Foto: Medcom/ Alfa Mandalika
Foto: Medcom/ Alfa Mandalika

SOC Goals: Budget, Timeline, dan Drama di APAC

Mohamad Mamduh • 04 Maret 2026 11:08
Ringkasnya gini..
  • Seperti yang disoroti Kaspersky dalam studi globalnya, banyak organisasi berencana membangun SOC untuk memperkuat postur keamanan mereka.
  • Penelitian menunjukkan bahwa tantangan membangun SOC sangat beragam.
  • Kesenjangan talenta tetap menjadi hambatan struktural.
Hong Kong: Untuk sebagian besar organisasi yang berencana membangun Security Operations Center (SOC), pertanyaannya bukan lagi apakah harus berinvestasi, melainkan apa yang diperlukan agar SOC benar-benar bisa beroperasi. 
 
Banyak perusahaan berharap dapat meluncurkan SOC dalam waktu satu tahun dengan anggaran terkendali. Sayangnya, pengalaman nyata menunjukkan perbedaan signifikan yang dipengaruhi oleh skala, tingkat kematangan, dan prioritas strategis.
 
Seperti yang disoroti Kaspersky dalam studi globalnya, banyak organisasi berencana membangun SOC untuk memperkuat postur keamanan mereka. Survei ini melibatkan profesional senior keamanan TI dari 16 negara, termasuk Singapura, Vietnam, Tiongkok, India, Indonesia, dan lainnya, dengan fokus pada perusahaan berukuran 500 karyawan ke atas yang belum memiliki SOC namun berencana mendirikannya.
 

Anggaran SOC di APAC

Rata-rata anggaran global untuk membangun SOC sekitar 2 juta USD. Di APAC, mayoritas organisasi (93%) merencanakan anggaran di bawah 1 juta USD. Namun, rata-rata anggaran di APAC justru mencapai 3,5 juta USD, lebih tinggi 1,5 juta dibanding rata-rata global.

Negara seperti Vietnam dan Tiongkok cenderung berinvestasi lebih besar, sejalan dengan fokus strategis pada kedaulatan digital dan solusi keamanan internal.
 

Timeline Pembangunan

69% perusahaan di APAC berharap SOC dapat dibangun dalam 6–12 bulan. 25% lainnya memperkirakan proyek akan berlangsung hingga dua tahun. Di Hong Kong dan Taiwan, angka serupa terlihat: 61% menargetkan 6–12 bulan, sementara 21% memperkirakan hingga dua tahun.
 

Hambatan Utama

Penelitian menunjukkan bahwa tantangan membangun SOC sangat beragam. Evaluasi efektivitas SOC (34%) menjadi tantangan utama di APAC. Biaya modal tinggi (33%) dan integrasi sistem yang kompleks (30%) juga banyak disebut.
 
Keterbatasan SDM menjadi masalah besar: 29% perusahaan menyoroti kurangnya keahlian internal, sementara 24% menyebut pasar tenaga kerja eksternal juga kekurangan talenta. Hambatan lain termasuk manajemen solusi kompleks (29%), kurangnya rencana aksi jelas (26%), dan kesulitan membangun proses internal (26%).
 
Di Hong Kong dan Taiwan, tantangan terbesar adalah Evaluasi efektivitas SOC (38%); Biaya modal besar (35%); Keterampilan mengelola solusi kompleks (32%); Kesulitan memetakan proses internal (31%)
 
“Di lingkungan bisnis Hong Kong yang cepat dan terkoneksi, biaya membangun SOC lebih terkait dengan perencanaan strategis daripada angka tetap. Biaya awal biasanya untuk teknologi dan infrastruktur, namun biaya jangka panjang terutama talenta keamanan siber akan menentukan total investasi,” kata Alvin Cheng, General Manager Greater China Region Kaspersky.
 
“Di APAC, tantangannya bukan hanya anggaran atau teknologi, melainkan kompleksitas. Pemimpin bisnis dituntut membuktikan nilai investasi dengan hasil terukur, mengintegrasikan berbagai lapisan keamanan, dan membangun proses yang bisa berkembang. Kesenjangan talenta tetap menjadi hambatan struktural,” tambah Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky.
 
Untuk membangun dan mengoperasikan SOC yang andal, Kaspersky memiliki sejumlah saran antara lain:
 
1. Kaspersky SOC Consulting untuk perencanaan awal dan peningkatan operasi.
2. Kaspersky SIEM dengan kemampuan AI untuk analisis log dan intelijen ancaman.
3. Kaspersky Next product line dengan perlindungan real-time, visibilitas ancaman, serta investigasi berbasis AI (EDR/XDR).
4. Kaspersky Threat Intelligence untuk wawasan mendalam sepanjang siklus manajemen insiden.
5. Kaspersky Managed Detection and Response serta Incident Response bagi perusahaan yang kekurangan personel khusus.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA