Foto: WhatsApp
Foto: WhatsApp

UGM dan WhatsApp Ajak Perempuan Jadi Agen Literasi Digital

Teknologi media sosial teknologi facebook instagram
Lufthi Anggraeni • 02 November 2020 09:32
Jakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM) dan WhatsApp meluncurkan program pelatihan bertema “Perempuan Melawan Hoaks Politik di WhatsApp Grup dalam Pilkada 2020” untuk mendukung para tokoh komunitas perempuan di empat kota menjadi agen perubahan dalam memerangi penyebaran hoaks sepanjang Pilkada 2020.
 
Pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari hasil riset berjudul “Grup WhatsApp dan Literasi Digital Perempuan Indonesia” yang dipublikasikan awal tahun ini oleh Departemen Ilmu Komunikasi UGM.
 
Sebanyak 70 persen dari 1.250 responden perempuan mengaku memiliki hingga 10 grup WhatsApp, yang seringkali menjadi tempat di mana mereka terpapar hoaks dan disinformasi.
 
“Riset juga menunjukkan, 74 persen dari perempuan yang terpapar hoaks memilih untuk tidak menanggapi pesan meragukan yang diterima karena menghindari konflik. Padahal, kami melihat perempuan justru berkesempatan membawa perubahan dalam komunitasnya asalkan terbekali dengan pelatihan literasi digital yang tepat. Inilah mengapa kami berkolaborasi dengan WhatsApp untuk menyelenggarakan rangkaian program pelatihan ini,” kata Novi Kurnia, Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi UGM. 
 
Salah satu peserta pelatihan yang telah mendaftarkan dirinya adalah Andi Sri Wulandani, perempuan berumur 38 tahun dari Makassar. Andi pernah bekerja di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Soppeng dan kini mengepalai sebuah institusi penelitian di Makassar.
 
“Setiap orang, termasuk saya sendiri, menggunakan WhatsApp sebagai sarana komunikasi utama untuk terhubung dengan teman, keluarga, dan rekan kerja,” kata Andi.
 
“Tanpa pengetahuan dan kesadaran yang cukup, mudah bagi kita untuk terperangkap dalam informasi yang belum pasti kebenarannya. Saya yakin kita bisa bersama-sama melawan hoaks dengan upaya kolaboratif.”
 
Pelatihan ini diadakan di empat kota/kabupaten terpilih, yakni Tangerang Selatan, Mamuju, Tomohon, dan Makassar. Keempat lokasi ini diidentifikasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai daerah yang rentan konflik akibat disinformasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Di Makassar sendiri, 58 persen perempuan rata-rata menerima satu hingga tiga pesan yang menyesatkan dari grup mereka setiap harinya. Lebih dari tiga perempat isi pesan-pesan tersebut berkaitan dengan politik,” lanjut Novi, yang juga merupakan koordinator pelatihan.
 
Direktur Kebijakan Publik WhatsApp APAC Clair Deevy percaya teknologi dan peningkatan literasi digital yang baik dapat menjadi solusi atas isu ini. “Cara terbaik untuk melawan hoaks adalah menggabungkan fitur aplikasi dengan kolaborasi bersama para pendidik terbaik,” kata Deevy. 
 
“Jutaan orang di Indonesia menggunakan WhatsApp untuk berbagi kisah dan informasi dengan teman dan keluarganya. Inilah alasan kami berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pengetahuan yang tepat supaya mereka dapat lebih kritis sebelum membagikan pesan-pesan yang mereka terima.”
 
Pelatihan ini telah berlangsung tanggal 19-23 Oktober 2020, diikuti dengan sesi pendampingan hingga akhir tahun. Para peserta akan dibagi ke dalam beberapa kelompok dan menerima sesi pembinaan melalui grup WhatsApp.
 
Mereka juga akan dibekali dengan materi pembelajaran yang memudahkan mereka meneruskan apa yang sudah mereka pelajari kepada komunitas mereka kelak.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif