World Heart Day tahun ini mengusung tema Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat, mendorong masyarakat untuk lebih mengenali tanda dan risiko penyakit kardiovaskular yang dapat terlewatkan.
OMRON menilai momentum tersebut penting untuk mendorong masyarakat agar tidak menunggu munculnya masalah kesehatan sebelum mulai memperhatikan kondisi tubuh. Upaya menjaga kesehatan dapat dimulai dengan memahami faktor risiko, menerapkan kebiasaan hidup sehat, serta melakukan pemantauan kondisi kesehatan secara rutin.
Hal tersebut menjadi bagian dari pendekatan OMRON Healthcare Indonesia melalui kampanye Keep On, Life On.
Hipertensi Berkaitan dengan Risiko AFib dan Stroke
Data dalam siaran pers OMRON menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran dan diagnosis dokter. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 30,8% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter tercatat sebesar 8,6%.Kesenjangan tersebut, menurut OMRON, menunjukkan masih adanya masyarakat yang belum mengetahui status hipertensinya. Kondisi ini menjadi perhatian karena hipertensi kerap tidak menimbulkan gejala, meski dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Karena itu, pengukuran tekanan darah secara berkala dinilai menjadi salah satu langkah untuk memahami kondisi kesehatan. Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, Dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa hipertensi tidak hanya berkaitan dengan tingginya tekanan darah.
Hipertensi juga menjadi salah satu faktor risiko dalam berbagai kondisi kardiovaskular, termasuk atrial fibrillation atau AFib. Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung seperti AFib. Pada penderita AFib, detak jantung yang tidak teratur dapat membuat aliran darah di dalam jantung tidak optimal dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, stroke dapat terjadi.
Siaran pers tersebut juga mengutip studi Framingham oleh Wolf et al. (1991). Studi terhadap 5.070 peserta menunjukkan hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat, sementara AFib dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hampir lima kali lipat. Temuan tersebut disebut memperkuat pentingnya mengenali dan memantau faktor risiko kardiovaskular.
OMRON Dorong Pemantauan Kesehatan Secara Rutin
Pesan mengenai pentingnya pemantauan kesehatan turut disampaikan melalui pengalaman Iwet Ramadhan, disebut sebagai penyintas stroke, Business Owner, Co-Founder DVET Siaran Pagi IP, Head of Communications Yayasan Jantung Indonesia, sekaligus OMRON Brand Ambassador.Menurut Iwet, pengalaman mengalami stroke membuatnya semakin menyadari pentingnya memperhatikan kondisi tubuh sebelum masalah kesehatan terjadi. Ia juga mengatakan bahwa merasa sehat dan tetap aktif tidak selalu berarti seseorang mengetahui kondisi kesehatannya secara keseluruhan.
Dalam materi siaran pers, Iwet ditampilkan melakukan pemeriksaan tekanan darah dan kesehatan jantung menggunakan OMRON Complete (Tensimeter + EKG). Dokumentasi tersebut terdapat pada halaman kedua siaran pers.
OMRON juga menekankan bahwa menjaga kesehatan tidak harus dilakukan melalui perubahan ekstrem. Aktif bergerak, menjaga pola makan, beristirahat cukup, dan membangun kebiasaan realistis secara konsisten dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Pesan tersebut turut disampaikan Dion Wiyoko, aktor, presenter, dan OMRON Brand Ambassador. Ia menilai gaya hidup sehat perlu dibangun secara realistis dan berkelanjutan dengan memilih aktivitas yang dapat dinikmati dan dijadikan bagian dari keseharian.
Dion juga menggunakan OMRON Home ECG 1-Lead untuk melakukan pemantauan kesehatan jantung secara praktis, sebagaimana ditampilkan dalam dokumentasi pada halaman ketiga siaran pers.
OMRON Perkenalkan ECG Portabel untuk Pemantauan Jantung
Dalam kampanye Keep On, Life On, OMRON memperkenalkan teknologi ECG (elektrokardiogram/EKG) yang ditujukan untuk membantu masyarakat memantau irama jantung dan mengenali kemungkinan gangguan irama, termasuk AFib.Berbeda dengan pemeriksaan irama jantung yang umumnya dilakukan di fasilitas kesehatan, solusi ECG portabel memungkinkan pemantauan dilakukan di rumah. Masyarakat dapat merekam irama jantung ketika gejala muncul.
Hal ini dapat membantu mengenali AFib paroksismal yang dapat muncul dan menghilang secara berkala. OMRON memperkenalkan dua perangkat ECG portabel, yaitu OMRON Portable 1-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8011B dan OMRON Portable 6-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8060T.
Model pertama menawarkan perekaman ECG satu lead secara cepat dan praktis, sedangkan model kedua menggunakan enam lead untuk memberikan gambaran aktivitas listrik jantung lebih luas. Keduanya dirancang untuk mendukung pemantauan jantung dalam keseharian.
Meski demikian, OMRON menegaskan bahwa hasil ECG yang menunjukkan kemungkinan AFib bukan merupakan diagnosis. Hasil tersebut tetap perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Pemantauan di rumah dapat menjadi informasi tambahan untuk membantu seseorang memahami kondisi yang perlu diperhatikan dan menentukan kapan perlu berkonsultasi lebih lanjut.
Untuk pemantauan tekanan darah di rumah, masyarakat juga disarankan menggunakan alat pengukur tekanan darah yang akurat dan telah tervalidasi secara klinis serta melakukan pengukuran secara rutin sesuai petunjuk penggunaan.
Dengan kebiasaan tersebut, perubahan tekanan darah maupun irama jantung diharapkan dapat lebih mudah diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan bila diperlukan. Melalui kampanye Keep On, Life On, OMRON mendorong masyarakat mengambil langkah lebih proaktif dalam menjaga kesehatan jantung.
Pendekatan tersebut mencakup pemahaman terhadap faktor risiko, penerapan gaya hidup sehat, serta pemantauan kondisi kesehatan secara rutin.