Pasar Asia Tumbuh, Investasi Layanan VOD Capai Rp153 Triliun

Mohammad Mamduh 31 Oktober 2018 12:05 WIB
teknologi
Pasar Asia Tumbuh, Investasi Layanan VOD Capai Rp153 Triliun
Ilustrasi: Modern Times
Jakarta: Hasil studi baru dirilis oleh firma strategi dan ekonomi AlphaBeta berjudul “Asia-On-Demand: The Growth of Video-on-demand Investment in Local Entertainment Industries”.

Penyedia layanan video-on-demand (VOD) diperkirakan akan berinvestasi hingga USD10,1 miliar atau setara Rp153 triliun di Asia pada 2022. Nilai ini meningkat 3,7 kali lebih tinggi dari investasi pada 2017.

Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa konsumen layanan VOD di Asia terus menunjukkan minat yang besar untuk mengonsumsi konten lokal. Faktor tersebut akan mendorong para pelaku industri fokus dalam membuat konten yang lebih relevan secara lokal.


Sekitar USD4 miliar (Rp60,9 triliun) dari perkiraan akan berupa investasi asing langsung dari para pelaku industri di tingkat global. Selain itu, manfaat ekonomi dari pemain VOD akan mencapai lebih dari 3 kali nilai pembelanjaan investasi.

Hal ini, terutama jika mengingat pengeluaran langsung di industri untuk operasional utama (seperti perlengkapan, transportasi, katering, pemasaran, perhotelan, dan lain sebagainya), yang mendorong indirect spending oleh pemasok (seperti lensa kamera, katering, transportasi, bahan bakar, dan lain sebagainya), dan induced spending dari pekerja yang menghabiskan gaji mereka di Asia ini.



Pembelanjaan di 2022 dapat membuka lapangan pekerjaan hingga mencapai 736.000, dan akan ada keuntungan lebih dari industri lain, seperti pariwisata, musik, atau produk merchandise.
 
Pada waktu yang bersamaan, studi ini menemukan bahwa jumlah pelanggan berbayar di Asia diperkirakan akan bertambah dua kali lipat dalam lima tahun. Menjadi bukti penonton di negara Asia mempunyai minat yang kuat untuk mengonsumsi konten lokal berkualitas tinggi.

Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, layanan VOD harus bisa menjadi lebih relevan secara lokal, dengan meningkatkan investasi untuk mengembangkan lebih banyak konten lokal berkualitas tinggi yang bisa menarik dan mempertahankan pelanggan.
 
Berkomentar mengenai laporan ini, Konstantin Matthies, AlphaBeta Engagement Manager, mengatakan, “Mengingat bahwa industri VOD masih dalam tahap awal, dampak ekonomi dari layanan VOD di Asia - khususnya industri hiburan - hanya mendapatkan perhatian yang terbatas hingga saat ini.”
 
“Seiring berkembangnya industri VOD di Asia, permintaan terhadap konten yang relevan secara lokal akan mendorong para pemain untuk berinvestasi lebih banyak pada karya-karya dari Asia.”

Saat ini, VOD mempermudah tayangan hiburan dari Asia untuk menjangkau setidaknya 450 juta orang di seluruh dunia. Layanan VOD memungkinkan menyebarnya konten hiburan dari Asia ke khalayak lebih luas di luar negeri.

Contohnya, serial TV “Sacred Games” dari India ditonton oleh penonton di lebih dari 190 negara. Hal ini berpotensi memicu pengaruh budaya dan permintaan akan ekspor dari Asia, termasuk pariwisata.

Dampak ekonomi pada industri lokal serta ekonomi yang lebih luas diproyeksikan akan bernilai 3 kali lebih dari angka belanja konten oleh pemain VOD. Sebagai tambahan, akan ada efek manfaat spillover bagi industri lainnya, seperti pariwisata, musik, produk merchandise dan lainnya.  

Lebih dari 80 persen eksekutif VOD mengatakan bahwa iklim investasi yang bersahabat, regulasi yang mendukung, serta infrastruktur untuk memproduksi konten yang berkualitas tinggi adalah kunci untuk memicu investasi di konten.Reformasi kebijakan di bidang-bidang tersebut dapat mewujudkan “virtuous cycles”.

Investasi di konten lokal akan menghasilkan konten berkualitas tinggi, yang akan menumbuhkan permintaan, kemudian memperkuat insentif untuk investasi selanjutnya. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.