Ilustrasi: Kaspersky
Ilustrasi: Kaspersky

Lebih dari Separuh Korban Pelecehan Digital Enggan Cari Bantuan

Mohamad Mamduh • 18 Juni 2026 16:18
Ringkasnya gini..
  • Mayoritas peserta (79%) mengakui adanya dampak psikologis seperti depresi, trauma, dan stres jangka panjang akibat pelecehan digital.
  • Tatyana Shishkova, Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky, menyoroti bahwa keheningan ini adalah masalah kritis.
  • Sekitar 13% korban di Asia Pasifik tidak mengambil tindakan apa pun. Keheningan ini juga terjadi pada saksi mata.
Jakarta: Sebuah laporan terbaru Kaspersky mengungkapkan fakta mengkhawatirkan mengenai dampak pelecehan di ruang digital yang telah merambah jauh melampaui layar perangkat. Hasil studi menunjukkan bahwa empat dari lima responden di wilayah Asia Pasifik menderita konsekuensi psikologis dan sosial yang serius, namun sebagian besar korban justru memilih untuk tidak mencari bantuan sama sekali.
 
Berdasarkan penelitian yang melibatkan 7.600 responden di 19 negara, mayoritas peserta (79%) mengakui adanya dampak psikologis seperti depresi, trauma, dan stres jangka panjang akibat pelecehan digital.
 
Di Asia Pasifik, angka ini mencapai 80%, mencakup konsekuensi sosial seperti kerusakan reputasi hingga isolasi diri. Meskipun dampaknya sangat nyata, terdapat kesenjangan pemahaman yang signifikan: hanya 59% responden di Asia Pasifik yang menyadari kerugian ekonomi, dan hanya 53% yang memahami risiko eskalasi hingga kekerasan fisik di dunia nyata.

Dampak pelecehan ini telah mengganggu stabilitas hidup para korban secara offline. Sekitar 55% korban di Asia Pasifik mengaku menjadi lebih waspada saat online, sementara 18% membatasi komunikasi dengan orang terdekat, dan 12% bahkan harus mengakhiri hubungan personal mereka. Dalam kasus yang lebih ekstrem, pelecehan digital menyebabkan 4% korban kehilangan pekerjaan dan 3% lainnya putus sekolah.
 
Ironisnya, di tengah penderitaan tersebut, sekitar 13% korban di Asia Pasifik tidak mengambil tindakan apa pun. Keheningan ini juga terjadi pada saksi mata. Sebanyak 9% saksi yang mengenal korban hanya berdiam diri. Ketidakaktifan ini bukan disebabkan oleh ketidakpedulian, melainkan ketidaktahuan: 32% responden mengaku tidak tahu cara membantu, dan 23% ragu apakah keterlibatan mereka tepat secara sosial.
 
Tatyana Shishkova, Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky, menyoroti bahwa keheningan ini adalah masalah kritis. "Seringkali korban tidak bertindak karena tidak tahu ke mana harus berpaling," jelasnya. Senada dengan itu, Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, menekankan perlunya tanggung jawab kolektif untuk menciptakan lingkungan digital yang aman.
 
Kaspersky merekomendasikan beberapa langkah perlindungan, mulai dari mempercayai insting terhadap perilaku mencurigakan, mendokumentasikan insiden, hingga memperkuat keamanan akun dengan otentikasi dua faktor.
 
Yang terpenting, masyarakat didorong untuk aktif membantu sesama dengan menawarkan dukungan atau mengarahkan korban ke sumber daya yang tepat agar penyalahgunaan teknologi tidak menjadi hal yang normal.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA