Associate Professor Biplab Sikdar, Department of Electrical & Computer Engineering NUS.
Associate Professor Biplab Sikdar, Department of Electrical & Computer Engineering NUS.

Keamanan PC, Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?

Teknologi microsoft cyber security
Ellavie Ichlasa Amalia • 31 Oktober 2018 09:10
Singapura:Microsoft baru saja menggelar acara Digital Trust di Singapura. Salah satu temuan yang mereka ungkap dalam acara itu adalah fakta bahwa 90 persen PC baru di Indonesia telah dipasang software bajakan. Sementara 89 persen dari PC dengan software bajakan itu mengandung malware.
 
Lalu, siapakah yang paling bertanggung jawab atas keamanan laptop seseorang?
 
Associate Professor Biplab Sikdar, Department of Electrical & Computer Engineering, National University of Singapore (NUS), Faculty of Engineering mengatakan, pengguna adalah orang yang memegang tanggung jawab paling besar atas keamanan PC mereka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Misalnya, ini ponsel saya, sayalah yang bertanggung jawab atas keamanannya. Jika sebuah laptop adalah milik universitas atau perusahaan saya, maka yang bertanggung jawab atas keamanannya adalah pihak perusahaan/universitas dan pihak pekerja," kata Biplab, saat ditemui di One Marina Boulevard, Selasa, 30 Oktober 2018.
 
Namun, itu bukan berarti pemerintah bisa berpangku tangan, terutama negara seperti Indonesia yang masyarakatnya masih sangat tidak sadar akan pentingnya keamanan siber.
 
"Saya rasa, peran pemerintah adalah untuk melakukan edukasi, meningkatkan kesadaran pengguna," katanya. Terkait cara terbaik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, dia menjawab: iklan.
 
"Iklan di TV. Ketika Anda berjalan di Singapura, di halte bus, Anda akan melihat poster: jangan lakukan ini di internet, jangan berikan password Anda. Jika ada seseorang yang mengaku dari bank menelepon, jangan berikan nomor PIN Anda," ujar Biplab.
 
Selain itu, pemerintah juga bisa mewajibkan kurikulum keamanan siber dalam pelajaran komputer di SMA atau universitas.
 
Tahun lalu, muncul laporan yang menyebutkan bahwa celah keamanan terbesar di perusahaan adalah para karyawannya. Menurut Biplab, masalah ini bisa diatasi dengan cara melakukan pelatihan pada para karyawan.
 
Meskipun begitu, dia menegaskan bahwa proses pelatihan ini bukanlah sesuatu yang hanya bisa dilakukan satu kali. Pelatihan sebaiknya dilakukan secara berkala.
 
Walau tidak menyebutkan berapa lama jeda waktu yang ideal antara masing-masing pelatihan ini, dia mengatakan bahwa waktu enam bulan masih dirasa terlalu lama. Dia memperkirakan, pelatihan sebaiknya dilakukan setiap dua atau tiga bulan sekali.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif