Pembukaan HSL 2018. (medcom.id)
Pembukaan HSL 2018. (medcom.id)

HSL 2018 Ingin Edukasi Orangtua Soal Esport

Teknologi esport
Ellavie Ichlasa Amalia • 13 Desember 2018 16:16
Jakarta:Di mata orangtua, game tidak lebih dari sekadar pengalih perhatian anak. Tidak sedikit orangtua yang melarang anaknya untuk bermain. Citra inilah yang ingin diubah, ungkap Sonny Hadi Sukotjo, Vice President JD.ID HSL (High School League) 2018.
 
Dalam acara yang diadakan di Britama Arena, Sonny bercerita bahwa pada awalnya, dia tidak berharap banyak dengan acara ini. Dia mengatakan, ada banyak kekhawatiran apakah acara ini akan bisa sukses.
 
"Kita mengundang sekolah untuk ikut serta dalam turnamen game, apa gurunya mau? Dan sebuah acara itu perlu biaya, kita harus cari sponsor. Apa ada perusahaan yang mau sponsori acara yang pesertanya pelajar," katanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karena HSL 2018 adalah liga amatir yang mempertemukan para gamer SMA untuk bertanding di Mobile Legends dan DOTA 2.
 
Meskipun begitu, HSL 2018 terbukti sukses. Dengan target 100 sekolah, ternyata ada lebih dari 300 sekolah yang mendaftar untuk ikut serta. Sebanyak 173 tim esport SMA/SMK Indonesia mengikut pertandingan DOTA 2 sementara 230 tim mengikuti Mobile Legends.Hari ini, pertandingan final diadakan.
 
Sonny mengatakan, alasan HSL 2018 mempertandingkan DOTA 2 sebagai pertandingan utama adalah karena game itu dianggap sebagai game esport dengan turnamen paling bergengsi.
 
"Jumlah pemain mungkin memang lebih banyak League of Legends, tapi untuk turnamen paling bergensit tetap DOTA 2," katanya.
 
Sementara Mobile Legends dipilih sebagai game pendamping. Ke depan, dia mengatakan, HSL akan menambah game yang dilombakan. Namun, mereka harus mempertimbangkan game baru yang akan cocok untuk dilombakan.
 
Untuk memastikan tidak ada pemain yang bermain curang, HSL mengadakan babak kualifikasi di kawasan yang sudah mereka tentukan.
 
"Kalau tidak seperti itu, mungkin para pemain sudah dijoki. Lomba kita adalah liga amatir. KIta tidak terima pemain profesional," kata Sonny. Dia mengungkap, ada dua sekolah yang didiskualifikasi karena memiliki pemain profesional.
 
HSL 2018 Ingin Edukasi Orangtua Soal Esport
Ki-ka: Yohannes, Henry, Sonny. (Medcom.id)
 
Sebagai sponsor, Henry Yacob, Head of Gaming and Computer Accessories JD.ID mengatakan bahwa alasan JD.ID memutuskan untuk menjadi sponsor adalah karena acara ini memiliki konsep yang menarik.
 
"Kami mendukung karena kami setuju untuk mencari talenta baru," katanya. "JD.ID punya misi untuk advancing Indonesia, dan ini bisa diwujudkan melalui acara ini."
 
Yohannes Siagian, Kepala Sekolah SMA 1 PSKD mengatakan bahwa kunci kesuksesan acara seperti HSL 2018 adalah pada dukungan sekolah.
 
Dia mengatakan, sekolah sebenarnya terbuka untuk mencoba hal baru. Hanya saja, mereka enggan untuk mencoba hal baru karena khawatir akan respons dari orangtua.
 
Karena itulah, HSL mengadakan roadshow ke lima kota untuk memperkenalkan perbedaan antara bermain game biasa dengan esport. Lima kota yang dihadiri adalah Medan, Bandung, Solo, Surabaya, dan Makassar.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif