Kepolisian London Mulai Bentuk Tim Detektif Siber
Ilustrasi: Management Events
Jakarta: Kepolisian kota London, Inggris berencana membentuk tim detektif. Satu hal yang patut disimak adalah tim ini bukan berasal dari perusahaan atau praktisi berpengalaman.

Mereka berencana merekrut langsung dari berbagai universitas di Inggris. Langkah ini diambil setelah meningkatnya ancaman serangan siber di kota tersebut.

Menurut Telegraph, Kepolisian Kota London tenga merancang program yang nantinya akan memperkerjakan lulusan ilmu computer dari universitas yang dapat membantu mereka melawan aksi peretasan.


Target awalnya adalah membangun tim yang terdiri dari lima atau enam orang, dan memulai uji coba tahun depan.

Kepala Divisi Kriminal dan Siber Kepolisian London Peter O’Doherty menyebutkan, perekrutan itu juga sekaligus membukan akademi siber yang dapat melatih personil yang telah ada.

“Detektif siber tidak akan terpaku pada pelaporan peretasan, tetapi akan membantu investigasi kejahatan siber yang lebih efisien dari kami saat ini.”

Langkah inisiatif ini mereka sebut Cyber Griffin, yang juga akan membantu berbagai lembaga keuangan mendapatkan berbagai informasi ancaman siber. Karyawan lembaga tersebut juga akan mendapatkan pelatihan penindakan oleh pegawai khusus.

Inisiatif Cyber Griffin juga meluncur besamaan dengan rencana pemerintahan kota London untuk membentuk pengadilan siber yang akan terfokus pada kejahatan berbasis computer.

Saat ini, bank, perusahaan asuransi, dan perusahaan pengelolaan aset sedang bertarung dengan perusahaan teknologi memperebutkan lulusan dengan kemampuan yang pas untuk menghadapi hacker yang saat ini makin canggih.

Lembaga The CityUK mengatakan bahwa tahun lalu mereka ingin membuka akademi spesialis siber yang khusus menangani sektor keuangan. Diharapkan lulusannya punya pilihan lebih banyak, tidak harus bekerja di pemerintahan atau perusahaan teknologi.

Serangan siber terhadap lembaga keuangan memang bisa berdampak sangat fatal. Meskipun hacker belum tentu berhasil mencuri uang, reputasi lembaga itu, seperti bank, akan rusak secara cepat.

Tahun 2015, perusahaan telekomunikasi TalkTalk dibobol, dan hacker berhasil mencuri 157 ribu data pelanggan, termasuk data kartu kredit, rekening bank, nomor telepon, dan nama pelanggan. Serangan itu juga membuat TalkTalk didenda Rp7,5 miliar, dan kehilangan 95 ribu pelanggan.  



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.