Dalam periode yang sama, pola serangan juga menunjukkan perubahan: pelaku tidak sekadar menyebar malware secara luas, tetapi semakin mengincar pengguna secara lebih spesifik dan berulang.
Temuan tersebut menjadi bagian dari laporan terbaru Kaspersky mengenai aktivitas ancaman seluler di Asia Pasifik. Di delapan negara yang dianalisis, rata-rata jumlah deteksi per pengguna yang terdampak meningkat 49 persen secara tahunan, dari 4,9 menjadi 7,3 deteksi per pengguna pada Q1 2026.
Indonesia Masuk Pasar dengan Volume Serangan Terbesar
Dari sisi jumlah deteksi, Indonesia bersama India berada di posisi teratas. Indonesia membukukan 15.163 deteksi, sementara India mencatat 18.187 deteksi sepanjang kuartal pertama tahun ini.Kaspersky melihat peningkatan aktivitas tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan jumlah korban. Di sejumlah negara, jumlah pengguna yang terdampak justru menurun ketika frekuensi deteksi per pengguna meningkat. Pola ini mengindikasikan bahwa satu perangkat atau individu dapat menghadapi serangan berkali-kali.
Fenomena tersebut menunjukkan perubahan strategi penjahat siber. Mereka mulai menyesuaikan kampanye dengan kebiasaan pengguna di masing-masing negara, layanan digital yang populer, serta pola penggunaan perangkat yang semakin berorientasi pada ponsel.
Phishing Makin Menyebar ke Pesan Instan
Malware bukan satu-satunya ancaman. Aktivitas penipuan seluler juga meningkat melalui promosi palsu, halaman phishing, iklan berbahaya, survei palsu, dan rekayasa sosial. Tautan phishing masih menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan.Distribusi tautan berbahaya kini tidak lagi bergantung pada email. Pesan teks, aplikasi pesan instan, media sosial, tawaran pekerjaan palsu, hingga promosi hadiah kripto ikut dimanfaatkan.
Hal yang membuat situasi semakin rumit adalah penyalahgunaan akun pesan instan yang telah diretas.
Pelaku dapat mengirim tautan berbahaya dari akun milik kontak yang sudah dikenal korban, sehingga pesan tampak lebih meyakinkan. Kredensial layanan pesan instan maupun portal pemerintahan juga dinilai bernilai tinggi karena dapat digunakan untuk pencurian identitas dan serangan lanjutan.
Dalam beberapa skenario, pengguna bahkan bisa terpapar konten berbahaya hanya dengan membuka halaman web yang telah disusupi. Rangkaian serangan tersebut dapat dimulai dari file, tautan, atau pesan yang terlihat normal sebelum berkembang menjadi kompromi perangkat.
AI Membuat Penipuan Lebih Meyakinkan
Perkembangan AI turut mengubah cara penjahat siber menjalankan penipuan. Riset Kaspersky bertajuk The Great Messaging Heist menemukan 66 persen korban meyakini AI digunakan untuk menargetkan mereka.Bentuk yang paling banyak dikenali adalah pesan yang dibuat AI sebesar 42 persen, disusul suara sintetis atau kloning 31 persen, serta gambar atau video deepfake 25 persen.
Teknologi tersebut dapat dipakai untuk menyamar sebagai orang yang dipercaya korban, termasuk anggota keluarga, lalu mendorong mereka segera mengirim uang atau memberikan kredensial.
Yang lebih mengkhawatirkan, 52 persen kasus penipuan yang berhasil berlangsung kurang dari 30 menit, dihitung sejak kontak awal sampai uang atau data pribadi berpindah tangan.
Head of Consumer Channel Asia Pasifik Kaspersky Choon Hong Chee mengatakan ancaman tersebut kini semakin sulit dikenali.
“Di seluruh wilayah Asia Pasifik, ancaman seluler menjadi semakin canggih; penjahat siber memadukan teknik serangan yang sulit terdeteksi, malware persisten, dan taktik penipuan berbasis AI untuk mengincar konsumen,” ujar Choon Hong Chee.
Ia menilai perlindungan tidak cukup hanya mengandalkan kewaspadaan pengguna.
“Seiring penipuan yang kian meyakinkan dan sulit dikenali, perlindungan diri memerlukan sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman secara proaktif, bahkan sebelum pengguna menyadari bahwa mereka sedang diserang,” tuturnya.
Cara Mengurangi Risiko di HP
Kaspersky menyarankan pengguna memeriksa keaslian aplikasi sebelum memasangnya, tidak mudah tergiur hadiah atau cashback, serta meninjau izin akses yang diminta aplikasi.Pengguna juga dianjurkan mengaktifkan autentikasi multifaktor dan memeriksa kembali tautan yang diterima melalui pesan, email, maupun media sosial.
Pembaruan sistem operasi dan aplikasi juga perlu dilakukan secara rutin. Langkah tersebut menjadi semakin penting karena serangan seluler kini bergerak ke arah yang lebih personal, sementara AI membuat penipuan terlihat semakin dekat dengan komunikasi sehari-hari.