Ilustrasi.
Ilustrasi.

Studi: AI Bisa Bikin Manusia Kurang Kreatif, Ini Penjelasan Penelitinya

Cahyandaru Kuncorojati • 01 Juli 2026 10:46
Ringkasnya gini..
  • Penelitian terbaru mengungkap penggunaan AI berpotensi membuat keputusan manusia menjadi semakin seragam.
  • Model AI seperti chatbot cenderung memberikan rekomendasi yang paling umum sehingga dapat mengurangi keberagaman pilihan.
  • Peneliti menyarankan pengembang AI menghadirkan fitur "exploration mode" agar pengguna tetap menemukan ide-ide baru.
Jakarta: Kemampuan artificial intelligence (AI) terus berkembang dan mulai dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari mencari informasi, membuat konten, hingga memberikan rekomendasi produk maupun destinasi wisata.
 
Namun, di balik kemudahan tersebut, sebuah penelitian terbaru mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan juga berpotensi membawa dampak yang kurang disadari, yakni membuat cara berpikir manusia menjadi lebih seragam dan kurang kreatif.
 
Dikutip dari laporan CBSNews, temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Sandra Matz, profesor di Columbia Business School. Menurutnya, model bahasa besar atau Large Language Models (LLM) yang menjadi dasar berbagai aplikasi AI saat ini memang dirancang untuk memprediksi jawaban yang paling mungkin muncul. 

Akibatnya, rekomendasi yang diberikan sering kali mengarah pada pilihan yang dianggap paling umum dibanding alternatif yang lebih unik.
 

AI Cenderung Memberikan Jawaban yang "Aman"

Matz menjelaskan bahwa cara kerja LLM membuat AI lebih sering menghasilkan jawaban berdasarkan pola yang paling banyak ditemukan dari data pelatihan.
 
Dengan kata lain, ketika pengguna meminta rekomendasi film, warna cat rumah, tempat liburan, atau bahkan sepatu yang cocok, AI cenderung menawarkan pilihan yang populer dibandingkan opsi yang lebih beragam.
 
"LLM memprediksi kata berikutnya yang paling mungkin muncul. Secara definisi, hasilnya adalah sesuatu yang bersifat rata-rata," kata Matz.
 
Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat keputusan banyak orang menjadi semakin mirip karena memperoleh rekomendasi yang hampir sama.
 

Penelitian Libatkan Lebih dari 110.000 Keputusan

Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti menganalisis lebih dari 110.000 keputusan nyata yang dibuat oleh sekitar 1.000 responden.
 
Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan keputusan yang dihasilkan AI generik maupun AI yang telah dipersonalisasi sesuai karakter pengguna.
 
Penelitian juga memanfaatkan data dari proyek myPersonality, sebuah studi berbasis Facebook yang mengumpulkan hasil tes kepribadian pengguna yang bersedia membagikan datanya untuk kepentingan riset.
 
Dari analisis tersebut, peneliti menemukan bahwa AI cenderung mengarahkan pengguna pada pilihan yang lebih umum dan mengurangi kecenderungan untuk mengeksplorasi opsi yang tidak biasa.
 

AI Dinilai Kurang Menyukai Risiko

Menurut Matz, AI pada dasarnya tidak menyukai risiko karena memang dilatih untuk memberikan jawaban yang dianggap paling relevan dan paling aman.
 
Pendekatan tersebut juga dinilai menguntungkan platform karena mampu mempertahankan keterlibatan pengguna dengan terus menampilkan hal-hal yang sesuai preferensi mereka.
 
Akibatnya, AI lebih jarang mendorong pengguna mencoba sesuatu yang benar-benar baru atau berbeda dari kebiasaan mereka. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mempersempit keberagaman pengalaman, preferensi, bahkan kreativitas individu.
 
Meski demikian, Matz menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti AI harus selalu bekerja seperti sekarang.
 
Ia mengusulkan agar pengembang menghadirkan fitur "exploration mode", yakni mode yang memungkinkan AI memberikan rekomendasi yang lebih beragam, tidak selalu berdasarkan pilihan paling populer.
 
Dengan pendekatan tersebut, pengguna tetap memperoleh manfaat AI tanpa kehilangan kesempatan menemukan ide, minat, atau pengalaman baru yang mungkin berada di luar preferensi mereka selama ini.
 
Menurut Matz, langkah tersebut penting agar AI tidak justru membuat budaya dan preferensi masyarakat semakin homogen di masa depan.
 

AI Tetap Bermanfaat, tetapi Perlu Digunakan Secara Bijak

Temuan ini tidak menyimpulkan bahwa AI akan membuat manusia kehilangan kreativitas secara otomatis. Sebaliknya, penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan, bukan sebagai satu-satunya sumber rekomendasi.
 
Dengan tetap mengombinasikan masukan AI dan penilaian pribadi, pengguna masih dapat mengeksplorasi berbagai pilihan baru tanpa sepenuhnya bergantung pada jawaban yang dihasilkan algoritma.
 
Seiring semakin luasnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari, keseimbangan antara efisiensi teknologi dan kebebasan berpikir manusia diperkirakan akan menjadi salah satu tantangan penting dalam pengembangan kecerdasan buatan ke depan.
 
Gunakan AI sebagai alat untuk memperluas wawasan, bukan menggantikan rasa ingin tahu. Sesekali cobalah mencari referensi dari berbagai sumber atau mengambil keputusan berdasarkan pengalaman pribadi agar kreativitas dan cara berpikir tetap berkembang.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA