Cloudera Evolve 2026 Singapore
Cloudera Evolve 2026 Singapore

Sovereign AI Jadi Kebutuhan Mendesak, Data Tetap Aman di Lingkungan Internal

Mohamad Mamduh • 20 Agustus 2026 16:10
Ringkasnya gini..
  • Hal tersebut ditegaskan oleh CEO Cloudera Charles Sansbury, dalam rangkaian sesi global Cloudera Evolve 2026 di Singapura.
  • Saat ini, platform Cloudera telah mengelola lebih dari 30 exabytes data di seluruh dunia.
  • Langkah ini diperkuat dengan investasi masif senilai USD1 miliar (sekitar Rp15,5 triliun) yang digelontorkan Cloudera selama tiga tahun terakhir.
Singapura: Pesatnya adopsi AI di sektor enterprise membawa tantangan baru: bagaimana memaksimalkan potensi data bisnis tanpa mengorbankan keamanan dan kedaulatan data internal. Menjawab tantangan tersebut, implementasi Sovereign AI dan Private AI kini dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi organisasi berskala besar.
 
Hal tersebut ditegaskan oleh CEO Cloudera Charles Sansbury, dalam rangkaian sesi global Cloudera Evolve 2026 di Singapura. Menurutnya, data kontekstual yang dimiliki korporasi adalah kunci diferensiasi layanan dan penentu keunggulan bisnis. Namun, tantangan terbesarnya adalah data tersebut tersebar di berbagai lini organisasi dan tidak boleh bocor ke luar lingkungan keamanan tepercaya.
 
"Tren yang kian mengemuka dari para pelanggan adalah pentingnya memanfaatkan konteks data enterprise, tetapi dengan memastikan data tersebut tidak pernah meninggalkan perimeter keamanan tepercaya Anda. Baik itu untuk Private AI maupun Sovereign AI, struktur anywhere cloud menjadi fondasi sistem operasi yang esensial," ujar Charles.

Charles memaparkan fenomena gravitasi data yang kian menguat. Berdasarkan survei berkala Cloudera terhadap para pelanggan globalnya, porsi beban kerja dan data strategis yang dipertahankan di infrastruktur lokal dan private cloud terus meningkat.
 
Meski keberadaan public cloud tetap krusial, realitas operasional untuk korporasi modern adalah arsitektur hybrid. Kondisi ini menuntut fleksibilitas dalam memetakan beban kerja komputasi berdasarkan parameter kinerja, biaya, hingga kepatuhan keamanan yang ketat.
 
"Teknologi cloud telah mengubah cara kita memanfaatkan teknologi, tetapi cloud tidak mengubah tempat data kita berdiam. Kehadiran AI justru mempertegas pentingnya memanfaatkan data tersebut di mana pun ia berada. Pendekatan kami adalah membawa model operasional cloud langsung ke lokasi data untuk mengoptimalkan nilai bisnisnya," lanjut Charles.
 
Saat ini, platform Cloudera telah mengelola lebih dari 30 exabytes data di seluruh dunia. Untuk mengakomodasi kebutuhan Sovereign AI, Cloudera menghadirkan single control plane terpadu yang memberikan visibilitas, tata kelola data (governance), lineage, hingga aksesibilitas yang identik di on-premise, private cloud, maupun public cloud.
 
Langkah ini diperkuat dengan investasi masif senilai USD1 miliar (sekitar Rp15,5 triliun) yang digelontorkan Cloudera selama tiga tahun terakhir melalui alokasi riset dan pengembangan (R&D) serta tiga akuisisi strategis. Investasi tersebut difokuskan untuk membangun layer operasional dan tata kelola data yang siap mendukung transisi dari Generative AI menuju era Agentic AI.
 
Charles menutup dengan menekankan bahwa pemilihan Singapura sebagai pembuka tur global didasari oleh tingginya kematangan ekosistem teknologi di kawasan Asia Pasifik. Pasar regional ini dinilai paling menuntut standar teknis tinggi sekaligus paling agresif dalam menciptakan inovasi berbasis kedaulatan data yang aman.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA