Agentic AI memasuki era baru. Techpresso membahas kesiapan Indonesia dari sisi regulasi, infrastruktur, riset, dan keamanan siber.
Agentic AI memasuki era baru. Techpresso membahas kesiapan Indonesia dari sisi regulasi, infrastruktur, riset, dan keamanan siber.

Agentic AI Masuk Era Baru, Siapkah Indonesia dari Sisi Regulasi, Infrastruktur, dan Keamanan?

Cahyandaru Kuncorojati • 09 September 2026 20:05
Ringkasnya gini..
  • Agentic AI mulai mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas secara mandiri.
  • Techpresso membahas kesiapan Indonesia menghadapi agentic AI dari sisi regulasi, infrastruktur, riset, dan keamanan.
  • Nezar Patria, Arif Satria, dan Patrick Dannacher membahas masa depan serta tantangan agentic AI di Indonesia.
Jakarta: Perkembangan agentic AI mulai mengubah cara perusahaan melihat kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini tidak lagi sekadar menunggu perintah untuk menghasilkan jawaban, tetapi mampu merencanakan langkah, mengambil keputusan, hingga menjalankan tugas secara mandiri. 

Persoalannya, apakah Indonesia sudah siap menghadapi perubahan tersebut? Pertanyaan itu akan dibahas secara mendalam dan menarik dalam gelaran diskusi panel Techpresso yang digelar Medcom.id dengan tema “Agentic AI, Are We Ready?”.

Forum ini mempertemukan pemerintah, industri, lembaga riset, dan sektor keamanan siber untuk melihat kesiapan Indonesia menghadapi AI yang semakin otonom. Techpresso dijadwalkan berlangsung di Grand Studio Metro TV, Kedoya, pada 10 September 2026.

Diskusi ini dirasa semakin menarik dan penting karena membahas perkembangan agentic AI yang sudah mulai bergerak dari sekadar eksperimen menuju implementasi. IDC FutureScape 2026 memperkirakan porsi anggaran untuk agentic AI di kawasan Asia Pasifik meningkat dari 18% pada 2025 menjadi 29% pada 2026. 

Deloitte juga menempatkan 2026 sebagai momentum ketika proyek-proyek AI mulai bergeser dari tahap pilot menuju produksi. Potensinya juga tidak kecil. Agentic AI diproyeksikan dapat memberikan kontribusi sekitar USD120 miliar terhadap PDB ASEAN pada 2027. 

Di sisi lain, teknologi yang semakin mampu bertindak sendiri membawa pertanyaan baru soal regulasi, kesiapan infrastruktur, talenta, riset, hingga keamanan siber.

Tiga Perspektif untuk Melihat Masa Depan AI Indonesia

Untuk membedah persoalan tersebut, Techpresso menghadirkan tiga figur dengan latar belakang yang berbeda. Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, akan membawa perspektif pemerintah mengenai regulasi dan kebijakan nasional, termasuk bagaimana Indonesia menyiapkan infrastruktur komputasi serta menghadapi dampak AI terhadap perekonomian.

Perspektif riset dan inovasi akan dibawa Arif Satria, Kepala BRIN. Pembahasan ini menjadi penting karena perkembangan AI tidak hanya menyangkut penggunaan teknologi yang sudah tersedia, tetapi juga kemampuan Indonesia membangun ekosistem riset dan inovasinya sendiri.

Ia akan membahas AI sebagai game changer dalam riset, pertanyaan apakah Indonesia siap menjadi AI Nation, serta arah masa depan AI Indonesia. Sementara itu, Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSec Asia, akan mengajak peserta melihat sisi yang sering menjadi tantangan ketika AI semakin mandiri yaitu aspek keamanan. 

Mulai dari lanskap ancaman regional, keamanan arsitektur sistem otonom, hingga strategi cyber defense akan menjadi bagian dari pembahasannya. Ketiga perspektif tersebut membuat Techpresso tidak berhenti pada pembahasan mengenai seberapa canggih agentic AI.

Ada pertanyaan yang lebih dekat dengan kepentingan Indonesia: siapa yang mengatur, apakah infrastrukturnya siap, siapa yang mengembangkan talentanya, bagaimana risetnya tumbuh, dan bagaimana sistem yang semakin otonom itu diamankan?

Techpresso digagas Medcom.id sebagai forum yang mempertemukan pemimpin industri, regulator, dan stakeholder untuk membahas peluang sekaligus tantangan perkembangan teknologi dan ekonomi digital di Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA