Ilustrasi.
Ilustrasi.

Harga HP Berpotensi Naik, Pasar Smartphone Mulai Melambat? Ini Tanda-tandanya Menurut Riset

Cahyandaru Kuncorojati • 30 Juli 2026 09:25
Ringkasnya gini..
  • Riset Counterpoint menunjukkan pengiriman chipset smartphone global turun 15 persen pada semester I 2026.
  • Harga memori melonjak 300 persen sehingga biaya produksi HP meningkat dan segmen entry-level paling terdampak.
  • Meski pasar melambat, smartphone berbasis AI justru masih tumbuh 24 persen berkat permintaan di kelas premium.
Jakarta: Harga smartphone diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dalam beberapa waktu ke depan. Di saat yang sama, industri ponsel global juga mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan, mulai dari turunnya produksi chipset hingga semakin sedikitnya permintaan di segmen smartphone murah.
 
Temuan tersebut diungkap Counterpoint Research dalam laporan terbaru mengenai pasar chipset smartphone global. Lembaga riset itu mencatat pengiriman System-on-Chip (SoC) smartphone turun 15 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada semester pertama 2026.
 
Penurunan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari melonjaknya harga memori, produsen smartphone yang lebih berhati-hati mengelola persediaan, hingga semakin panjangnya siklus konsumen mengganti perangkat baru. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2027 karena pasokan memori belum diprediksi pulih dalam waktu dekat.
 

Harga Memori Melonjak, Biaya Produksi Smartphone Ikut Naik

Menurut laporan Counterpoint Research, harga memori smartphone melonjak lebih dari 300 persen pada kuartal II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan tersebut membuat biaya memori kini bahkan melampaui biaya chipset pada seluruh segmen smartphone.

Kondisi itu mendorong banyak produsen smartphone mengamankan kontrak pasokan memori jangka panjang untuk mengantisipasi kelangkaan komponen sekaligus menjaga keberlangsungan produksi.
 
Artinya, kenaikan biaya produksi smartphone saat ini bukan lagi terutama disebabkan peningkatan spesifikasi perangkat, melainkan mahalnya harga komponen memori.
 
Meski demikian, tren premiumisasi pasar masih terus berlangsung. Counterpoint mencatat pengiriman chipset yang mendukung fitur Generative AI (GenAI) justru tumbuh 24 persen dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya minat konsumen terhadap fitur AI pada smartphone kelas menengah hingga flagship.
 

Smartphone Murah Paling Terpukul, Qualcomm dan MediaTek Kehilangan Pangsa Pasar

Counterpoint memperkirakan pengiriman chipset smartphone global sepanjang 2026 akan turun sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
 
Segmen entry-level diprediksi menjadi yang paling terdampak dengan penurunan pengiriman lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini.
 
Di tengah kondisi tersebut, pengiriman chipset MediaTek dan Qualcomm sama-sama turun lebih dari 25 persen pada semester pertama 2026.
 
Senior Analyst Counterpoint Research Shivani Parashar mengatakan Apple justru berhasil meningkatkan pangsa pasarnya berkat performa seri iPhone 17.
 
“Pangsa pasar Apple meningkat 4 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong oleh performa yang kuat dari seri iPhone 17. Di sisi lain, Qualcomm dan MediaTek kehilangan pangsa pasar, meski karena alasan yang berbeda,” kata Parashar.
 
“Pertumbuhan di segmen premium Qualcomm terbatas karena seri Samsung Galaxy S26 menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 sekaligus Exynos 2600 buatan Samsung, berbeda dengan generasi sebelumnya yang sepenuhnya menggunakan chipset Qualcomm,” tuturnya.
 
“Penjualan seri Xiaomi 17 yang lebih lemah juga menekan pengiriman chipset premium Qualcomm. Sementara itu, MediaTek terdampak krisis memori pada chipset 5G kelas bawah, meski seri premium Dimensity 9500 tetap menunjukkan kinerja yang baik berkat digunakan oleh vivo, Oppo, Poco, dan Redmi,” jelas Parashar.
 
Parashar juga menjelaskan banyak produsen mulai beralih menggunakan chipset 4G milik Unisoc pada smartphone entry-level demi menekan biaya produksi.
 
"Banyak model smartphone entry-level kini beralih menggunakan platform 4G dari Unisoc untuk menekan biaya produksi. Langkah tersebut membantu Unisoc mencatat pertumbuhan pada semester pertama 2026. Selain itu, Unisoc juga mulai menunjukkan kemajuan dalam adopsi 5G melalui kerja sama dengan Poco dan Redmi."
 

Industri Smartphone Diperkirakan Masih Sulit hingga 2027

Principal Analyst Counterpoint Research Soumen Mandal menilai tekanan terhadap industri smartphone belum akan berakhir dalam waktu dekat.
 
"Pengiriman chipset smartphone global diperkirakan turun 14 persen sepanjang 2026. Segmen entry-level akan menjadi yang paling terdampak dengan penurunan lebih dari 30 persen,” ungkap Mandal.
 
“Pada semester pertama 2026, biaya memori telah melampaui biaya chipset di seluruh segmen harga smartphone, dan kami tidak memperkirakan pasokan memori akan kembali normal sebelum paruh kedua 2027. Artinya, industri smartphone masih berpotensi menghadapi tahun yang berat pada 2027,” jelasnya.
 
Jika proyeksi tersebut terjadi, konsumen kemungkinan akan melihat semakin sedikit pilihan smartphone murah di pasaran, sementara harga perangkat baru tetap berada di bawah tekanan akibat mahalnya biaya komponen. 
 
Di sisi lain, produsen diperkirakan akan semakin fokus mengembangkan smartphone kelas menengah hingga premium yang menawarkan fitur AI karena masih menunjukkan pertumbuhan permintaan.
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA