Ribuan Aplikasi untuk Anak di Play Store Langgar Hukum Privasi

Ellavie Ichlasa Amalia 16 April 2018 15:49 WIB
smartphone
Ribuan Aplikasi untuk Anak di Play Store Langgar Hukum Privasi
Ilustrasi. (Getty Images/iStockphoto)
Jakarta: Ribuan aplikasi di Google Play Store mungkin melacak aktivitas online anak-anak. Ini merupakan pelanggaran terhadap regulasi privasi Amerika Serikat, menurut survei yang dilakukan pada aplikasi-aplikasi Android. 

Menggunakan "evaluasi otomatis dari pengaturan privasi pada aplikasi Android", sebuah tim berisi peneliti dan ahli komputer dari universitas menyimpulkan bahwa dari 5.855 aplikasi yang ada dalam program ramah anak di Play Store, sebanyak 28 persen "mengakses data sensitif yang dilindungi oleh izin akses Android" dan 73 persen mengirimkan data sensitif melalui internet. 

Menurut Gizmodo, meskipun survei itu menyebutkan bahwa proses pengumpulan data anak tidak selalu melanggar Regulasi Perlindungan Privasi Online Anak (COPPA) -- regulasi yang membatasi data yang dikumpulkan dalam aplikasi untuk anak di bawah umur 13 tahun -- tidak ada satupun aplikasi itu yang meminta izin dari orangtua. 


Beberapa data yang dikumpulkan dan menyebabkan kekhawatiran terbesar adalah data lokasi -- dikumpulkan oleh 256 aplikasi -- data alamat email pemilik perangkat -- dikumpulkan oleh 107 aplikasi -- dan data nomor ponsel -- diambil oleh 10 aplikasi.

Sebanyak 1.100 aplikasi menggunakan persistent identifier, yang bisa digunakan untuk melakukan iklan tertarget, yang dilarang untuk digunakan pada anak.

Pada akhirnya, para peneliti menyebutkan bahwa hasil laporan mereka menunjukkan bahwa banyak aplikasi untuk anak yang tidak terlalu memedulikan peraturan dari Google Play. 

Satu hal yang harus diingat, semua data dalam survei ini dikumpulkan menggunakan metode otomatisasi. Karena itu, ada kemungkinan aplikasi yang dimaksud dalam survei tidak mengumpulkan data dengan ara yang terlarang oleh COPPA.

Meskipun begitu, para peneliti menyebutkan bahwa banyaknya aplikasi yang dilengkapi dengan fitur pelacak menunjukkan bahwa banyak developer yang tidak mematuhi peraturan perlindungan privasi anak. 



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.