Director Commercial Leader of Professional Business Signify Indonesia, Lucas Ardhana saat membuka Signify Innovation Day 2026 (Foto: Medcom.id)
Director Commercial Leader of Professional Business Signify Indonesia, Lucas Ardhana saat membuka Signify Innovation Day 2026 (Foto: Medcom.id)

Signify Innovation Day 2026: Dorong Transformasi 'Smart City' dan Bangunan Masa Depan Lewat Inovasi Pencahayaan

Muhammad Syahrul Ramadhan • 02 September 2026 19:24
Jakarta: Guna mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060 di Indonesia, Signify (sebelumnya dikenal sebagai Philips Lighting) resmi menggelar Signify Innovation Day 2026 pada hari ini, Rabu. Acara ini menyoroti peran krusial teknologi pencahayaan dalam mentransformasi infrastruktur nasional menjadi lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

Gelaran inovasi ini dibagi menjadi dua agenda utama. Sesi pagi difokuskan pada sektor publik dengan mengupas tuntas konsep Smart and Livable Cities (kota pintar dan layak huni). Sementara itu, sesi siang menyasar sektor swasta dengan pembahasan mengenai Future-Ready Buildings, yakni strategi menciptakan infrastruktur bangunan yang adaptif terhadap kebutuhan dan tantangan masa depan.

Konsep Light Beyond Illumination

Dengan rekam jejak kehadiran selama 130 tahun di Indonesia, Signify menegaskan bahwa fungsi pencahayaan kini telah berevolusi. Melalui visi “Light Beyond Illumination”, pencahayaan modern tidak lagi sekadar urusan penerangan, melainkan instrumen penting untuk mengoptimalkan operasional kota, mengelola aset secara efisien, serta memanfaatkan energi dan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.

Empat Pilar Dampak Pencahayaan Signify


Director Commercial Leader of Professional Business Signify Indonesia, Lucas Ardhana, dalam paparannya membeberkan empat nilai tambah strategis dari pemanfaatan teknologi pencahayaan yang tepat guna.

“Kami melihat potensi yang sangat besar dari teknologi pencahayaan untuk mendukung transformasi tersebut. Sejalan dengan visi kami untuk unlock extraordinary potential of light for brighter lives and brighter world. Bagi kami, pencahayaan bukan hanya memberikan penerangan, jadi bukan hanya gelap dan terang,” kata Lucas dalam paparannya saat membuka Signify Innovation Day 2026 di Jakarta, Rabu 2 September 2026.

Pertama adalah mendukung keselamatan dan kenyamanan publik. Ia menjelaskan bahwa akses penerangan memberikan dampak sosial dan rasa aman yang nyata, terutama pasca-matahari terbenam.

Melalui program CSR Kampung Terang Hemat Energi (sejak 2015), Signify telah menerangi lebih dari 130.000 warga di 80 desa terpencil. Implementasi terbaru berupa lampu jalan tenaga surya di Kab. Buru dan Buru Selatan, Maluku, terbukti mempermudah penanganan kondisi darurat medis dan membuka peluang ekonomi warga hingga malam hari.

Kedua adalah mendorong mobilitas dan pertumbuhan ekonomi. Lucas menyebut pencahayaan arsitektural dan dinamis terbukti mampu memperkuat identitas landmark kota. Contoh nyatanya adalah penerangan jalan tenaga surya pendukung logistik di Aek Natolu, Toba. 

Selain itu ada juga pencahayaan fasad dinamis di Jembatan Pasupati, Bandung dan tata cahaya peningkat pengalaman visual saat menyaksikan pertandingan sepak bola di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Ketiga adalah optimalisasi efisiensi energi dan operasional. Salah satu caranya adalah dengan pemanfaatan LED dan sistem pencahayaan terkoneksi untuk menekan penggunaan energi. 

“Contohnya dapat dilihat melalui penerapan solusi pencahayaan terkoneksi, signifying track di tol Trans Sumatra, yang mendukung kenyamanan pengendara dan efektivitas pengelola jalan tol dan juga penggunanya,” jelasnya.

Nilai tambah keempat adalah mewujudkan keberlanjutan melalui sirkularitas. Infrastruktur pencahayaan dikelola dengan prinsip sirkularitas, yakni use longer (memperpanjang umur pakai), use less (meminimalisir konsumsi sumber daya baru), dan use again (menggunakan kembali komponen purna-pakai).
   

Komitmen Lokal dan Ajakan Kolaborasi

Signify menggarisbawahi komitmen investasi jangka panjang di Indonesia yang diwujudkan melalui fasilitas produksi dan pusat riset (R&D) yang berlokasi di Karawang. Fasilitas ini ditujukan untuk menghadirkan solusi pencahayaan yang relevan dengan karakteristik pembangunan di Tanah Air.

Senada dengan Lucas, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Akmal Malik menyampaikan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta. 

Menurutnya ke depan pencahayaan bukan hanya sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga bisa menjadi peluang untuk meningkatkan penghasilan daerah. Ia mencontohkan pengalamannya ketika mengunjungi destinasi wisata di Tiongkok yang menyajikan atraksi pencahayaan di gunung.

“Seperti ini juga banyak di Indonesia. Cuma tidak pernah pemerintah daerah berpikir bagaimana Berkolaborasi dengan teman-teman di bidang pencahayaan untuk menghasilkan uang,” ungkapnya.

“Saya tadi bertemu dengan teman-teman Danantara saya sepakat pencahayaan ke depan tidak fokus hanya pada pelayan-pelayanan kebutuhan dasar. Memang kebutuhan kita masih tinggi, tetapi itu daerah perkotaan sudah harus mulai lebih besar, bisnis seperti ini”.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA