Menurut data yang dipresentasikan TikTok, jumlah tersebut setara dengan sekitar 81 persen dari total pengguna internet mobile di kawasan. Angka itu menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu wilayah dengan penetrasi TikTok tertinggi secara global.
Head of Business Marketing APAC TikTok, Ng Chew Wee, menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa TikTok telah menjadi bagian dari aktivitas digital sehari-hari masyarakat Asia Tenggara.
"Kami telah mencapai sekitar 81 persen pengguna internet mobile di Asia Tenggara. Ketika Anda mencapai 80 persen, secara praktis hampir semua orang ada di TikTok," ujar Ng Chew Wee saat membuka TikTok Apps Summit 2026.
Menurutnya, skala pengguna yang besar tersebut membuat TikTok berkembang dari sekadar platform hiburan menjadi ekosistem yang mempertemukan kreator, pelaku usaha, pengembang aplikasi, hingga pengiklan dalam satu tempat.
TikTok Klaim Jadi Platform Nomor Satu untuk Perhatian Pengguna
Selain mengungkap jumlah pengguna, TikTok juga menyoroti pentingnya perhatian pengguna atau attention sebagai mata uang baru dalam ekonomi digital.Dalam presentasinya, perusahaan mengutip hasil riset Kantar Media Reactions 2025 yang menempatkan TikTok sebagai platform nomor satu dalam kategori platform for attention. Data tersebut digunakan TikTok untuk menunjukkan kemampuannya menarik dan mempertahankan fokus pengguna di tengah semakin padatnya persaingan aplikasi digital.
Bagi platform digital, perhatian pengguna menjadi indikator penting karena berkaitan langsung dengan keterlibatan (engagement), durasi penggunaan, hingga efektivitas kampanye pemasaran.
TikTok menilai perhatian pengguna kini menjadi aset yang semakin sulit didapatkan. Di saat jumlah aplikasi dan konten digital terus bertambah, pengguna memiliki lebih banyak pilihan untuk menghabiskan waktu mereka.
Karena itu, perusahaan melihat kemampuan mempertahankan perhatian pengguna sebagai salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah platform.
Persaingan Digital Kini Bukan Lagi Soal Jumlah Pengguna
Ng Chew Wee menjelaskan bahwa era digital saat ini telah berubah. Jika sebelumnya perusahaan teknologi berfokus pada pertumbuhan jumlah pengguna, kini tantangan utamanya adalah menjaga agar pengguna tetap aktif dan terus kembali menggunakan layanan yang tersedia.Hal tersebut menjadi semakin penting karena pengguna modern berpindah dengan sangat cepat dari satu aplikasi ke aplikasi lain. TikTok melihat perhatian pengguna sebagai komoditas yang semakin bernilai di tengah banjir konten dan layanan digital yang tersedia saat ini.
Dengan basis pengguna yang telah melampaui 460 juta orang di Asia Tenggara, TikTok berupaya memanfaatkan skala tersebut untuk memperluas berbagai layanan, mulai dari konten video pendek, TikTok Shop, hingga solusi pemasaran digital bagi bisnis dan pengembang aplikasi.
Bagi TikTok, Asia Tenggara bukan sekadar pasar besar dari sisi jumlah pengguna. Kawasan ini juga menjadi salah satu wilayah dengan tingkat adopsi internet mobile yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi digital yang terus meningkat.
TikTok menilai Asia Tenggara akan tetap menjadi salah satu fokus utama pengembangan bisnis perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda