BUMN, perusahaan terbuka, sektor swasta, dan lembaga negara. Forum ini menjadi wadah strategis dalam memperluas jejaring serta memperdalam pemahaman mengenai fungsi pengawasan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
 

Urgensi Pengawasan dan Sinergi Komunitas

Dalam pembukaan acara, Ketua Dewan Pengurus IKAI, Maliki Heru Santosa, menggarisbawahi pentingnya pertukaran pengalaman antaranggota untuk memperkuat pelaksanaan fungsi komite audit. Menurutnya, kolaborasi dan penyegaran wawasan secara berkelanjutan memungkinkan komite audit menjaga peran pengawasan agar tetap relevan dengan dinamika tantangan industri.

Pandangan senada disampaikan oleh Humbul Kristiawan, Chief Strategy Officer BDO di Indonesia sekaligus Anggota Dewan Pengurus IKAI. Beliau menegaskan bahwa sinergi antara praktisi dan komunitas komite audit sangat dibutuhkan untuk membangun kesiapan organisasi dalam menjalankan pengawasan yang lebih efektif.

Sementara itu, CEO BDO di Indonesia, Thano Tanubrata, menyoroti ancaman nyata kebocoran data yang dapat merusak kepercayaan pelanggan dan mengganggu keberlangsungan usaha. Ia menekankan bahwa pesatnya adopsi AI harus diimbangi dengan kesiapan kebijakan, pengendalian, dan tata kelola yang memadai agar risiko finansial maupun reputasi dapat dimitigasi secara optimal.

"Kebocoran data dapat menimbulkan kerugian finansial sekaligus merusak reputasi. Komite audit perlu memastikan organisasi memiliki tata kelola yang memadai agar adopsi AI tetap menjaga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan bisnis," ujat Thano.
 

Mitigasi Risiko dan Penerapan Tata Kelola Sejak Dini

Sebagai pembicara utama, Reza Aminy, Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia, memaparkan berbagai potensi risiko penggunaan AI. Di antaranya adalah penyalahgunaan teknologi deepfake untuk menyamar sebagai pimpinan dalam rapat daring, potensi jawaban keliru dari sistem chatbot, serta penggunaan data internal sensitif oleh penyedia layanan AI.

Reza menegaskan bahwa tata kelola perlu disiapkan sebelum AI diterapkan secara luas dalam operasional perusahaan. Penerapan AI yang bertanggung jawab memerlukan kejelasan tujuan penggunaan, penunjukan penanggung jawab yang pasti, serta skema pengendalian risiko yang rinci. Semakin tinggi tingkat risiko dari penggunaan AI—terutama yang berinteraksi langsung dengan pelanggan atau mengolah data sensitif—semakin ketat pula pengawasan yang wajib diterapkan.

Selain itu, keterlibatan pengawasan oleh manusia (human-in-the-loop) tetap menjadi kunci utama agar setiap hasil dan keputusan berbasis AI dapat dipertanggungjawabkan. Upaya pengawasan ini juga perlu didukung oleh evaluasi berkala serta peningkatan kapasitas kompetensi bagi para auditor internal.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA