Tak Mau Ditinggal Pengguna, Aplikasi Harus Bisa Diandalkan
Fetra Syahbana, Country Manager F5 Indonesia.
Jakarta: Perusahaan sibuk untuk melakukan transformasi digital beberapa tahun belakangan. Di satu sisi, transformasi digital bisa membuat perusahan untuk menjadi lebih efektif dan memudahkan perusahaan menjangkau konsumennya. Di sisi lain, transformasi digital memiliki tantangan tersendiri.

Transformasi digital identik dengan pembuatan aplikasi oleh perusahaan. Menurut survei yang diadakan oleh F5 di Asia, ada beberapa faktor yang menyebabkan pelanggan berhenti menggunakan sebuah aplikasi.

Sebanyak 58 persen responden mengatakan bahwa mereka akan berhenti menggunakan aplikasi jika aplikasi itu pernah diserang dan data pribadi pengguna bocor karena serangan itu.


Sementara 55 persen mengatakan mereka benci aplikasi yang tidak bisa diandalkan, misalnya aplikasi yang mendadak terhenti setiap beberapa detik.

Sebanyak 43 persen responden membenci pengalaman penggunaan yang tidak menyenangkan. Pengalaman pengguna memang memiliki peran penting tentang pandangan pengguna terhadap sebuah aplikasi. Empat puluh persen resonden berhenti menggunakan aplikasi karena waktu loading yang lama.



Inilah salah satu masalah yang coba diatasi oleh F5. Tujuan F5 adalah untuk membantu perusahaan klien membuat aplikasi yang tidak hanya cepat, tapi juga aman dan bisa dipercaya.

Di era ekonomi digital ini, masyarakat memang semakin menggantungkan diri pada aplikasi pada smartphone miliknya.

Fetra Syahbana, Country Manager F5 Indonesia mengatakan, kini, F5 memposisikan diri sebagai perusahaan application services. Dia membanggakan, 5 operator terbesar dunia dan 10 merek terpopuler di dunia menggunakan layanan F5.

Sebagai perusahaan application services, kini F5 dapat menyasar perusahaan di berbagai industri, mulai dari telekomunikasi hingga e-commerce. Fetra menyebutkan, tren transformasi digital tidak bisa dibendung.

"Semua perusahaan berusaha pindah ke cloud. Kami akan membantu klien untuk pindah, untuk memastikan bahwa performa dan fungsi aplikasi mereka tidak berubah," kata Fetra.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.