Sebuah riset terbaru dari Kaspersky mengungkapkan lebih dari separuh Gen Z pernah mengalami serangan siber yang menyasar perangkat, akun online, maupun data pribadi mereka.
Penelitian yang dilakukan pusat riset pasar internal Kaspersky terhadap 7.200 responden di 18 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan 52 persen responden Gen Z mengaku pernah menjadi korban serangan siber.
Bentuk insiden yang paling banyak dialami antara lain pembajakan akun media sosial hingga kehilangan akses ke akun game.
Temuan ini muncul di tengah tingginya aktivitas digital generasi tersebut. Sebanyak 57 persen Gen Z menghabiskan lebih banyak waktu online dibandingkan offline, menjadikannya proporsi tertinggi dibandingkan kelompok usia lain yang disurvei. Selain itu, 67 persen menyebut smartphone sebagai perangkat utama untuk mengakses internet dalam aktivitas sehari-hari.
Percaya Diri di Dunia Digital, tetapi Perlindungan Masih Minim
Meski tumbuh bersama teknologi digital, penelitian menunjukkan masih ada kesenjangan antara rasa percaya diri dan kemampuan menjaga keamanan siber.Sebanyak 59 persen responden Gen Z mengaku percaya diri menggunakan layanan digital.
Namun, hanya 28 persen yang menilai kemampuan digital mereka sudah berada pada tingkat lanjut. Kesenjangan tersebut dinilai dapat membuat sebagian pengguna merasa aman saat beraktivitas di internet, meski belum memahami cara mengelola risiko keamanan digital secara memadai.
Kondisi tersebut juga tercermin dari kebiasaan menjaga keamanan perangkat. Hanya 27 persen responden Gen Z yang menggunakan perangkat lunak antivirus di smartphone mereka. Dibandingkan generasi lain, mereka juga tercatat lebih jarang mengganti kata sandi akun.
Di sisi lain, hanya 28 persen responden yang rutin mencadangkan (backup) data penting dari smartphone. Padahal, perangkat tersebut menyimpan berbagai informasi sensitif, mulai dari foto pribadi, dokumen identitas, hingga kredensial akun digital. Sebanyak 38 persen responden bahkan menganggap foto dan dokumen pribadi sebagai data paling berharga di smartphone mereka, sementara 30 persen menyebut kata sandi dan informasi login sebagai aset digital yang paling penting.
Smartphone Jadi Target, Risiko Tak Sekadar Kehilangan Perangkat
Kaspersky menilai lemahnya perlindungan perangkat dapat menimbulkan dampak yang lebih besar dibanding sekadar kehilangan smartphone.Apabila perangkat berhasil diretas, pelaku berpotensi memperoleh akses ke foto pribadi, dokumen identitas, akun email, media sosial, hingga layanan keuangan yang tersimpan di dalamnya. Karena itu, perusahaan menyarankan pengguna menjadikan keamanan siber sebagai bagian dari kebiasaan digital sehari-hari, bukan hanya dilakukan setelah terjadi insiden.
Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain menggunakan solusi keamanan untuk melindungi perangkat dari malware dan phishing, memanfaatkan pengelola kata sandi agar setiap akun memiliki password yang kuat dan berbeda, serta menggunakan VPN saat mengakses jaringan Wi-Fi publik untuk membantu melindungi data yang dikirim melalui internet.
Selain itu, Kaspersky juga memperkenalkan Case 404, sebuah game edukasi interaktif yang dirancang khusus untuk Gen Z. Melalui permainan tersebut, pengguna diajak mengenali berbagai ancaman digital seperti phishing, penipuan daring, hingga upaya pengambilalihan akun melalui skenario yang menyerupai kasus nyata.
Keakraban dengan Teknologi Belum Tentu Paham Keamanan Siber
Wakil Presiden Manajemen Produk Konsumen Kaspersky, Irina Ermilova, mengatakan tumbuh di era digital membuat Gen Z terbiasa menggunakan berbagai layanan online. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak otomatis membuat mereka memiliki kemampuan keamanan siber yang baik."Generasi Z tumbuh di dunia online, sehingga layanan digital sering kali terasa intuitif dan akrab bagi mereka. Namun, keakraban tidak boleh disamakan dengan keahlian keamanan. Mampu menggunakan aplikasi, platform, dan perangkat dengan percaya diri tidak selalu berarti mampu mengenali penipuan, mengelola kata sandi dengan aman, atau melindungi data pribadi," ujar Irina.
Ia menambahkan, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menjaga keamanan siber perlu menjadi bagian dari aktivitas digital sehari-hari, sama seperti berkirim pesan, bermain game, maupun menggunakan media sosial.
"Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan dan kebiasaan keamanan siber perlu menjadi bagian alami dari kehidupan digital sehari-hari seperti halnya berkirim pesan, bermain game, atau menggunakan media sosial," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda