Jakarta: Sektor telekomunikasi global tengah merasakan akselerasi yang didorong oleh adopsi Kecerdasan Buatan (AI). Berdasarkan diskusi virtual roundtable bertajuk Ciena Virtual Roundtable - Neoscalers in SEA beberapa waktu lalu, para operator di Asia Tenggara kini tengah berlomba-lomba mengakselerasi investasi strategis dalam pembangunan infrastruktur AI untuk menangkap peluang bernilai miliaran dolar. Lonjakan investasi infrastruktur AI secara global bahkan diproyeksikan akan melampaui USD1 triliun pada tahun 2026.
Menariknya, Asia Tenggara kini muncul sebagai pusat infrastruktur AI yang sangat strategis. Menurut Laporan Wave Services dari Ciena, pendapatan global untuk layanan konektivitas optik berkapasitas tinggi diproyeksikan tumbuh rata-rata 18% per tahun.
Namun, Asia Tenggara diperkirakan akan melampaui rata-rata global tersebut dengan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Gabungan (CAGR) mencapai 22%. Pertumbuhan ini didorong oleh monetisasi bernilai tinggi dari layanan konektivitas berkepadatan tinggi seperti 100G, 200G, dan 400G+.
Faktor utama lain yang mendorong dinamika ini adalah pergeseran dari tahap pelatihan AI ke tahap inferensi AI. Model AI mulai diterapkan aktif untuk melayani pengguna secara langsung. Pada tahun 2026, investasi global untuk inferensi diproyeksikan melampaui investasi pelatihan untuk pertama kalinya, dengan volume pemrosesan global menembus 10 kuadriliun token per bulan pada kuartal kedua.
Karena proses inferensi membutuhkan latensi rendah dan kepatuhan terhadap kedaulatan data lokal, permintaan akan konektivitas regional dan penerapan edge di Asia Tenggara pun meningkat pesat.
Selain itu, muncul kategori baru penyedia layanan bernama neoscaler—penyedia GPU-as-a-service yang membutuhkan jaringan otomatis dan elastis dari penyedia layanan lokal (CSP). Untuk memenuhi kebutuhan ini, CSP mulai menerapkan model bisnis inovatif seperti Managed Optical Fiber Network (MOFN).
Perubahan ini juga mengubah peta geografi internet regional akibat keterbatasan lahan dan daya di Singapura. Koridor pusat data baru kini meluas secara masif ke wilayah Johor (Malaysia) dan Indonesia yang kaya akan akses energi terbarukan, sementara Filipina menjadi titik pendaratan kabel bawah laut yang vital.
Baharul Nizam Said Daliman dari TM Global menegaskan bahwa Asia Tenggara kini telah berkembang menjadi hub utama AI global, bukan sekadar titik transit. Untuk menghadapi lonjakan ini, CSP terus memperluas kapasitas fisik mereka, mulai dari adopsi optik koheren 800G hingga peningkatan kabel standar dari 96 fiber core menjadi 384 fiber core demi membangun jaringan masa depan yang siap mendukung ekosistem AI.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan