Ketua Umum Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC), Nawi Jaya.
Ketua Umum Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC), Nawi Jaya.

Indonesia Diminta Tak Sekadar Bangun Data Center, Ekosistem Harus Diperkuat

Cahyandaru Kuncorojati • 20 Agustus 2026 17:25
Ringkasnya gini..
  • IDCEC mendorong Indonesia mengubah paradigma pembangunan data center dari fokus kapasitas menjadi penguatan ekosistem.
  • Investor kini tidak hanya mencari lahan dan listrik, tetapi juga kepastian regulasi, konektivitas, talenta, sustainability, dan kemampuan eksekusi.
  • Jakarta dan Batam disebut menjadi dua kawasan penting dalam perkembangan data center Indonesia di tengah pertumbuhan AI dan layanan digital.
Jakarta: Indonesia dinilai tidak cukup hanya berlomba menambah kapasitas data center untuk menangkap derasnya investasi digital. 
 
Di tengah pertumbuhan cloud, artificial intelligence (AI), dan layanan digital, industri membutuhkan ekosistem yang mampu membuat proyek data center tetap reliable, sustainable, investable, dan scalable.
 
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC), Nawi Jaya, dalam sesi perkenalan organisasi. 

Menurutnya, perubahan kebutuhan industri membuat data center tidak lagi sekadar persoalan gedung, server, listrik, atau sistem pendingin, melainkan bagian dari infrastruktur strategis ekonomi digital Indonesia.
 

Data Center Indonesia Masuk Fase Baru

Menurut Nawi, pertumbuhan data center kini didorong sejumlah faktor, mulai dari cloud computing, AI, layanan digital, investasi infrastruktur, hingga terbentuknya ekosistem regional yang semakin terintegrasi.
 
"AI menjadi salah satu pendorong terbesarnya karena membutuhkan kapasitas komputasi yang lebih besar, rack density yang lebih tinggi, serta kebutuhan daya dan pendinginan yang meningkat," ujarnya.
 
Kondisi tersebut turut tercermin dari perkembangan infrastruktur di Indonesia. Pada semester pertama 2026, kapasitas IT dan data center yang beroperasi di Jakarta mencapai 356 megawatt, sementara kapasitas yang masih dalam konstruksi berada di 395 MW. Pipeline pengembangan bahkan mencapai 1.304 MW atau sekitar 1,3 gigawatt.
 
Angka itu menunjukkan besarnya minat investor terhadap Indonesia. Jakarta masih dipandang sebagai pusat utama pertumbuhan hyperscale, sedangkan Batam dinilai memiliki peluang berkembang sebagai hub strategis nasional, termasuk untuk pengembangan AI data center.
 

Investor Tidak Lagi Hanya Mencari Lahan dan Listrik

Besarnya potensi pasar Indonesia, menurut Nawi, belum otomatis menjadi keunggulan kompetitif.
 
Investor data center membutuhkan lebih dari sekadar lokasi pembangunan dan pasokan listrik. Faktor yang ikut menentukan antara lain kepastian kebijakan, availability of power, connectivity, talent, sustainability, serta execution capability.
 
Karena itu, Indonesia perlu memastikan pembangunan pusat data tidak berjalan sendiri-sendiri. Infrastruktur fisik harus berkembang seiring dengan regulasi, sumber daya manusia, teknologi, dan kemampuan eksekusi proyek.
 
Nawi menegaskan perubahan paradigma tersebut. “Paradigma industri harus berubah, yaitu dari company to company menjadi ecosystem by ecosystem.”
 
Menurutnya, competitive advantages baru akan terbentuk ketika potensi Indonesia bisa diterjemahkan menjadi proyek yang andal, berkelanjutan, layak investasi, dan mampu berkembang dalam jangka panjang.
 

Lima Friksi yang Perlu Diselesaikan Bersama

IDCEC mengidentifikasi lima persoalan utama yang perlu ditangani jika Indonesia ingin memperkuat ekosistem data center.
 
Kelima area tersebut mencakup policy dan standard, talent dan kompetensi, power/efisiensi/sustainability, knowledge dan best practice, serta ecosystem dan coordination.
 
Kelima aspek itu saling berkaitan. Pertumbuhan AI meningkatkan kebutuhan komputasi, daya, dan pendinginan. Pertumbuhan cloud meningkatkan kebutuhan konektivitas. Investasi kemudian ikut terdorong. Namun seluruh rantai tersebut membutuhkan ekosistem yang mampu bergerak bersama.
 
Nawi juga mengingatkan semakin besar investasi yang masuk, semakin besar tanggung jawab untuk memastikan ekspansi tersebut tidak menciptakan persoalan baru pada power, talent, policy, sustainability, maupun knowledge.
 

IDCEC Hadir sebagai Penghubung Ekosistem

Momen perkenalan IDCEC menjadi penting dalam konteks tersebut. Organisasi ini menyatakan tidak ingin mengambil alih peran pelaku industri atau lembaga yang sudah ada.
 
Sebaliknya, IDCEC ingin menjadi ruang yang mempertemukan operator, technology provider, pemerintah, investor, akademisi, komunitas, dan media untuk berbagi pengetahuan dan membangun agenda bersama.
 
Bagi operator, misalnya, IDCEC menawarkan ruang benchmarking, knowledge exchange, dan talent pipeline. Technology provider dapat memperoleh ruang dialog industri dan pemahaman pasar, sementara regulator diharapkan mendapatkan saluran structured feedback dan constructive dialogue. 
 
Investor juga menjadi salah satu pihak yang ditargetkan mendapat peningkatan ecosystem visibility dan confidence.
 

SDM Indonesia Harus Jadi Bagian dari Pertumbuhan

Penguatan ekosistem juga mencakup pembangunan talenta lokal. IDCEC ingin memastikan pertumbuhan industri tidak hanya menghasilkan lebih banyak fasilitas, tetapi juga meningkatkan kompetensi tenaga profesional Indonesia.
 
“Kami ingin memastikan bahwa ketika industri data center Indonesia berkembang, SDM Indonesia bukan hanya menjadi penonton, tapi harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri," kata Nawi.
 
Penguatan tersebut mencakup kompetensi, sertifikasi, pengalaman praktis, dan peluang karier bagi tenaga kerja profesional di Indonesia.
 
Pada akhirnya, perkenalan IDCEC membawa pesan bahwa pertumbuhan data center Indonesia tidak cukup diukur dari berapa banyak megawatt yang dibangun. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap proyek didukung ekosistem yang kuat dan mampu membuat Indonesia semakin siap menerima investasi digital berkualitas.
 
Seperti ditegaskan IDCEC, masa depan ekonomi digital membutuhkan lebih dari sekadar data center. Indonesia membutuhkan ekosistem data center yang kuat, kompetitif, sustainable, dan berdaya saing global.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA