Senior Vice President dan Chair untuk IBM Europe, Middle East, Africa, dan Asia Pacific, Ana Paula Assis
Senior Vice President dan Chair untuk IBM Europe, Middle East, Africa, dan Asia Pacific, Ana Paula Assis

IBM Think Singapore 2026

Masih 20% Bos Perusahaan yang Paham Cara Cuan dari AI

Mohamad Mamduh • 21 Juli 2026 09:43
Ringkasnya gini..
  • 80 persen eksekutif berencana dan berharap AI dapat mendorong pertumbuhan pendapatan utama.
  • Ketika AI mulai mengambil tindakan dan terikat langsung dalam cara kerja operasional perusahaan, taruhan bisnis menjadi jauh lebih tinggi.
  • Perusahaan terdepan yang berhasil mengintegrasikan AI ke dalam model operasi mereka terbukti mencatatkan kenaikan produktivitas 70 persen lebih besar.
Singapura: Mayoritas pimpinan perusahaan menggantungkan harapan sangat besar pada teknologi AI untuk menggerakkan pertumbuhan pendapatan, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar memiliki peta jalan atau strategi konkret untuk mewujudkannya.
 
Realitas ini menjadi salah satu sorotan utama dalam pembukaan ajang teknologi bergengsi IBM Think Singapore 2026 yang berlangsung di Singapura, yang dihadiri oleh lebih dari 1.000 klien dan visioner bisnis serta 300 mitra bisnis dari seluruh kawasan Asia Pasifik dan global.
 
Dalam pidato pembukaan utamanya di panggung IBM Think Singapore 2026, Senior Vice President dan Chair untuk IBM Europe, Middle East, Africa, dan Asia Pacific, Ana Paula Assis, membeberkan hasil survei terbaru terhadap para direktur eksekutif (CEO) di berbagai belahan dunia.

Riset tersebut mengungkapkan bahwa sebanyak 80 persen eksekutif berencana dan berharap AI dapat mendorong pertumbuhan pendapatan utama organisasi mereka. Namun, di balik tingginya optimisme tersebut, hanya 20 persen dari pimpinan perusahaan tersebut yang mampu menjelaskan secara pasti dan terperinci mengenai bagaimana proses transformasi bisnis itu akan dieksekusi hingga menghasilkan nilai ekonomi nyata.
 
Ana menegaskan bahwa dunia saat ini sedang berada di titik yang sangat menentukan. AI bergerak cepat dari fase pencarian inspirasi dan pengujian sederhana menuju fase penciptaan dampak bisnis dan pengambilan tindakan secara langsung.
 
Ketika AI mulai mengambil tindakan dan terikat langsung dalam cara kerja operasional perusahaan, taruhan bisnis menjadi jauh lebih tinggi. Para pemimpin organisasi mulai menyadari bahwa untuk mendapatkan pengembalian investasi (ROI) yang terukur, AI tidak lagi bisa diperlakukan sebagai eksperimen terpisah. Ia harus terintegrasi erat ke dalam jantung operasi bisnis harian.
 
Untuk menggambarkan situasi ini, Assis mengutip analogi ketika teknologi listrik pertama kali diperkenalkan ke dunia industri. Pada masa awal, aplikasi listrik yang paling populer adalah pemasangan lampu bohlam di pabrik-pabrik. Kehadiran lampu berhasil membuat lingkungan kerja menjadi lebih terang, bersih, dan aman. Namun, hal itu sama sekali belum mengubah cara pabrik tersebut beroperasi secara mendasar.
 
Revolusi industri sejati baru benar-benar terjadi ketika motor listrik diciptakan dan menggerakkan mesin-mesin utama, merombak total seluruh alur produksi. Menurutnya, mayoritas perusahaan saat ini masih terjebak di "fase lampu", ketika AI digunakan untuk menghasilkan dokumen, merangkum jalannya rapat, atau mengotomatisasi tugas individu yang dampaknya sangat terbatas.
 
Tantangan ke depan dipastikan akan semakin kompleks seiring lahirnya jutaan aplikasi berbasis AI, jutaan agen yang beroperasi secara otonom di dalam organisasi, serta tumpukan kode baru yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Hal ini memicu risiko keamanan siber yang belum pernah terjadi sebelumnya.
 
Alasannya, mayoritas sistem lama (legacy systems) yang dimiliki perusahaan memang tidak dirancang untuk diakses secara berkesinambungan dan otonom oleh sistem AI. Oleh karena itu, dilema utama para CEO saat ini bukan lagi sekadar apakah AI bisa dibangun, melainkan bagaimana menjalankan AI secara aman, andal, dan berkelanjutan.
 
Meskipun tantangan operasional dan keamanan begitu membelit, potensi manfaat ekonomi AI tetap sangat masif. AI diproyeksikan mampu mendorong efisiensi produktivitas lebih dari 40 persen pada tahun 2030, yang diperkirakan bakal memicu kenaikan investasi teknologi hingga 150 persen. Menariknya, 70 persen eksekutif bertekad menginvestasikan kembali keuntungan efisiensi tersebut untuk memacu inovasi produk baru.
 
Perusahaan terdepan yang berhasil mengintegrasikan AI ke dalam model operasi mereka terbukti mencatatkan kenaikan produktivitas 70 persen lebih besar, waktu siklus kerja 74 persen lebih cepat, serta penyampaian proyek 67 persen lebih tangkas. IBM sendiri membuktikan bahwa perpaduan Hybrid Cloud dan AI telah menghasilkan efisiensi nilai produktivitas mencapai USD4,5 juta dalam internal organisasi mereka.
 
Untuk menjembatani jurang antara ekspektasi dan realitas tersebut, perusahaan diimbau untuk beralih menjadi AI-First Enterprise. Langkah ini membutuhkan perancangan ulang model operasional bisnis secara mendasar, yang ditopang oleh arsitektur Hybrid Cloud terbuka untuk menjaga kedaulatan data di seluruh lingkungan publik, privat, maupun edge. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA