Huawei menyebut adopsi AI kini meluas dari korporasi besar ke UKM, perhotelan, manufaktur, hingga pemerintah lokal berkat infrastruktur lebih sederhana dan efisien.
Huawei menyebut adopsi AI kini meluas dari korporasi besar ke UKM, perhotelan, manufaktur, hingga pemerintah lokal berkat infrastruktur lebih sederhana dan efisien.

Tak Lagi Eksklusif, UKM hingga Pemerintah Lokal Jadi Penggerak Adopsi AI

Lufthi Anggraeni • 26 Juni 2026 09:36
Ringkasnya gini..
  • Huawei menilai adopsi AI tidak lagi didominasi perusahaan besar, tetapi telah meluas ke UKM, sektor perhotelan, manufaktur, hingga instansi pemerintah lokal.
  • Perusahaan memperkenalkan infrastruktur jaringan dan komputasi terintegrasi untuk memangkas biaya implementasi AI sekaligus mempercepat proses deployment.
  • Huawei menekankan bahwa keberhasilan komersialisasi AI tidak hanya bergantung pada model AI, tetapi juga kualitas jaringan, komputasi, dan keamanan data yang terintegrasi.
Shanghai: Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kini semakin meluas dan tidak lagi menjadi domain perusahaan berskala besar. Huawei melihat teknologi tersebut mulai digunakan secara luas oleh berbagai sektor, dari usaha kecil dan menengah (UKM), industri perhotelan, manufaktur, hingga pemerintahan tingkat lokal. 
 
Rotating Chairman Huawei, David Wang, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI telah memasuki fase adopsi yang lebih matang. Menurutnya, teknologi cerdas kini hadir lebih dekat dengan aktivitas operasional sehari-hari pelaku usaha melalui berbagai aplikasi berbasis computer vision dan analitik data. 
 
Huawei mencatat penggunaan sistem kamera pintar dan solusi berbasis penglihatan komputer sudah menjadi bagian penting dalam operasional banyak UKM. Kondisi ini membuka peluang baru bagi penyedia teknologi untuk menghadirkan solusi AI lebih sederhana, terjangkau, dan mudah diterapkan. 

Seiring meningkatnya minat terhadap AI, Huawei menilai biaya investasi hardware dan kerumitan instalasi masih menjadi tantangan utama bagi banyak organisasi. Untuk menjawab persoalan tersebut, Huawei mengembangkan perangkat terintegrasi yang dirancang untuk menyederhanakan kebutuhan infrastruktur teknologi. 
 
“Dengan kemampuan bawaannya, perangkat kami memungkinkan satu perangkat untuk menggantikan empat perangkat, secara efektif mengurangi biaya keseluruhan hingga 75%,” ujar Wang pada ajang MWC Shanghai 2026.
 
Pendekatan ini ditujukan agar pelaku usaha tidak perlu membangun sistem rumit saat ingin mengadopsi teknologi AI dalam operasional mereka. Di sektor perhotelan, misalnya, satu perangkat dapat mendukung berbagai fungsi seperti layanan set-top box, akses internet, hingga pengelolaan energi lebih efisien.
 
Sistem tersebut juga dilengkapi fitur perlindungan privasi untuk meningkatkan kenyamanan pengguna. Huawei juga menyoroti pentingnya infrastruktur komputasi lokal dalam mendukung penerapan AI generatif dan model bahasa besar (LLM).
 
Perusahaan asal Tiongkok ini mengembangkan arsitektur jaringan serat optik yang dipadukan dengan kemampuan komputasi tinggi sehingga model AI dapat dijalankan langsung di lingkungan kantor atau fasilitas pelanggan. 
 
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menjalankan berbagai aplikasi AI dengan latensi rendah sekaligus menjaga data sensitif tetap berada di lingkungan internal organisasi. Dengan demikian, risiko keamanan dapat diminimalkan tanpa mengorbankan performa layanan. 
 
Huawei mengklaim kolaborasi dengan operator telekomunikasi dan mitra industri turut mempercepat proses implementasi teknologi. Jika sebelumnya proses penerapan membutuhkan waktu hingga tiga bulan, kini durasinya disebut Huawei dapat dipangkas menjadi sekitar satu bulan. 
 
Implementasi teknologi tersebut disebut telah diterapkan pada sejumlah proyek pemerintahan lokal di wilayah Sichuan, Tiongkok. Teknologi AI digunakan untuk membantu penyusunan dokumen publik, proses koreksi, hingga penyaringan konten sensitif berbasis data lokal.
 
Huawei menyebut pendekatan tersebut turut meningkatkan keandalan sistem sekaligus memperkuat keamanan data. Sedangkan di sektor manufaktur, teknologi serupa juga dimanfaatkan oleh industri tekstil dan tembakau di Fujian.
 
Penggunaan AI agent untuk fungsi keuangan, hukum, dan sumber daya manusia diklaim mampu mengurangi beban pekerjaan operasional secara signifikan. Selain perangkat dan komputasi, Huawei menilai kualitas jaringan menjadi faktor krusial dalam memastikan AI dapat beroperasi secara optimal.
 
Latensi dan kestabilan koneksi disebut memiliki dampak langsung terhadap performa aplikasi AI, termasuk efisiensi penggunaan sumber daya dan biaya operasional. Perusahaan menjelaskan bahwa gangguan jaringan atau kehilangan paket data dapat memicu proses pengiriman ulang informasi, meningkatkan latensi, dan menambah konsumsi data.
 
Karena itu, integrasi antara jaringan, komputasi, model AI, serta keamanan siber menjadi fondasi penting dalam membangun layanan AI yang andal. Untuk mendukung kebutuhan berbagai industri, Huawei mengedepankan empat aspek utama, yaitu kapasitas sistem tinggi, ketersediaan layanan yang stabil, perlindungan keamanan berlapis, serta pengaturan kualitas layanan jaringan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sektor.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA