Pilihan software gratis tersebut hadir dengan fungsi yang berbeda-beda. Beberapa menawarkan fitur penyuntingan foto, sementara lainnya dirancang untuk membuat ilustrasi vektor, mengolah video, mengerjakan dokumen perkantoran, hingga memproduksi model tiga dimensi.
Meski tidak semuanya memiliki fitur selengkap aplikasi berbayar, software gratis tetap bisa memenuhi kebutuhan pengguna, mulai dari pekerjaan sehari-hari hingga proyek kreatif. Berikut lima alternatif yang dapat dipertimbangkan.
1. Blender, Alternatif Autodesk 3ds Max
Bagi pengguna yang ingin membuat model tiga dimensi tanpa membeli lisensi software, Blender bisa menjadi pilihan. Aplikasi open-source ini menyediakan beragam fitur untuk pemodelan 3D, pembuatan animasi, simulasi, hingga rendering.
Blender juga mendukung proses pembuatan karakter dan objek dengan detail yang dapat disesuaikan. Selain itu, aplikasi ini memiliki fitur penyuntingan video dasar sehingga pengguna dapat mengerjakan beberapa kebutuhan kreatif melalui satu software.
Kemampuan Blender telah dimanfaatkan dalam berbagai proyek animasi, termasuk produksi film profesional. Salah satu film pendek animasi yang dibuat menggunakan Blender adalah Flow, yang memenangkan penghargaan Film Animasi Terbaik di Academy Awards 2025.
Namun, banyaknya fitur bisa membuat Blender terasa rumit bagi pemula. Pengguna baru perlu mempelajari antarmuka dan alur kerjanya sebelum dapat memaksimalkan kemampuan aplikasi ini
2. LibreOffice, Alternatif Microsoft Office
LibreOffice cocok untuk pengguna yang membutuhkan aplikasi pengolah dokumen tanpa biaya langganan. Paket perkantoran open-source ini menyediakan beberapa program utama, yaitu Writer untuk dokumen teks, Calc untuk spreadsheet, dan Impress untuk presentasi.
Ketiganya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti menyusun laporan, membuat perhitungan, mengolah data, hingga menyiapkan materi presentasi. Pengguna juga bisa memanfaatkannya untuk pekerjaan sekolah, kuliah, maupun aktivitas perkantoran.
Meski demikian, tampilan dan tata letak LibreOffice berbeda dari Microsoft Office. Dokumen DOCX atau presentasi PPTX juga terkadang mengalami perubahan format ketika dibuka atau disimpan melalui aplikasi ini.
Beberapa fitur lanjutan Microsoft Excel, seperti Power Query dan Power Pivot, tidak tersedia secara langsung dengan kemampuan yang sama di LibreOffice Calc. Karena itu, pengguna yang mengandalkan fitur khusus Microsoft Office perlu memeriksa kompatibilitasnya terlebih dahulu.
3. Kdenlive, Alternatif Adobe Premiere Pro
Kdenlive merupakan software penyunting video gratis yang dapat digunakan sebagai alternatif Adobe Premiere Pro. Aplikasi open-source ini menyediakan timeline untuk menyusun klip, memotong rekaman, menambahkan transisi, serta mengatur berbagai elemen dalam video.
Pengguna dapat memanfaatkan Kdenlive untuk mengerjakan konten media sosial, video YouTube, maupun proyek audiovisual lainnya. Alur penyuntingannya menggunakan sistem timeline sehingga pengguna dapat mengatur urutan klip dan menyesuaikan elemen video sesuai kebutuhan.
Kdenlive telah dikembangkan selama bertahun-tahun dan menawarkan berbagai fitur penyuntingan. Namun, pengguna yang terbiasa menggunakan Premiere Pro mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan tampilan dan cara kerja aplikasi ini.
Alternatif lainnya adalah DaVinci Resolve yang menyediakan versi gratis dengan kemampuan penyuntingan video dan koreksi warna yang cukup lengkap. Meski begitu, DaVinci Resolve bukan software open-source dan kebutuhan perangkatnya perlu diperhatikan sebelum digunakan.
4. Inkscape, Alternatif Adobe Illustrator
Untuk membuat logo, ikon, ilustrasi, dan desain grafis berbasis vektor, pengguna dapat mencoba Inkscape. Software gratis ini memungkinkan gambar diperbesar atau diperkecil tanpa kehilangan ketajaman seperti yang dapat terjadi pada gambar berbasis piksel.
Fitur tersebut membuat Inkscape cocok untuk mengerjakan logo, ilustrasi digital, poster, serta elemen visual untuk situs web. Aplikasi ini juga mendukung format SVG atau Scalable Vector Graphics, yang banyak digunakan dalam desain grafis digital.
Meski memiliki fungsi serupa dengan Adobe Illustrator untuk sejumlah pekerjaan, keduanya tidak sepenuhnya identik. Pengguna yang berpindah dari Illustrator perlu memperhatikan kompatibilitas file, terutama ketika menggunakan fitur atau efek tertentu.
Untuk mengurangi risiko perubahan tampilan, desain dapat diekspor ke format SVG sebelum dibuka di aplikasi lain. Langkah tersebut bisa membantu mempertahankan elemen vektor, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada fitur yang digunakan.
5. PhotoCraft, Alternatif Adobe Photoshop
PhotoCraft dapat dipertimbangkan oleh pengguna yang mencari alternatif gratis untuk mengedit foto. Aplikasi ini dikembangkan sebagai bagian dari proyek ArtCraft dan menawarkan antarmuka yang dirancang agar terasa familier bagi pengguna software penyuntingan gambar.
PhotoCraft juga disebut mendukung sejumlah kemampuan seperti layer, mask, serta format PSD. Fitur tersebut dapat membantu pengguna mengatur elemen gambar secara terpisah dan mengerjakan penyuntingan dengan alur kerja yang menyerupai aplikasi profesional.
Namun, PhotoCraft masih dalam tahap pengembangan dan kemampuan yang tersedia belum tentu menyamai Photoshop. Penggunaan memori yang relatif tinggi serta keterbatasan fitur tertentu juga perlu menjadi pertimbangan sebelum menjadikannya aplikasi utama.
Jika membutuhkan editor foto gratis dengan ekosistem yang lebih matang, pengguna dapat mempertimbangkan GIMP. Software open-source tersebut menyediakan beragam fitur untuk manipulasi foto dan penyuntingan gambar tanpa biaya lisensi.
Kelima software tersebut menawarkan pilihan bagi pengguna yang ingin menekan biaya penggunaan aplikasi desktop. Blender berfokus pada kebutuhan 3D, LibreOffice untuk produktivitas perkantoran, Kdenlive untuk penyuntingan video, Inkscape untuk ilustrasi vektor, dan PhotoCraft untuk pengolahan foto.
Sebelum memilih, sesuaikan aplikasi dengan kebutuhan, spesifikasi perangkat, serta format file yang biasa digunakan. Dengan begitu, software gratis dapat menjadi alternatif yang tepat tanpa harus langsung berlangganan aplikasi berbayar.
(Sheva Asyraful Fali)