Ilustrasi.
Ilustrasi.

Open Source Jadi Solusi Operator Telekomunikasi Kembangkan Bisnis

Cahyandaru Kuncorojati • 19 Desember 2021 12:05
Jakarta: Di tengah kondisi internet yang semakin kencang dan mendorong lansekap digital semakin berkembang sekaligus menumbuhkan model bisnis baru, rupanya penyedia layanan telekomunikasi atau operator telco justru bersaing langsung dengan layanan over the top alias penyedia konten.
 
Pertumbuhan pendapatan layanan komunikasi tradisional menurun semetara  layanan konektivitas melambat. Hal ini yang membuat penyedia layanan konten kerap dianggap mengancam pendapatan penyedia telekomunikasi. Makanya operator telko dituntut untuk juga melakukan transformasi digital.
 
Red Hat dalam sebuah sesi diskusi virtual dengan media mengungkapkan bahwa solusi open source mampu membantu penyedia layanan telekomunikasi atau operator telco melakukan transformasi digital di bisnis mereka.

“Kita berada di ambang perubahan besar dalam 25 tahun sejarah industri telekomunikasi, yaitu ketika jaringan telekomunikasi beralih ke 5G. Ini memungkinkan aliran pendapatan yang baru, memberikan peluang yang nyata bagi operator untuk monetisasi aset mereka, ungkap Senior Director Telco Vertical Red Hat APAC, Ben Panic.
 
5G dinilai mendorong perubahan lanskap, dan bukan soal latensi serta bandwidth saja melainkan network slicing, edge, dan komunitas ISV (Independent Software Vendor) yang bakal mengembangkan berbagai aplikasi baru. Di sini peluang bagi operator dinilai sangat terbuka lebar karena asset mereka akan membantu para iSV.
 
Ben menilai peluang semacam ini belum pernah ada sebelumnya ketika masa peralihan dari 3G ke 4G, misalnya layanan telemedicine yang semakin memungkinkan karena latensi rendah di jaringan 5G. Sejumlah aplikasi khusus di ragam sektor industri juga dipastikan bakal ikut berkembang dan digunakan.
 
Makanya Ben menyebut momentum ini sebagai peluang bagi operator telco mengembangkan aplikasi khusus yang baru untuk industri dengan memanfaatkan jaringan mereka. Meskipun begitu Ben menegaskan bahwa di Indonesia akan ada sejumlah tantangan yang harus dituntaskan.
 
Pemerintah Indonesia menyebut penggelaran jaringan 5G yang optimal membutuhkan alokasi spektrum setidaknya 2.047 MHz di berbagai pita frekuensi namun saat ini hanya tersedia 737 MHz. Proses ini tidak bisa cepat karena pemerintah harus bernegosiasi dengan pemegang spektrum yang tersisa agar mau menyediakan alokasi yang dibutuhkan.
 
Kecepatan beradaptasi 5G di Indonesia juga kemungkinan tidak merata sepenuhnya karena Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau sehingga perubahan akan berlangsung bertahap. Meskipun demikian Ben optimistis peluang 5G akan menawarkan banyak hal positif.
 
“Lanskap kompetisi telah berubah di mana penyedia layanan konten sering kali mengancam peluang ekspansi pendapatan service provider. Open source dapat membawa kekuatan inovasi komunitas kepada service provider dan ini adalah komponen penting dalam transformasi digital mereka,” ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA